Showing posts with label Jember Fashion Carnaval. Show all posts
Showing posts with label Jember Fashion Carnaval. Show all posts

Monday, August 23, 2021

Artis di Jember Fashion Carnaval 2021

6 Gaya Pemotretan Seleb untuk Jember Fashion Carnaval 2021, Bikin Pangling

23 Agu 2021, 18:05 WIB

Tiara Andini

Jember Fashion Carnaval (JFC) jadi pionir gelaran fashion show yang menampilkan busana-busana istimewa dan kaya akan identitas lokal. Setiap tahun, kehadiran JFC selalu dinanti-nantikan, baik oleh masyarakat lokal hingga para wisatawan mancanegara.

Bahkan, JFC juga menjadi ruang ekspresi keberagaman bangsa Indonesia. Rancangan-rancangan busana yang dikenakan para modelnya mengambil unsur lokal dari berbagai daerah. Pada 2021 ini, Jember Fashion Carnaval bertajuk Virtue Fantasty.

Diselenggarakan pada Oktober mendatang, Jember Fashion Carnaval hadir dengan bertabur bintang. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu dalam akun Instagram resmi JFC @jemberfashioncarnaval, Cinta Laura terpilih sebagai The Face of JFC. Tak hanya Cinta Laura, beberapa selebriti juga akan meramaikan panggung JFC 2021.

Penampilan selebriti dalam pemotretan Jember Fashion Carnaval 2021 ini pun berhasil memukau. Dengan kostum apik khas JFC, penampilan para seleb sukses bikin pangling. Berikut 6 gaya pemotretan selebriti untuk Jember Fashion Carnaval 2021, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (23/8/2021).

  1. Pada Jember Fashion Carnaval 2021, Cinta Laura ditunjuk sebagai ikon sekaligus pengisi official soundtack.
  2. Anya Geraldine terlihat tampil memukau mengenakan kostum komodo. Busana tersebut nantinya akan dibawakan oleh Anya Geraldine di acara JFC 2021.
  3. Puteri Indonesia 2019, Frederika Alexis Cull kali ini turut kembali memeriahkan Jember Fashion Carnaval.
  4. Dengan hiasan tanduk di kepalanya dan makeup bold, membuat Luna Maya tampil maksimal.
  5. Mengenakan kostum sosok Sea Dragon dengan nuansa biru, makeup yang menghiasi wajah Tiara Andini berhasil bikin pangling.
  6. Model cantik, Dara Warganegara tampil dengan kostum dan hiasan colorful untuk JFC 2021.


Sumber :

https://surabaya.liputan6.com/read/4638944/6-gaya-pemotretan-seleb-untuk-jember-fashion-carnaval-2021-bikin-pangling

Tuesday, June 1, 2021

Tembakau Jember, Sumber Inspirasi Budaya

01 AGUSTUS 2019 18.00 WIB • 2 MENIT

    

Tembakau memang merupakan salah satu anugerah Tuhan kepada Tanah Jawa, khususnya Kota Jember. Bahkan sejak ratusan tahun yang lalu, ketika Portugis mendaratkan kaki mereka ke Bumi Nusantara, mereka telah mengenal Tanah Jawa sebagai penghasil tembakau.

Salah satu wilayah di Jawa (Jawa Timur) yang menjadi tempat perkebunan tembakau sejak masa kolonial adalah Jember. Para pengusaha Belanda berlomba-lomba mendirikan perusahaan tembakau di kota ini, salah satunya adalah Landbouw Maatschapij Oud Djember (LMOD) yang didirikan tahun 1859 oleh controleur George Bernie.

Beberapa tahun berikutnya, nama Landbouw Maatschapij Oud Djember diubah menjadi Oud Djember saja. Kisah panjang tentang historiografi tembakau di Tanah Jawa, khususnya di Jember, akan penulis ulas, pada kesempatan lain.

Kali ini penulis sedikit ingin mengulas tentang dua ikon budaya Jember yang lahir karena terinspirasi dari komoditas tembakau.


Tari Lahbako dan Musik Patrol

Nampaknya, tembakau memang menjadi anugerah Tuhan yang penuh berkah bagi masyarakat Jember. Tembakau tidak hanya sekedar sebagai komoditas utama saja, namun berikutnya menjelma sebagai inspirasi terbentuknya ikon budaya Kota Jember.

Setidaknya ada dua identitas kultural Jember yang lahir dari inspirasi tembakau. Pertama, daun tembakau mengilhami para perajin batik di Jember menjadikannya sebagai motif batik.

Kedua, aktivitas harian petani tembakau mengilhami terciptanya Tari Lahbako. Akronim “Lahbako” terambil dari kata “Lah” dan “Bako” yang artinya adalah mengolah tembakau.

Tari tersebut diciptakan pada tahun 1980-an atas prakarsa Kolonel Suryadi Setiawan, yang menjabat Bupati Jember kala itu, tokoh masyarakat, dan beberapa seniman yang terlibat sebagai inisiator.

Mereka mengundang Bagong Kussudiardja, seorang koreografer dan pelukis Indonesia terkemuka untuk datang ke Jember. Dari situlah akhirnya Tari Lahbako tercipta berdasarkan pengamatan Bagong Kussudiardja dan para inisiator terhadap aktivitas para buruh tembakau mulai dari saat bekerja di ladang, hingga ketika mereka bekerja di gudang.

Tari Lahbako biasa diiringi dengan alat musik kendang, seruling, dan alat musik dari bambu. Perpaduan alat-alat musik itulah yang disebut sebagai musik patrol, yang juga khas Jember.


Batik Jember

Jika ngobrol mengenai batik, tentu tidak lepas dari Jogja, Solo, atau Pekalongan sebagai kota-kota pusat kerajinan batik. Siapa sangka, meskipun tidak sepopuler tiga kota tadi, Jember ternyata memiliki tradisi kerajinan batik dengan motif yang unik dan khas.

Tembakau, kopi, dan coklat, sebagai tanaman komoditas andalan Jember menginspirasi para perajin batik Jember untuk menjadikannya sebagai motif karyanya.

Selain tiga motif itu, pengrajin batik Jember adakalanya juga menggunakan motif gambar buah naga dan burung. Namun di antara motif-motif tersebut, batik bermotif tembakau atau Batik Labako adalah motif yang dominan digunakan sebagai ikon Batik Jember.

Produk kerajinan batik Nusantara yang terkenal umumnya bermotif Keraton, Parang Rusak, Mega Mendung, Kawung, dan lain sebagainya.

Pemilihan tembakau dan tanaman komoditas lainnya sebagai motif, tentu membuat batik Jember keluar dari pakem motif batik pada umumnya.

Di Jember, setidaknya terdapat dua lokasi yang terkenal sebagai sentra kerajinan Batik khas Jember.

Pertama, sentra kerajinan batik yang terletak di Desa Sumberpakem Kecamatan Sumberjambe. Di sini, kerajinan batik telah berlangsung turun-temurun. Motif batik yang dikembangkan di sentra ini adalah batik bermotif tembakau atau Batik Labako.

Kedua, Rumah Batik Rolla yang terletak di Jl. Mawar, Kelurahan Jember Lor Kecamatan Patrang. Sentra batik yang dikelola oleh Iriane Chairani Megahwati ini memproduksi dan mengembang aneka ragam corak dan motif batik khas Jember, serta terobsesi untuk mewujudkan Kampung Batik Jember.

Batik Jember selain tidak luput diperagakan dalam Jember Fashion Carnival (JFC) juga pernah go international dalam peragaan busana di Paris Fashion Week 2018.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/08/01/tembakau-jember-sumber-inspirasi-budaya

Monday, January 27, 2020

Tiara Anugrah Indonesian Idol asal Jember

Tiara Anugrah Eka Setyoandini adalah kontestan Indonesian Idol asal Jember yang mempunyai suara emas dan didukung penampilan menarik menjadi daya tarik sendiri. Tiara adalah gadis berusia 17 tahun tersebut berhasil menarik perhatian kelima juri adalah putri cantik dari pasangan Deddy Nugroho dan Yoshida Setyoastri.

Saat mengikuti audisi Indonesian Idol, Tiara mendapat titanium tiket dari Judika.

Suaranya mirip dengan Raisa Andriana, merdu dan lembut. Tak hanya bersuara merdu, gadis asal Jember ini juga memiliki paras yang cantik. Selain bersuara emas, gadis asal Jember ini juga memiliki paras cantik dan imut.

Penampilan Tiara saat Indonesian Idol 2020 dalam babak Spektakuler Show Top 8 sempat meng-ambyarkan panggung hingga menjadi Trending. Yaitu saat menyanyikan lagu Pamer Bojo yang dipopulerkan Didi Kempot.

Terlebih saat menyanyikan lirik yang fenomenal yakni cendol dawet.

Anang Hermansyah, juri Indonesian Idol yang juga berasal dari Jember mengakui Tiara sebagai penyanyi bibit unggul dari kota suwar-suwir. Ari Lasso bahkan tak segan memuji Tiara memiliki kekuatan yang selalu bisa masuk ke dalam mood lagu yang dibawakan.

Dengan penampilan Tiara yang begitu memukau, sehingga tidak heran jika dirinya termasuk dalam deretan kontestan yang mendapatkan vote tertinggi. Berawal dari hobi di bidang tarik suara sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK), kini Tiara berhasil tampil di Indonesian Idol.

Tiara saat ini masih berusia 18 tahun dan bersekolah di sebuah SMA di Jember. Tiara pernah sekolah di SD Al Furqan Jember. Tiara juga merupakan pelajar alumni SMP Negeri 3 Jember Jawa Timur.


Tiara Anugrah juga kerap mengikuti beberapa ajang kompetisi menyanyi. Tiara juga kerap mencover lagu-lagu favoritnya melalui youtube channelnya. Sebagai warga Jember tentunya tidak heran jika Tiara juga sempat meramaikan ajang Jember Fashion Carnival.


Sumber :
https://surabaya.liputan6.com/read/4108088/7-pesona-tiara-anugrah-kontestan-indonesian-idol-asal-jember-yang-curi-perhatian
https://www.matamata.com/life/2020/01/15/213000/ambyarkan-indonesian-idol-sampai-trending-5-pesona-tiara-anugrah-idol-2020
https://surabaya.tribunnews.com/2019/12/16/biodata-tiara-anugrah-kontestan-indonesian-idol-2020-dari-jember-yang-disebut-ari-lasso-memikat-hati?page=all.
https://akurat.co/hiburan/id-959094-read-hobi-nyanyi-sejak-tk-hingga-dipuji-juri-5-fakta-menarik-tiara-anugerah-indonesian-idol

Monday, November 25, 2019

80 Kostum Unik di Lippo Village Festival

Peragaan 80 Kostum Unik di Lippo Village Festival Angkat Budaya Lokal


JawaPos.com – Indonesia adalah negara yang kaya dengan busana adat dan budaya. Dalam ajang Jember Fashion Carnaval (JFC) yang mengusung tema Tribal Grandeur di Lippo Village Festival, sebanyak 80 kostum unik ditampilkan dan dibawakan untuk mengusung keagungan busana Indonesia dan dunia.

Lebih dari 80 kostum unik dibawakan oleh model dewasa dan juga anak-anak dari JFC Kids yang mewakili budaya Indonesia seperi Garuda, Hudog, dan yang lainnya. Mereka juga memperlihatkan kostum dari suku-suku negara lain seperti Aztec dari Meksiko, Karen dari Thailand, dan Viking dari Norwegia.

”JFC sengaja kami hadirkan di Provinsi Banten untuk pertama kalinya untuk mempromosikan festival budaya. JFC sendiri sudah dikenal di dunia melalui prestasinya,” kata Chief Executive Director (CEO) PT. Lippo Karawaci John Riady.

Event Director JFC Intan Ayundavira menjelaskan banyak cara untuk memperkenalkan kostum daerah kepada milenial. JFC selama ini menjadi salah satu karnaval yang telah mendapatkan pengakuan.

“Kami ingin membuat masyarakat lebih mengenal budaya Indonesia dan budaya negara-negara lain yang kami tampilkan dalam kemasan karnaval yang menarik,” tutupnya.


Sumber :
https://radarjember.jawapos.com/2019/11/26/peragaan-80-kostum-unik-di-lippo-village-festival-angkat-budaya-lokal

Wednesday, August 7, 2019

Jember Fashion Carnaval Bersama Cinta Laura dan Puteri Indonesia


Cinta Laura dan Puteri Indonesia 2019 Tutup Jember Fashion Carnaval

Grand Carnaval Jember Fashion Carnaval (JFC) ke 18 tahun 2019, ditutup dengan iring-iringan mobil hias dari artis Cinta Laura Kiehl dan Putri Indonesia 2019 Frederika Alexis Cull. Bupati Jember Faida didampingi desainer Anne Avantie juga turut dalam pawai mobil hias tersebut.

Iring-iringan mobil hias itu diawali dari Bupati Jember Faida bersama Anne Avantie. Keduanya naik kendaraan roda empat yang dihias serupa candi. Belasan model yang berbalut busana rancangan Anne mengikuti di belakang mereka. Para model tersebut memakai busana yang merupakan persembahan khusus Anne untuk Dynand Fariz.

Iring-iringan mobil hias selanjutnya dinaiki oleh Putri Indonesia 2019 Frederika Alexis Cull yang menggunakan busana Bird of Paradise. Busana tersebut pernah dipakai oleh Puteri Indonesia 2018 Sonia Fergina saat mengikuti Miss Universe di Bangkok. Frederika memakai busana lengkap dengan hiasan kepala berbentuk burung Cendrawasih. Mobil yang dinaikinnya pun dihias berbentuk burung dari Papua tersebut.

Menyusul berikutnya ada artis Cinta Laura yang menjadi brand ambassador Jember Fashion Carnaval. Cinta berbalut kostum bertema Dayak.

Menjadi duta JFC, Cinta panggilan akrabnya, tak henti-hentinya melambaikan tangan, menyapa dengan setiap penonton JFC sepanjang runway sejauh 3,6 kilometer itu. Bintang film dan sinetron itu menaiki mobil hias paling terakhir berbentuk mahkota khas Viking.

"Senang sekali melihat artis Cinta Laura dari dekat. Orangnya tidak sombong, dan kalau dipanggil melambaikan tangannya," kata salah seorang penonton Desi saat ditemui di arena JFC, Minggu (4/8/2019).

Pada barisan terakhir juga ada iring-iringan Volunter JFC, dan official pendukung sembari membawa spanduk bertuliskan Tribute for Dynand Fariz. Juga ada tulisan pelaksanaan JFC ke 19 pada tahun mendatang, yang tepatnya direncanakan pada 6 - 9 Agustus 2020.

Dynand Fariz merupakan presiden Jember Fashion Carnaval. Sang presiden Jember Fashion Carnaval menghembuskan napas terakhirnya di RS Jember Klinik, Rabu (17/4/2019) pagi. Pria yang meninggal dunia di usia 55 tahun ini memang identik dengan acara karnaval yang melibatkan ratusan seniman setiap tahunnya.


Sumber :
https://wolipop.detik.com/fashion-news/d-4652164/cinta-laura-dan-puteri-indonesia-2019-tutup-jember-fashion-carnaval
https://surabaya.tribunnews.com/2019/08/04/cinta-laura-kiehl-tampil-dalam-kostum-hudoq-di-jfc-18

Thursday, August 1, 2019

Pemerintah Sepakat Jaga JFC sebagai Aset Budaya

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. menyatakan Pemerintah Kabupaten Jember bersepakat untuk menjaga warisan Dynand Fariz untuk menjadi salah satu aset budaya dan daya tarik wisata Indonesia, khususnya Jember.

Hal ini disampaikan oleh Bupati ketika membuka rangkaian acara Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-18 yang berlangsung di Jalan Sudarman Jember, Rabu, 31 Juli 2019

“Saya Faida, Bupati Jember, berjanji atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Jember, akan terus menjaga dan mendukung JFC untuk terus terselenggara,” kata Bupati.

Bupati menyampaikan, Dynan Fariz memang sudah berpulang. Tetapi, Pemerintah Kabupaten Jember telah berkomunikasi dengan pemerintah provinsi, bahkan Presiden Jokowi, bersepakat menjaga JFC untuk menjadi salah satu aset budaya dan daya tarik wisata bangsa.

Prestasi-prestasi JFC menunjukkan bahwa Jember telah lebih dulu mengawali transformasi struktural. Dunia telah bergeser kepada pergeseran dunia perdagangan, pelayanan jasa, dan industri, “Oleh karenanya, industri kreatif di JFC ini perlu dipertahankan dan kita terus kembangkan,” tandasnya.

Bupati juga menyampaikan bela sungkawa atas berpulangnya Presiden JFC, Dynand Fariz, ke pangkuan illahi. “Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengharumkan nama Jember dimana nasional bahkan internasional,” tutur Bupati.

JFC ke- 18 ini, lanjut Bupati, pertama kali tanpa alm. Dynand. “Namun semangatnya akan kita teruskan,” Bupati.

Ketua Yayasan JFC, Budi Setiawan, dalam kesempatan yang sama mengajak masyarakat Jember untuk menjad tuan rumah yang baik dan bergembira. “Mari kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan tamu untuk menyaksikan pergelaran even JFC,” ujar Budi.

Kegiatan JFC International Event tahun 2019, jelasnya, meliputi Pets Carnival, Kids Artware Carnival, Wonderful Archipelago Indonesia, dan Grand Carnival.


Sumber :
http://www.jemberkab.go.id/pemerintah-sepakat-jaga-jfc-sebagai-aset-budaya/

Sunday, August 14, 2016

Agustusan 2016 di Jember




1. Tuan Rumah Karnaval Se-ASEAN
Jember akan menjadi tuan rumah dalam gelaran karnaval yang bertaraf  internasional dengan tema "2016 Wonderful Archipelago Carnaval Indonesia", dengan di ikuti oleh 10 negara di Asia Tenggara, yang akan digelar pada hari Selasa, 23 Agustus 2016.

Kementerian Pariwisata dengan bidang Ekonomi Kreatif menobatkan kota Jember sebagai Kota Karnaval.



2. MATA NAJWA ON STAGE  (Live Di Jember)

Mata Najwa On Stage akan live di Stadion Jember Sport Garden (JSG) pada hari Sabtu, tanggal 27 Agustus 2016, dengan narasumber Presiden RI, Ir. Joko Widodo, beberapa Menteri, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur serta Seluruh Bupati/Walikota Se -Jawa Timur.




3. Kunjungan Presiden RI Joko Widodo
Presiden Jokowi ke Jember pada hari Sabtu, tanggal 27 Agustus 2016.


4. Jember Fashion Carnival (JFC)

Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-15 yang akan digelar pada 24-28 Agustus 2016. Jember Fashion Carnaval memasuki tahun ke 15 dengan tema utama REVIVAL ( Kebangkitan Indonesia di berbagai bidang ) dengan sub tema Garuda, Hortus, Technocyber, Woods, Paradisaea, Refugees, Ocean, Chandelier, Olympic dan Barong.



Sumber :
http://www.jemberbagus.com/2016/08/jember-duwe-gawe-serangkaian-acara-di.html
http://www.jemberfashioncarnaval.com/main.php

Sunday, August 30, 2015

Defile Reog dalam Jember Fashion Carnaval 2015

Puteri Indonesia 2015 Terpukau Defile Reog di JFC


Defile karnaval JFC ke-14 adalah Majapahit, Ikebana, Fossil, Melanesia, Circle, Pegasus, Lionfish, Egypt, Parrot, dan Reog.

Defile Majapahit menjadi defile termegah dalam puncak karnaval (grand carnival) Jember Fashion Carnaval (JFC) International Event ke-14, Minggu (30/8/2015). Kemegahan itu tergambar dari pilihan warna yang dipakai defile ini.

Ditambah lagi, tiga segmen yang mewarnai defile pembuka puncak karnaval ini. Ketiga segmen itu adalah segmen pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada, kemudian diikuti oleh kelompok Raja Majapahit Hayam Wuruk, dan terakhir penampilan talent JFC yang tergabung dalam keluarga kerajaan alias the royal family.

Tema Majapahit menjadi pembuka grand carnival itu mewakili peradaban nusantara. Berbeda dengan JFC sebelumnya, yang hanya mengambil satu defile dari Indonesia, kini JFC menempatkan dua defile.

Jika Majapahit menjadi pembuka, maka Reog menjadi defile penutup atau defile ke-10. Penampilan Reog tidak kalah 'wah' dari Majapahit. Jika Majapahit bergerak anggun, maka Reog bergerak dinamis.

Penampilan talent dalam defile Reog itu memukai Putri Indonesia 2015 Anindya Kusuma Putri. "Saya suka Reog, bagus sekali, menampilkan kesenian tradisional Indonesia," ujarnya usai melihat grand carnival JFC.



Sumber :
http://surabaya.tribunnews.com/2015/08/30/puteri-indonesia-2015-terpukau-defile-reog-di-karnaval-busana-jember

Thursday, August 27, 2015

JFC Kids

Kenalkan Kekayaan Warisan Budaya Bangsa

Jember Fashion Carnival (JFC) International Event ke-14, secara resmi telah dibuka. Acara yang memiliki catwalk terpanjang di seluruh dunia tersebut, Kamis (27/8/2015), menyuguhkan peragaan busana dengan model anak-anak yang dikemas dalam JFC Kids.

“Ada 440 talent anak-anak yang mengikuti event JFC Kids,” ungkap President JFC, Dynand Fariz, usai acara Carnaval Conference.

Menurut Fariz, anak- anak yang menjadi talen JFC Kids rata-rata duduk di bangku sekolah dasar. “Usianya cukup bervariasi, ada yang masih 4,5 tahun, dan ada juga yang duduk di bangku SD,” terangnya.

Untuk busana anak-anak tersebut, sama dengan peserta dari kategori dewasa. “Ada 10 defile yakni Majapahit, Ikebana, Pegasus, Lionfish, Parrot, Egypt, Circle, Fossil, Melanesia, dan Reog,” kata Fariz.

Khusus untuk Reog, lanjut Fariz, dirinya ingin mengenalkan kekayaan bangsa kepada peserta anak- anak. “Jadi kita ingin mengenalkan warisan budaya bangsa ini sejak dini kepada anak- anak,” pungkas Fariz.

Salah satu orang tua peserta JFC Kids, Rachmanto, mengaku senang karena anaknya bisa tampil dalam acara bertaraf internasional tersebut. “Memang kemauan anaknya, jadi saya dorong saja. Kegiatan seperti ini juga akan berdampak untuk membangun mental anak,” katanya.

Penulis : Kontributor Jember, Ahmad Winarno
Editor : I Made Asdhiana


Sumber :
http://travel.kompas.com/read/2015/08/28/071156427/JFC.Kids.Kenalkan.Kekayaan.Warisan.Budaya.Bangsa?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Wednesday, August 26, 2015

Jember Fashion Carnaval (JFC) 2015 - Out Frame

JFC-14 "OUTFRAME", AUGUST 26-30, 2015 
JEMBER, EAST JAVA - INDONESIA


Mengambil tema "Out Frame", penggagas Jember Fashion Carnaval (JFC) Dynand Fariz mengatakan bahwa karnaval busana tersebut akan digelar dengan konsep baru.

"Dengan tema Out Frame kami mencoba membuka sesuatu yang konvensional untuk diciptakan di luar batas," kata dia, di Jakarta, Selasa.

"Kami menyelenggarakan dengan konsep baru di mana dalam gelaran JFC tahun ini terdapat exibition mulai dari tanggal 25-30 Agustus," sambung dia.

Secara teknis, Dynand mengatakan, dalam penyelenggaraannya, JFC akan menggunakan tribune untuk VIP. Sementara itu, dari segi kostum, JFC 2015 memiliki 10 tema, antara lain Majapahit, Ikebana, Fosil, Pegasus, Circle, Egypt, Melanisia dan Reog.

Lebih lanjut, Dynand menjelaskan bahwa gelaran JFC akan menyajikan parade busana selama empat hari, diantaranya parade karnaval anak pada 27 Agustus yang diikuti 450 anak usia 4,5 tahun hingga 12 tahun.

Lebih dari itu, Jember Fashion Carnaval tidak hanya menghadirkan karnaval asli Jember, namun juga karnval busana dari daerah lain, seperti Bali dan Kalimantan.

"Tanggal 29 akan ditampilkan karnaval dari provinsi-provinsi lain, jadi kalau mau nonton karnaval real-nya ya harus datang ke daerah asal," kata Dynand.

Dengan penyelenggaraan tahun lalu yang berhasil mendatangakan 400-500 ribu penonton, Dynand memperkirakan JFC 2015 akan ditonton lebih dari 500 ribu orang.

Pelaksanaan JFC juga tak luput dari pantauan media. Dynand menyebutkan terdapat 3.711 media, termasuk kantor berita dunia, yang mendaftar untuk meliput JFC 2015.

"Kami selalu berusaha menemukan inovasi-inovasi baru di setiap tahunnya, dari sisi kostum, detail, hingga karakter treatrikal, pokoknya kami menjanjikan sesutau yang berbeda dari tahun kemarin," ujar Dynand.


Ada Yang Baru di Jember Fashion Carnaval 2015  

Mengambil tema "Out Frame", penggagas Jember Fashion Carnaval (JFC), Dynand Fariz, mengatakan bahwa karnaval busana tersebut akan digelar dengan konsep baru. "Kami mencoba membuka sesuatu yang konvensional untuk diciptakan di luar batas," kata dia, di Jakarta, Selasa 4 Agustus 2015.

"Kami menyelenggarakan dengan konsep baru di mana dalam gelaran JFC tahun ini terdapat exibhition mulai dari tanggal 25-30 Agustus," sambung dia.

Dynand mengatakan, dalam penyelenggaraannya, JFC akan menggunakan tribune untuk VIP. Sementara itu, dari segi kostum, JFC 2015 memiliki 10 tema, antara lain Majapahit, Ikebana, Fosil, Pegasus, Circle, Egypt, Melanisia dan Reog.

Lebih lanjut, Dynand menjelaskan bahwa gelaran JFC akan menyajikan parade busana selama empat hari, diantaranya parade karnaval anak pada 27 Agustus yang diikuti 450 anak usia 4,5 tahun hingga 12 tahun.

Lebih dari itu, Jember Fashion Carnaval tidak hanya menghadirkan karnaval asli Jember, namun juga karnval busana dari daerah lain, seperti Bali dan Kalimantan.

"Tanggal 29 akan ditampilkan karnaval dari provinsi-provinsi lain," kata Dynand.

Dengan penyelenggaraan tahun lalu yang berhasil mendatangakan 400-500 ribu penonton, Dynand memperkirakan JFC 2015 akan ditonton lebih dari 500 ribu orang.

Pelaksanaan JFC juga tak luput dari pantauan media. Dynand menyebut, terdapat 3.711 media, termasuk kantor berita dunia, yang mendaftar untuk meliput JFC 2015.

"Kami selalu berusaha menemukan inovasi-inovasi baru di setiap tahunnya, dari sisi kostum, detail, hingga karakter treatrikal, pokoknya kami menjanjikan sesuatu yang berbeda dari tahun kemarin," ujar Dynand.


Sumber :
http://www.jemberfashioncarnaval.com/main.php
http://www.antaranews.com/berita/510598/intip-jember-fashion-carnaval-2015
http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/08/05/090689317/ada-yang-baru-di-jember-fashion-carnaval-2015

Thursday, July 2, 2015

Agustusan di Jember

Melihat jadwal acara Agustusan jadi kepengen segera mudik pas Lebaran nanti, sayangnya acara belum pas mudik nanti. Ya, setidak-tidaknya meski ga ikut acara bisa lihat di sosial media, sudah cukup lah mengobati.


Jadwal Kegiatan AGUSTUSAN di Jember

25 Juli 2015 19.00
Launching
Alun-alun
JemberArtis:
- Budi Doremi
- Citra Scholastika
- Cita Citata
-Wandra
- Suliana

26 Juli 2015 06.00
Jember 100 Km and Funbike
Start/Finish: Alun-alun Jember
-Kelas 100 Km- Kelas 25 Km

1 – 2 Agustus 2015 07.00
Jember Adventure Trail (JERAT)
Start/Finish :Alun-alun Jember

1 – 2 Agustus 2015
Drag Bike
Jl. Gajah Mada (Depan BCA)
8 Agustus 2015 10.00
Gerak JalanTanggul-Jember Tradisional (TAJEMTRA)
Start : Alun-alun Tanggul
Finish : Alun-alun Jember

15-16 Agustus 2015
Downhill Seri Nasional
Rembangan

15 Agustus 2015
Jambore Motor Besar
Balai Serbaguna GOR Kaliwates

16 Agustus 2015
Jambore Motor Kecil
Balai Serbaguna GOR Kaliwates

23-24 Agustus 2015
Airshow
Watu Ulo dan Papuma
- Paramotor
- Gantole/trike

23-24 Agustus 2015
Jember Beach Game
Watu Ulo
-Tarik Tambang
-Bentik/patil lele
-Festival Layang
-layang hias

24-25 Agustus 2015
WACI :: Wonderful Archipelago Carnival Indonesia
Alun-alun Jember

26-30 Agustus 2015
JFC :: Jember Fashion Carnaval
Alun-alun Jember

24-30 Agustus 2015
Pameran Batu Akik dan Pameran Origami
Alun-alun Jember


Sumber :
https://www.facebook.com/100.KOber/photos/a.256333541093110.65008.250213838371747/1025189514207505/?type=1

Wednesday, January 28, 2015

Kostum The Chronicle of Borobudur

Kostum The Chronicle of Borobudur buatan Presiden Jember Fashion Carnival - Dynand Fariz - Menang di Ajang Miss Universe


TANGIS bahagia Dynand Fariz tak terbendung saat tahu kostum nasional Indonesia menjadi yang terbaik di Miss Universe. Pasalnya, Dynand merupakan sosok di balik kostum tersebut.

Dynand Fariz pertama kali tahu menang ketika dihubungi langsung pihak Yayasan Puteri Indonesia (YPI). Presiden Jember Fashion Carnaval ini mengaku terkejut karenanya.

“Iya, saya masih shock. Baru saja dihubungi pihak Yayasan Puteri Indonesia (YPI), yang memonitor di final Miss Universe, kalau kostum saya menang sebagai Best National Costume,” katanya sambil menangis bahagia kepada Okezone melalui sambungan telefon, Senin (26/1/2015).

Dynand sebelumnya sangat optimistis bisa menang. Kemenangan ini menambah sederet prestasi Dynand yang luar biasa di kancah internasional.

“Ke depannya saya berharap semoga Indonesia bisa ditakuti dalam ajang kostum nasional, dan kita harus menjadi pemimpinnya. Dengan kekayaan pesona alam dan segala macam budaya negara kita, banyak yang bisa diangkat. Seperti keajaiban dunia, Borobudur, yang saya jadikan kostum untuk Elvira memang berkelas di mata dunia,” timpalnya.

Dynand membuat kostum untuk Elvira Devinamira dengan tema “The Chronicle of Borobudur” untuk ajang Miss Universe. Sesuai temanya, kostum tersebut memiliki detail Candi Borobodur, yang terbuat dari berbagai material. Secara keseluruhan, kostum tersebut memiliki berat sebesar 20 kilogram.

“Saya juga ingin berterima kasih kepada para pendukung yang telah mem-vote kostum nasional Indonesia sehingga menghantarkan Elvira menjadi pemenang Best National Costume di Miss Universe,” tutup Dynand Fariz dengan bangga.

Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira meraih gelar busana nasional terbaik di ajang kontes kecantikan ratu sejagad, pada 26 Januari 2015 di Florida International University, Doral, Miami, Amerika Serikat.

Ini menjadi prestasi yang bisa mengobati kekecewaaan Elvira yang langkahnya terhenti, setelah tidak masuk 10 besar Miss Universe, melainkan hanya lolos 15 besar.

Bahan kostum tersebut terbuat dari tafeta sutra dan dipadukan dengan motif songket. Dari bahan itu, dibuatlah relief Candi Borobudur serta diberi detail manik-manik dan kristal. (Baca: Puteri Indonesia Pakai Baju 20 Kg di Miss Universe)

Untuk melengkapi penampilan, ada rangka membentuk stupa dengan berat sekitar lima kilogram yang dipasangkan pada bagian punggung. Pengerjaan kostum ini dilakukan Dynan sejak September 2014 dengan melalukan riset selama sebulan.

Busana Borobudur yang dikenakan Elvira ini mengalahkan empat negara lainnya yang sebelumnya terpilih sebagai lima kostum nasional terbaik. Negara yang berhasil dikalahkan Indonesia adalah Argentina, Kanada, Jerman, dan India.

Tahun ini, dua wakil Indonesia meraih best national costume dalam kontes kecantikan internasional. Elfin Pertiwi yang meraih gelar best national costume dalam kontes Miss International 2014 dengan kostum Tale of Siger Crown asal Lampung. Dan Estelita Liana dalam kontes Miss Supranational 2014 dengan kostum Warrior Princess of Borneo.

Pria lulusan ESMOD ini merasa semua kostum yang didesainnya pada ajang kontes kecantikan mempunyai tingkat kerumitan tersendiri. "Tiap kostum ada cerita pembuatannya, jadi tingkat kesulitannya juga berbeda-beda. Yang jelas bikin kostum ini nggak boleh asal-asalan karena kita membawa nama Indonesia," paparnya lagi.

Dengan terpilihnya Indonesia sebagai pemenang kostum nasional terbaik pada ajang Miss Universe 2014, Dynand berharap Indonesia menjadi negara yang paling disegani dari sisi kostum nasional oleh negara lainnya. Hal ini pulalah yang membawa pelajaran berarti untuknya, yakni dalam mendesain kostum tidak boleh sembarangan, selalu mematangkan konsep, memperkaya detail dan menunjukkan penampilan yang kuat.

"Kalau aku pribadi harapannya ke negara, kita punya museum karnaval di Jember. Jadi bisa menyimpan semua kostum-kostum yang pernah menang dalam kontes. Semoga saja bisa menjadi salah satu destinasi wisata terbaru," tutupnya.


Sumber :
http://lifestyle.okezone.com
http://www.tempo.co
http://wolipop.detik.com

Saturday, August 23, 2014

Jember Fashion Carnival 2014

Jika tahun 2013 lalu, saat mudik ke Jember aku masih sempat melihat secara langsung persiapan Jember Fashion Carnival 2013, namun sayangnya untuk tahun ini aku tidak dapat menyaksikan seluruh pergelaran apik dari Jember Fashion Carnival 2014.



Dengan motto "Sebab kebudayaan itu sendiri selalu berawal dari ketiadaan", acara Jember Fashion Carnival 2014 dilangsungkan selama 5 hari, yaitu mulai dari tanggal 20 Agustus 2014 hingga berakhir pada puncaknya tanggal 24 Agustus 2014.

Ajang tahunan yang diprakarsai oleh desainer Dynand Fariz ini diadakan untuk membuat Kota Jember, Jawa Timur, sebagai pusat karnaval dan pusat fashion di Indonesia. 

Dalam keterangan yang dirilis via Twitter, Jember Fashion Carnaval XIII akan mengusung tema TRiANGLE, Dynamic in Harmony dan akan menampilkan 10 (sepuluh) defile dengan berbagai tema yang telah ditentukan oleh penyelenggara JFC. Kesepuluh tema tersebut adalah:

Mahabharata
Borobudur (Archipelago Defile)
Tabora (Sumba Mountain)
Phoenix (Firebird & Fantasy)
Wild Deer (Unique Thorn)
Stalagmite (Unique Nature Ice Phenomenon)
Flying Kite (Colorful Kite Festival)
Apache (Exotic Ethnic Indian Tribe Tents)
Pine Forest (Wonderful Tree Texture)
Chemistry (Atractive Color and Dance Party)


Jember Fashion Carnaval XIII akan diikuti oleh berbagai pelaku industri kreatif, penggemar dunia fashion dan berbagai sekolah mode yang akan turut berpartisipasi dalam pelaksanaan Jember Fashion Carnival. Catwalk yang akan digunakan untuk menampilkan arak-arakan karnaval fashion ini merupakan jalan utama Kota Jember sepanjang 3,6 kilometer.


http://www.jemberfashioncarnaval.com
http://www.internationalcarnivalinstitute.com
https://www.facebook.com/pages/Jember-Fashion-Carnaval
http://www.triptrus.com

Wednesday, August 14, 2013

Jember Fashion Carnaval 2013


Hari Senin, tanggal 12 Agustus 2013, ada kegiatan istimewa. Siang ini mulai pukul 12.00 ada penilaian kostum untuk acara Jember Fashion Carnaval 2013. Bertempat di studio Dynand Faris yang berlokasi di Perumahan Gunung Batu, Jember.

Ini semua demi persiapan yang matang sebelum menggelar JFC International Event 2013, yang akan digelar pada 20-25 Agustus 2013 mendatang. Karena kota Jember, akan menjadi pusat perhatian dunia. 

Dimana nantinya sebanyak 2066 photografer baik dari media elektronik dan cetak, baik lokal maupun internasional akan hadir dan sudah teregistrasi akan datang.





Info lebih lengkap silahkan klik jemberfashioncarnaval.com



Thursday, August 1, 2013

Jadwal Acara Berkunjung Jember 2013

Berikut adalah panduan bagi yang mau mudik dan tidak mau ketinggalan Acara Berkunjung Jember 2013 



Sumber : cintajember.com/ 

Tuesday, May 21, 2013

Jember Fashion Carnaval


Jember Fashion Carnaval (Indonesia: Karnaval Busana Jember) atau sering disebut JFC adalah sebuah even karnaval busana yang setiap tahun digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Karnaval ini digagas oleh Dynand Fariz yang juga pendiri JFC Center.

Sebanyak 400 an peserta berkarnaval, berfashion run way dan dance, di jalan utama kota Jember disaksikan oleh ratusan ribu penonton di kanan dan kiri jalan. Mereka terbagi dalam 8 defile yang masing-masing defile mencerminkan tren busana pada tahun yang bersangkutan. 



Defile pertama adalah defile Archipelago yang mengangkat tema busana nasional dari daerah tertentu secara berkala seperti Jawa, Bali, Sumatera, dan seterusnya. Defile lainnya mengangkat tema fashion yang sedang trend apakah dari suatu negara, kelompok tertentu, film, kejadian atau peristiwa global lainnya. Semua busana dibuat dalam bentuk kostum yang kesemuanya dikompetisikan untuk meraih penghargaan-penghargaan.

Arena yang digunakan untuk menggelar JFC adalah jalan utama Kota Jember sepanjang 3,6 kilometer.



Berdirinya Rumah Mode Dynand Fariz sebagai realisasi dari keinginan Dynand Fariz sebagai pendidik di bidang fashion tidak hanya memahami teori saja tetapi juga terjun langsung sebagai praktisi sehingga tahu persis keadaan di lapangan.

Dimulainya acara Pekan Mode Dynand Fariz dimana seluruh karyawan selama sepekan harus berpakai sesuai dengan trend fashion dunia. Dimulainya acara pekan Mode Dynand Fariz dengan berkeliling kampung dan alun-alun Jember menjadi inspirasi tmbulnya gagasan untuk menyelanggarakan JFC.



1 Januari 2001, JFC yang pertama diselenggarakan bersamaan dengan HUT Kota Jember.

Sumber : wikipedia.org

Saturday, March 23, 2013

Dynand Fariz


Kesuksesan Jember Fashion Carnaval (JFC), tak lepas dari sosok Dynand Fariz. Fariz ternyata pelopor sekaligus Presiden JFC Center. Event yang diciptakan alumnus IKIP Negeri (sekarang Universitas Negeri Surabaya / Unesa) ini, telah mengubah Kabupaten Jember menjadi kota mode layaknya Paris dan Itali.

Dengan tekad dan kemauan yang kuat, Fariz mewujudkan mimpi-mimpi masa kecilnya. Sebab, pria kelahiran Desa Garahan, Kecamatan Silo, Jember ini, merasa minder dengan tempat lahirnya itu.

Kekecewaan fariz ternyata menjadi cambuk tersendiri buatnya. Dia kemudian berusaha menciptakan ide untuk merubah Jember menjadi kota mode yang sangat luar biasa.


Even JFC biasanya melibatkan ratusan model yang berjalan sepanjang 3,5 kilometer di jalan utama Kota Jember. Acara yang saban tahun digelar ini ternyata mampu menarik perhatian dunia. Jember kemudian dianggap sebagai kota artistik yang sangat luar bisa. Apalagi ratusan model yang ditampilkan, bukanlah model-model profesional yang terbiasa berlenggak-lenggok di atas catwalk.

Penampilan mereka seolah menabrak tatanan dunia fashion yang selama ini berkiblat pada keglamoran. 

Sedikit demi sedikit mereka merubah Jember menjadi kota mode dan memang hal itu bukan sekadar mimpi. Kegiatan ini menjadi perbincangan di kalangan fashion internasional.

Sejak digelar pada 1 Januari 2001 silam, kini masyarakat Jember tersadar kalau kota kelahirannya semakin dikenal dunia. Wasib menambahkan, sebelum mengubah Jember menjadi kota mode bak Paris dan Itali, Fariz pernah mencoba peruntungan mengikuti program beasiswa yang disponsori sekolah mode ESMOD di Jakarta, tahun 2000 silam.

Sepulang dari Paris, Fariz mendirikan rumah mode yang berkiblat pada tren fashion dunia. Rumah mode yang diberi nama 'House of Dynand Fariz' itu terletak di Jember.

Ide lain Fariz yang dinilai tak masuk akan adalah karnaval fashion di mana pesertanya anak-anak muda dari desa terpencil yang tak berpengalaman di dunia fashion. Namun, ide liarnya itu, menjadi perhatian media, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Alhasil, kondisi sosiologis masyarakat Jember yang religius dan adem-ayem, tiba-tiba dikejutkan parade fashion layaknya kota-kota metropolitan. Apalagi yang diangkat tren-tren dunia.

Berbagai strategi dirancang oleh Fariz agar karnaval ini terus berjalan misalnya dengan mengajak partisipasi anak remaja. Sebab, menurut Fariz, seperti yang diceritakan Wasib dan Slamet, kaum remaja adalah makhluk pemimpi dan tugas orang dewasalah mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Sekadar diketahui, Karnaval Busana Jember atau sering disebut JFC ini, adalah sebuah even karnaval busana yang setiap tahun digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sebanyak 400-an peserta berkarnaval, berfashion run way and dance, di jalan utama Kabupaten Jember. Event itu, disaksikan oleh ratusan ribu penonton di kanan dan kiri jalan.

Mereka terbagi dalam delapan defile yang masing-masing defile mencerminkan tren busana kontemporer. Defile pertama adalah defile Archipelago yang mengangkat tema busana nasional dari daerah tertentu secara berkala seperti Jawa, Bali, Sumatera, dan seterusnya.

Defile lainnya mengangkat tema fashion yang sedang trend apakah dari suatu negara, kelompok tertentu, film, kejadian atau peristiwa global lainnya. Semua busana dibuat dalam bentuk kostum yang kesemuanya dikompetisikan untuk meraih penghargaan-penghargaan. Dan kini, JFC telah berusia 12 tahun sejak kali pertama digelar tahun 2001.

JFC sudah ada sejak tahun 2002 tapi belum semeriah sekarang. Pesertanya cuma 30 orang. Yang jelas, ini bentuk kecintaan pada tanah kelahiran saya. Dalam hati kecil, saya ingin Jember punya sesuatu yang tidak kalah dengan kota lain. Saya mulai menggali ide agar Jember dikenal mancanegara. Memang terlalu muluk, tapi saya yakin bisa melakukannya.

Saya percaya, kota-kota besar dan ternama seperti Paris dan Milan, dulunya juga kota kecil yang tidak dikenal masyarakat. Ketika ada salah seorang warganya punya ide cemerlang menciptakan suatu yang lain, kota itu jadi dikenal sampai saat ini. Nah, cita-cita saya, Jember juga bisa seperti itu. 

Lalu, karena saya berlatar belakang fashion, muncul ide membuat fashion carnaval. Saya yakin, fashion bisa dijadikan wahana karena fashion milik semua orang, bukan hak golongan tertentu saja. Selama ini, kalau berbicara fashion, yang terbayang pasti cantik, modelnya tinggi semampai, kaya, dan diselenggarakan di hotel mewah. Pandangan ini membuat masyarakat bawah seolah tak berhak memiliki. Padahal, fashion milik semu orang. Orang cantik, jelek, hitam, pendek, miskin, berhak terlibat di dalamnya. Yang bikin fashion menjadi elit, kan, status sosial seseorang. Padahal kita harus ingat, fashion adalah untuk kehidupan. Tapi bagi kalangan tertentu, fashion dijadikan sebagai gaya hidup. Sejak manusia lahir sampai mati, fashion sudah melekat pada diri setiap orang.

Bayi lahir, untuk masyarakat Jawa, kan, dibedong dengan kain. Biasanya, warna kain dicari yang semanis mungkin. Ini fashion. Lalu, biasanya ibu bayi kalau membelikan baju, dipadupadankan dengan pakaian lainnya. Ini juga sudah fashion. Belum lagi kalau sudah remaja, pakaiannya selalu diserasikan dengan aksesoris tubuh lain. Ini menunjukkan, fashion melekat sejak orang lahir sampai akhir hayatnya.

Awalnya saya sampaikan ide pada anak buah saya di Dynand Fariz Centre (DFC) yang jumlahnya sekitar 20-an orang. Mereka memang sudah bergerak di bidang fashion di Jember. Ternyata mereka mendukung. Mereka pun saya gembleng, saya ajari teknik yang benar, bagaimana mereka berpenampilan di catwalk layaknya peragawan dan peragwati. Selain itu, masing-masing juga saya ajari berdandan dengan benar.

Soal busana juga demikian. Saya beri ide berupa gambar-gambar orang beserta busananya yang saya ambil dari majalah. Dari gambar itu, anak buah saya membuat busana sendiri dengan tambahan kreasi masing-masing. Nah, setelah selesai, Minggu pagi mereka karnaval keliling kampung di sekitar lokasi DFC. Layaknya seorang model bergaya, 20 orang itu keluar-masuk kampung sambil bergaya. Kalau kami dilihat warga, sudah senang minta ampun. Pokoknya, kalau ingat saat itu, gembira, lucu, juga mengharukan. 

Ternyata tanggapan masyarakat positif. Saya jadi tergerak menjaring peserta lebih banyak. Caranya, masuk ke sekolah-sekolah untuk presentasi konsep. Soal diterima atau tidak, bagi saya tidak penting. Yang penting, mereka mau dengar gagasan saya. Ada yang menerima, ada yang mencibir. Bagi saya, tak masalah, yang penting mereka sudah mendengarkan.

Setelah karnaval berkala di sekitar kampung, lokasi diperluas. Kali ini di alun-alun. Peserta sudah naik dua kali lipat. Saya sengaja pilih Minggu pagi karena saat itu di alun-alun banyak orang berkumpul dan olahraga. Ternyata masyarakat tambah antusias. Kami pun ikut karnaval 17-an. 

Tahun 2002, untuk pertama kali, JFC ikut karnaval tahun baru sekaligus memperingati HUT Jember. Ternyata saat acara hujan lebat. Saya kagum, anak-anak bersikukuh jalan meski hujan. Kami tidak peduli kendati make up maupun kostum jadi rusak. Anak-anak tetap dengan riang bergaya di sepanjang jalan. Di sanalah masyarakat semakin kagum akan kesungguhan kami.

Sejak itu, semakin banyak anak muda tertarik dan bergabung. Termasuk anak SD sampai SMA yang berasal dari pinggiran dengan keadaan ekonomi pas-pasan. Betapa pun, dunia fashion masih asing bagi mereka. Dengan telaten, saya bimbing dan motivasi. Saya tekankan, peragawati tak harus cantik atau putih. Mereka makin semangat. Pesertanya membludak hingga 450 orang.


Sumber :
merdeka.com
jemberfashioncarnaval.com
tabloidnova.com

Related Posts