Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, January 31, 2023

Stasiun Kereta Api Sukosari

Sejarah Stasiun Kecil di Jember Timur yang Dibangun Oleh Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda

Salah satu stasiun kereta api kecil yang terdapat di Kabupaten Jember ini masih terlihat bangunannya. Stasiun kecil yang berada di wilayah timur di Jember ini, merupakan stasiun atau halte kereta api jurusan Ajung Kalisat hingga Panarukan Situbondo.

Stasiun ini, dibangun dan diresmikan oleh salah satu perusahaan kereta api Hindia Belanda State Spurwegen pada tahun 1 oktober 1897. Hingga kini, stasiun kereta api Sukosari yang dimaksud itu terletak di Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember.

Dirangkum dalam akun Youtube Kurnia Explore& Food terlihat, nampak bangunan gedung stasiun masih berdiri tegak.

“Untuk yang sebelah selatan dibangun dengan tembok dan sebelah utara dibangun dengan kayu,” kata pemilik akun.

Stasiun Sukosari ini, terletak di ketinggian sekitar 321 meter diatas permukaan laut. Stasiun ini,  berada di wilayah kewenangan daerah operasional 9 Jember. Catatan sejarah, stasiun ini didirikan selang 4 tahun kereta jalur kereta api Kalisat - Situbondo diresmikan 1 oktober 1897.

“Jalur ini, merupakan jalur timur untuk kelas 2 yang berada di wilayah  Jember. Terlihat bangunan ini kecil dan berdinding kayu, dan bagian selatan dinding tembok,” jelasnya.

Biasanya, stasiun dibangun bersamaan dengan pembangunan rel kereta api baru. Untuk ke jalur selatan,menuju ke stasiun Kalisat dan ke utara stasiun Sukowono. Terlihat dalam video, papan nama tulisan Stasiun Sukosari masih nampak di dinding bangunan. Nampak juga rumput juga mulai sudah tinggi.

Terlihat dilokasi, nampak rumah pemukiman warga juga tidak jauh dari lokasi stasiun Sukosari. Bahkan juga, arah menuju kestasiun itu terdapat jembatan kereta api yang cukup besar yang membentang.


Sumber :

https://banyuwangi.jatimnetwork.com/nasional/pr-3327133885/sejarah-stasiun-kecil-di-jember-timur-yang-dibangun-oleh-perusahaan-kereta-api-hindia-belanda?page=2

Wednesday, April 28, 2021

Situs Batu Megalitikum

Situs Duplang, Artefak Zaman Megalithikum Di Kabupaten Jember

3 July 2019 


Situs Duplang – Indonesia dikenal oleh masyarakat dunia sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya dan peninggalan yang mengagumkan. Jawa Timur memiliki banyak warisan peninggalan budaya, khususnya benda bersejarah dan purbakala yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten. Salah satu peninggalan bersejarah tersebut terletak di wilayah Kabupaten Jember.

Kepercayaan manusia purba di Jember adalah animisme dan dinamisme. Mereka menyembah roh nenek moyang dan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Kepercayaan masyarakat purbakala dibuktikan dengan adanya situs Duplang di kecamatan Arjasa. Situs yang di Arjasa tersebut menyimpan banyak peninggalan dan salah satunya dolmen yang digunakan sebagai tempat meletekkan sesajen untuk sarana pemujaan.

Bukti arkeologis berupa artefak yang ditemukan di Kabupaten Jember ini menjadi bukti bahwa daerah ini pernah menjadi lintasan sejarah, ataupun pilihan tempat hunian bagi manusia pada masa lalu dalam pengembaraannya mencari kehidupan yang layak dari masa ke masa baik masa prasejarah sampai masa sejarah. Jadi, tidak mengherankan apabila banyak temuan-temuan artefak cagar budaya.

Kebudayaan megalithikum sangat berpengaruh terhadap langkah manusia modern saat ini. Di sini kita bisa belajar dan bahkan melihat langsung bagaimana peninggalan pada saat prasejarah


Situs Duplang Masih Berdiri Kokoh Hingga Sekarang

Situs Duplang terletak di lereng Gunung Argopuro tepatnya di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, sekitar 15 km utara kota Jember. Situs Duplang menyimpan cerita sejarah panjang mengenai peradaban manusia nusantara di masa lalu. Menurut Bapak Sudarman (nama aslinya Abdurahim, lahir tahun 1938), yaitu jupel (juru pelihara), Situs Duplang merupakan peninggalan kuno sebagai salah satu perkampungan purbakala di Provinsi Jawa Timur”.

Situs Duplang merupakan situs peninggalan pada zaman megalithikum. Berdasarkan info dari pemelihara, di dalam situs yang berlokasi di ketinggian antara 270-290 mdpl ini memiliki sekitar 69 buah batu kenong, 6 buah dolmen, 2 buah batu menhir dan 1 lumpang batu dan kubur peti batu. Di desa Kamal sendiri, berdasarkan keterangan bapak Sudarman, telah diketemukan sebanyak 3600an batu kenong yang tersebar di beberapa dusun.

Situs Duplang sangat bernilai besar dan sangat bepengaruh pada mulanya peradaban manusia di dunia, situs ini merupakan simbol dari akar kekayaan budaya bangsa di masa dulu. Maka dari itu sebagai warga negara Indonesia yang memiliki situs ini sangatlah bangga serta memiliki kewajiban untuk merawat dan menjaga kelestariannya.


Jenis Artefak Di Situs Duplang


Kubur Batu Atau Dolmen

Merupakan sebuah batu besar yang ditopang dengan 4 sampai 6 batu dan di sampingnya ditutup dengan batu. Kubur batu atau dolmen ini berfungsi sebagai meja atau kubur batu. Selain itu, Dolmen juga berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan.


Menhir

Merupkan sebuah bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang. Menhir berfungsi sebagai benda pemujaan. Menhir yang terdapat di situs Duplang ini adalah sebuah batu berbentuk tegak.


Batu Kenong

Merupakan merupakan istilah penduduk setempat, bentuknya silinder dengan tonjolan di puncaknya. Menurut jenisnya tonjolan yang ad di batu kenong dapat berupa dua tonjolan ataupun satu tonjolan.

Batu kenong berfungsi sebagai umpak, merupakan unsur bangunan bagian bawah atau pondasi. Bahan bangunan lainnya (bagian atas) berupa kayu atau bambu dan atapnya dari daun-daun atau jenis rumput-rumputan, yang tidak tahan lama sehingga tidak ditemukan sisa-sisanya.


Lesung

Lesung merupakan sebuah batu yang di tengahnya terdapat lubang kecil sebagai tempat untuk memenuhi kehidupan masyarakat megalithikum pada saat itu. Pada masa itu, manusia purba (masyarakat megalithikum) menggunakan lesung dengan ukuran lubang kecil ini untuk menumbuk kopi, padi, dan lain sebagainya namun dalam jumlah yang sedikit.

Menurut kepercayaan, lesung yang terdapat di situs Duplang ini melambangkan suatu kesuburan atau biasa yang disebut lingga yoni. Pada lesung ini disebut sebagai yoni karena fungsinya sendiri melambangkan kesuburan. Sedangkan pasangannya disebut dengan lingga sebagai penutup lubang dari yoni.


Peti Kubur Batu

Peti kubur batu adalah peti jenazah yang terbuat dari batu pipih. Sebagaimana kebiasaan atau adat jaman purbakala yang dikenal dengan jaman batu masyarakat purba seringa memanfaatkan batu sebagai alat utama, tidak hanya digunakan untuk memasak, alat bercocok tanam tetapi batu pun juga di gunakan sebagai alat untuk menyimpan jenazah.


Lokasi Situs Duplang

Untuk mengunjungi wisata ini anda harus menempuh perjalanan yang cukup lama, dikarenakan lokasi di atas terletak di sebuah desa terpencil yang memiliki akses jalan yang cukup rusak dan sempit. Situs Duplang yang berada di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Untuk menuju situs ini, dari alun-alun Kota Jember ke Desa Kamal hanya berjarak 16 km.


Fasilitas

Adapun fasilitas yang dapat Anda temui di tempat wisata ini adalah pondok wisata, area parkir, toilet, dan musholla.


Akses Sarana Transportasi

Bagi Anda yang ingin mengunjungi keindahan situs Duplang Jember, harus menempuh jarak 16 km. Anda bisa menggunakan kendaraan motor ataupun kendaraan roda empat untuk datang ketempat ini. Namun akses jalan yang rusak dan sempit membuat perjalanan menuju ke lokasi menjadi sedikit lebih lama.


Jam Buka Dan Harga Tiket Masuk

Untuk jam buka dari objek wisata ini adalah 24 jam dan Anda tidak akan diminta retribusi dalam bentuk apapun agar dapat memasuki kawasan situs Duplang, jadi bagi kamu yang berada di luar kota bebas untuk datang kemari kapanpun. Akan tetapi, Anda hanya diminta untuk mengisi buku tamu oleh juru pelihara. Dan alangkah baiknya, Anda memberikan uang sebagai biaya perawatan dan juga sebagai ucapan rasa terima kasih.


Tips Berlibur Ke Objek Wisata Situs Duplang

Jika Anda telah menyiapkan rencana untuk berkunjung ke objek wisata ini bersama dengan kerabat ataupun keluarga, ada beberapa hal yang harus  diperhatikan. Hal pertama adalah jangan membuang sampah sembarangan untuk menjaga keasrian dan keindahan dari objek wisata tersebut. Siapkan juga kamera ataupun ponsel dalam keadaan baterai yang telah terisi penuh jika kamu ingin berfoto ria ketika berada di sana.

Persiapkan juga berbagai perbekalan dan perlengkapan yang berguna untuk kebutuhan Anda nanti dan dimohon untuk tidak melakukan berbagai tindakan merugikan selama berada di situs Duplang, namun yang terpenting adalah jangan lupa untuk berdoa dan memohon keselamatan selama di perjalanan ataupun ketika berada di tempat wisata.


Sumber :

https://wongjember.com/situs-duplang-jember/

Saturday, July 25, 2020

Pangeran Arjasa dan Rara Mangli


Setelah lama menjadi rawa, daerah mulai disinggahi para pendatang dari wilayah majapahitan dan mataraman. Konon diwilayah Jember ini, ada sebuah Kadipaten yang bernama “Gebang Taman”, yang pernah dipimpin oleh adipati Syech Maulana Maghribi.

Menurut cerita kuno, pusat pemerintahan kadipaten ini terletak di wilayah (yang sekarang menjadi kelurahan) Gebang. Dikisahkan lebih lanjut, bahwa adipati mempunyai seorang putri yang pada akhirnya lebih dikenal oleh masyarakat sebagai ‘rara Mangli’.

Sang putri begitu dikagumi karena keanggunan dan kecantikan budi-pekertinya. Dan kabar itu terdengar sampai ke telinga pangeran Arjasa, putra seorang mpu di wilayah kadipaten ‘Gebang Taman’. Maka syair dan syiar jatuh cinta pangeran pun terbawa angin sampai ke taman kadipaten, hingga membuat pipi ‘rara Mangli’ anggur kemerahan.

Gayung bersambut petualangan sepasang anak manusia pun dimulai, malam tak ada yang pekat siang tak ada yang panas, semua tempat menjadi sejuk-terang. Namun bukan cinta namanya, kalau tak menimbulkan kecemburuan dipihak lain, meski dalam arti apapun.

Maka adipati Gebang Taman ‘Syech Maulana Maghribi’ yang tak mau putrinya gelisah, mengutus mpu condro untuk menengahi masalah ini supaya tidak mengumpal menjadi aib. Berangkatlah mpu condro menemui ‘pangeran Arjasa’ untuk menyampaikan keberatan hati sang adipati.

Bukan kisah cinta kalau hanya menerima penolakan begitu saja, apalagi antara ‘rara Mangli’ dan ‘pangeran Arjasa’ sudah mantap untuk ikrar berbagi suka-duka, bergegaslah dijembutnya sang putri impiannya berlari keluar dari taman kadipaten.

Melintaslah mereka berdua dari kampong ke kampong, menerobos semak-belukar pinggir kali dan persawahan, sampailah mereka masuk wilayah desa ‘wates’ namun pada saat itu mereka dicegat ‘mpu Condro’ ketika hendak menyeberang sungai (kali).

‘Mpu Condro’ tak ingin mengecewakan tugas dari adipati, dibawanya sang putri meski terpaksa harus bertarung dengan ‘pangeran Arjasa’. Mendung bergelayut diujung pohon kapuk randu dan mengkudu, ‘rara Mangli’ telah dibawah pergi ‘mpu Condro’ ke kadipaten.

Sementara ‘pangeran Arjasa’ berbasuh luka dan duka dipondoknya, ada seseorang yang mulai berani kembali membangkitkan harapannya yang tertunda, dia adalah ‘pangeran Puger’; yang konon tak lain putra ‘mpu Condro’.

Begitulah, cinta dan kekuasaan itu memang menjadi sebuah konspirasi-romantic yang abadi dari jaman ke jaman; apalagi berbalut dalam kemasan agama dan social-genetik. ‘pangeran Puger’ sebenarnya memang sudah lama tertarik pada keanggunan ‘rara Mangli’, tapi tak pernah kesampaian.

Berangsur-angsur, tempat perpisahan antara ‘pangeran Arjasa dan rara Mangli’ dikenal masyarakat dengan sebutan ‘kaliwates’; hingga sekarang.

Luka tak sampai menunggu bernanah, dan seolah ada yang memanggil dan memberi kabar, ‘mpu Patrang’ masuk ke bilik dengan cepat dibacalah paras luka putranya, lalu sekelebat menyusul ‘mpu Condro’ untuk membawa ‘rara Mangli’ demi putranya.

Demikian, pertemuan dua pendekar santun pun tak bisa menolak sebuah pertarungan dasyhat, hingga mendung tak berani menghujani arena yang telah sempat turun rintik air. ‘Mpu Condro’ jatuh langkah, namun masih tegap ia tak merundukan raga terluka, meski kemudian harus mengakui kemenangan ‘mpu Patrang’.

Tak lama setelah itu, ada utusan kadipaten yang membawa kabar bahwa persoalan akan ditangani langsung oleh adipati ‘Syech Maulana Maghribi’, maka semua yang terlibat persoalan diundang ke kadipaten; tentu saja termasuk ‘mpu Patrang dan pangeran Arjasa’.

Kadipaten ‘Gebang Taman’ dan para kerabatnya telah menunggu sang putri pulang. ‘Taman Wurung’ juga tak kalah gelisah, menanti senyum sang ‘rara’ mambang jingga mengelitik ikan-ikan dan kecebong yang berebut mendorong leli dan teratai.

Akhirnya rombongan ‘rara Mangli’ masuk pendapa, dibarengi ‘mpu Condro dan pangeran Puger’ putranya. Sementara ‘mpu Patrang dan pangeran Arjasa’ selisih waktu tiba di kadipaten, sebab harus menjemput kerabat sebagai saksi, agar segala keputusan bisa lebih bijak diterima.

Semua sudah berkumpul dan hidangan khas ‘gebang taman’ pun juga siap. ‘Syech Maulana Maghribi’ hadir membuka jam langkah, gejolak jiwa sepasang manusia muda menjadi bahasannya. ‘rara Mangli dan pangeran Arjasa’ membuka isi hatinya masing-masing kepada sekalian orang tua dan kerabat.

Akhirnya sang adipati mengambil keputusan dengan menghormati semua pendapat dan semua syarat adapt, bahwa ‘pangeran Arjasa’ diperkenankan mempersunting ‘rara Mangli’ dengan menjalankan laku adat dan adab agama Islam.

Demikian sampailah semuanya, bahu-membahu menyiapkan pesta pora rakyat ‘Gebang Taman’ dan sekitarnya. Tapi tidak bagi sosok pemuda yang tengah bersiap bekal keluar dari biliknya, dan berpamit pada orang tuanya.

Ditinggalkannya rumah itu, ia tanggalkan harapan separuh umurnya, terus berjalan ia ke arah selatan menuju pantai lepas. Sosok itu tak lain sosok yang dikenal orang sebagai ‘pangeran Puger’, bertapa dipantai selatan membendung waktu (menahlukan plawangan) dan ber-muraqabah, sebelum akhirnya bertemu dengan ‘rara Arum’; yang nantinya daerah itu kemudian dikenal dengan ‘jambearum’.


Sumber :
https://www.facebook.com/komunitas.maneweh/photos/a.309722509121011/316411838452078/?type=1&theater
https://lintasjemberblog.wordpress.com/2016/10/15/pemilihan-rtrw-kel-mangli-menyedot-apbd-2016/

Wednesday, June 10, 2015

Ulang Tahun Jember

Kabupaten Jember dibentuk berdasarkan Staatsblad Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929.

Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, 21 Agustus 1928.

Pemerintah Regenschap Jember yang semula terbagi dalam tujuh Wilayah Distrik, pada tanggal 1 Januari 1929 sejak berlakunya Staatsblad No. 46/1941 tanggal 1 Maret 1941 Wilayah Distrik dipecah menjadi 25 Onderdistrik, yaitu:


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Jember

Friday, April 11, 2014

Karesidenan Besuki


Karesidenan adalah sebuah pembagian administratif dalam sebuah provinsi di Hindia Belanda dan kemudian Indonesia hingga tahun 1950-an. Sebuah karesidenan (regentschappen) terdiri atas beberapa afdeeling (kabupaten). Tidak di semua provinsi di Indonesia pernah ada karesidenan. Hanya di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Lombok dan Sulawesi saja. Biasanya ini daerah-daerah yang penduduknya banyak.

Kata karesidenan berasal dari Bahasa Belanda Residentie. Sebuah karesidenan dikepalai oleh residen, yang berasal dari Bahasa Belanda Resident. Di atas residen adalah gubernur jenderal, yang memerintah atas nama Raja dan Ratu Belanda.

Semenjak krisis pada tahun 1950-an, sudah tidak ada karesidenan lagi dan yang muncul faktor kekuasaannya adalah kabupaten. Karesidenan kemudian dikenal dengan istilah "Pembantu Gubernur" (istilah ini sekarang tidak digunakan lagi). Namun demikian, sebutan "eks-karesidenan" masih dipakai secara informal.

Sebuah sisa pemakaian karesidenan adalah tanda kendaraan bermotor (pelat nomor). Pembagiannya, terutama di pulau Jawa masih banyak berdasarkan karesidenan.

Eks Karesidenan Besuki, sebuah karesidenan yang meliputi Probolinggo (kota dan kabupaten), Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi.

Sejarah tentang kota besuki kita awali dengan tokoh yang membabat yaitu Raden Bagus Kasim al Wirodipuro al Ki Pate Alos. beliau lahir pada minggu ketiga bulan Rabiul Awal 1162 H / 1741 M di Tanjung Jambul Pamekasan Madura. beliau Adalah putra Raden Abdurahman al Wirobroto. Orang yang pertamakali membabad tanah besuki. Beliau adalah cucu Raden Abdullah Surowikromo yang masih keluarga KRATON MATARAM (Susuhunan Pakubuwono II) Eyang Lelono dan akhirnya menetap di Tanjung Jambul Pamekasan Madura. 

Asal mula tanah besuki, berawal dari hijrahnya Raden Abdurahman al Wirobroto pada 10 Asyuro 1164 H / 1743 M ke desa Demung, dikarenakan daerah Tanjung Jambul Pamekasan terjadi NEMOR KARA ( kemarau panjang ) yang menyengsarakan rakyat. 

Waktu itu Raden Wirobroto memutuskan untuk hijrah ke tanah Jawa mencari tanah baru untuk bercocok tanam, akhirnya Beliau tiba di desa Demung yang dikenal dengan nama NAMBEKOR ( berasal dari kata NAMBEG / berlabuh ) dan membuka hutan disana, sedangkan untuk tempat berteduh dan istirahat Kiai Wirobroto membuat rumah dari ATAQ ( daun kelapa yang dirajut untuk dijadikan atap rumah tepatnya di Bujug Se Pacar ) pada waktu itu oleh Tumenggung Sentong dijadikan Kademangan. Pucuk dicita ulampun tiba, berkat kerja keras tanpa mengenal putus asa hasil panen Raden Wirobroto melimpah ruah. Dengan perasaan senang Raden Wirobroto membawa hasil panennya ke Tanjung Jambul Pamekasan Madura.

Berita tentang hal tersebut didengar oleh Tumenggung Sentong ( desa Demung adalah bagian dari kekuasaan Tumegung Sentong ) dan sang Tumenggung memanggil Raden Wirobroto. Namun Raden Wirobroto tidak mengindahkan perintah tersebut. Hingga terjadilah perseteruan diantaranya keduanya yang kemudian terjadi peperangan. Tercatat Tumenggung Sentong 3 kali menyerang Demung akan tetapi gagal dan akhirnya Tumenggung Sentong takluk pada Raden Bagus Kasim.

Berita tentang orang-orang Madura yang NAMBEG (hijrah/datang untuk merubah nasib/mencari pekerjaan) didesa Demung didengar pula olehTumenggung Banger dan beliau memanggil Raden Wirobroto dengan mengutus Wongso Mitro ke desa Demung dengan perantaraan Wongso Mitro, Raden Wirobroto berhasil diajak menghadap ke Tumenggung Banger. Sesampainya disana Raden Wirobroto disambut dengan baik dan dianugerahi hadiah oleh sang Tumenggung. Dan Raden Wirobroto pun pamit untuk kembali ke Demung.

Singkat cerita Raden Wirobroto sudah tua dan digantikan oleh putranya Raden Bagus Kasim (19 tahun) yang lahir di Desa Tanjung Umbul Pamekasan pada tahun 1734 M dan pada 12 Rabiul Awal 1181 H/1760 M diberi gelar WIRODIPURO (WIRO : Pahlawan, DIPURO : Daerah) oleh Tumenggung Joyo Lelono.

Sewaktu beliau menggantikan ayahnya, Demung semakin ramai dan akhirnya diganti nama menjadi Besuki oleh Tumenggung Banger
Tercatat dalam sejarah kepemimpinan Beliau beberapa kejadian penting antara lain :
1. Beliau diminta bantuan oleh Kompeni Belanda menyerang Sentong dan Sentongpun berhasil dikalahkan.
2.Beliau juga diminta bantuan oleh Belanda bersama - sama Tumenggung Banger dan Tumenggung Pasuruan menyerang Lumajang dan usaha tersebut berhasil.
3.Beliau bersama - sama para pemimpin, Tumenggung daerah Pesisir Timur Jawa ( Semarang Timur ) beserta bala tentara dari Sumenep dan Pamekasan berhasil menaklukkan Blambangan dan Nusa Barong, Dan beberapa kejadian penting lainnya.

Raden Bagus Kasim wafat dan dimakamkan di Besuki pada minggu pertama bulan Rajabiah 1221 H/1800 M dan digantikan oleh putranya yang bernama Raden Bagus Syahirudin juga bergelar WIRODIPURO 2 juga wafat pada minggu pertama bulan Rajabiah 1271 H/1850 M dan dimakamkan di Besuki, tepatnya di Dusun Kauman Barat Besuki Situbondo Jatim. Sampai dengan sekarang wafatnya beliau diperingati tiap tahun oleh masyarakat Besuki yang dipusatkan di Pasarean Asta Pate Alos.

Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://ridwanfirmansyah.blogspot.com

Tapal Kuda


Tapal Kuda, adalah nama sebuah kawasan di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Menurut sejarahnya, daerah Tapal Kuda ini dahulu disebut dengan Blambangan atau dalam budaya Jawa disebut daerah bang wetan (seberang timur), karena kawasan ini tidak pernah menjadi bagian dari kerajaan Mataram, karena tidak dikenal sebelum imigran dari kawasan Mataraman berpindah mengisi kawasan pesisir selatan. Namun kini istilah Blambangan hanya ditujukan untuk wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Banyuwangi.[1]

Kawasan Tapal Kuda terdapat tiga pegunungan besar: Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Pegunungan Iyang (dengan puncak tertingginya Gunung Argopuro), dan Dataran Tinggi Ijen (dengan puncak tertingginya Gunung Raung).

Ciri khas kawasan ini adalah dihuni oleh Suku Madura dan Suku Jawa. Suku Madura bahkan mayoritas di beberapa tempat, khususnya di bagian utara; sebagian besar tidak dapat berbahasa Jawa, meski tinggal di lingkungan Jawa. Kawasan tapal kuda seringkali dianggap sebagai daerah terbelakang di Jawa Timur, karena berdasarkan peta Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Timur, kawasan ini berada pada jajaran yang paling rendah.

Kota-kota besar di kawasan Tapal Kuda adalah Probolinggo, Pasuruan, dan Jember. Jember merupakan kota pendidikan, dimana terdapat perguruan tinggi negeri Universitas Jember.


Tapal kuda merupakan wilayah subkultur di Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang pemberontakan. Penghuni tapal kuda mayoritas adalah etnis Madura. Meski ada minoritas etnis Jawa, namun pengaruh Madura yang sangat kuat menyebabkan karakter budaya di wilayah ini lebih beraroma Madura. Orang-orang tapal kuda juga sangat identik dengan Islam. Lebih spesifik lagi, Nahdatul Ulama.

Pada masa Majapahit, tapal kuda masuk menjadi wilayah Majapahit Timur. Sedangkan pada masa Mataram, tapal kuda disebut Blambangan. Keberanian luar biasa adalah karakter masyarakat tapal kuda. Konon, menurut Pramudya Ananta Toer di Probolinggo, Majapahit pernah direpotkan oleh pemberontakan Minak Djinggo. Selain Majapahit, VOC juga mendapat kesulitan di sini. Untung Suropati, anak Bali yang diasuh Belanda dan akhirnya diburu oleh tuannya sendiri itu memperoleh dukungan yang amat kuat di sini, hingga akhirnya sanggup membangun kerajaan di Pasuruan.

Di Pasuruan, ada cerita rakyat yang populer dengan sebutan ” Sakera ”, pembangkang kompeni di ladang tebu Pasuruan yang kemana-mana membawa Clurit. Banyak pula beredar cerita-cerita tentang pahlawan rakyat : Pangeran Situbondo yang patungnya bisa ditemui di Alas Malang, Panarukan( sekarang Situbondo ) dan Pangeran Tawang Alun di Jember.

Disamping itu potensi wisata yang ada di kawasan ini ternyata juga tidak kalah menarik, bahkan sangat luar biasa jika dikembangkan dengan lebih serius. Antara lain :

Kawasan Taman Nasional Tengger-Semeru (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang)
Taman Nasional Meru Betiri (Jember & Banyuwangi)
Taman Nasional Kawah Ijen (Bondowoso & Banyuwangi)
Taman Nasional Baluran (Situbondo & Banyuwangi)
Prigen, Nongkojajar, Ranu Grati (Pasuruan)
Pantai Bambang, Ranu Pane, Ranu Klakah, Gunung Semeru dll (Lumajang)
Pantai Bentar, Gunung Lamongan, dll (Probolinggo)
Pantai Pasir Putih (Situbondo)
Bukit Arak-Arak, Situs purbakala (diseluruh Bondowoso), Gerbong Maut dll (Bondowoso)
Pantai Watu Ulo-Papuma (Jember)
Taman Nasional Alas Purwo, Pantai Sukomade, Pantai Plengkung, Situs Puputan Bayu, Watu Dodol, Desa Wisata Osing dll (Banyuwangi)

Secara tradisional, kawasan Tapal Kuda merupakan kawasan yang diwarnai nuansa keislaman yang kental. Nahdlatul Ulama mempunyai akar yang sangat kuat diwilayah ini, kendatipun mistisme juga ditemukan utamanya di Banyuwangi. Tahun 1998 wilayah ini pernah diguncang gangguan keamanan dengan isu dukun santet yang menewaskan beberapa puluh jiwa yang terdiri dari warga biasa dan ulama, terutama di Banyuwangi dan mencekam hampir seluruh kawasan Tapal Kuda selama beberapa waktu, dan sampai sekarang siapa dalang dari semua itu masih merupakan tabir gelap yang belum terpecahkan.

Kendatipun berada di pulau Jawa, namun mayoritas penduduk Tapal Kuda adalah masyarakat Madura atau berbahasa Madura. Tapi anehnya mereka banyak yang enggan disebut Madura dan lebih suka disebut sebagai orang pendhalungan atau campuran, dikarenakan nenek moyang mereka yang merupakan pembauran antara etnis Jawa dan Madura.

Sedangkan etnis Jawa sendiri lebih banyak menghuni kawasan selatan Tapal Kuda, utamanya Lumajang, Jember Selatan dan Banyuwangi Selatan. Bahkan uniknya kebanyakan penduduk Tapal Kuda tidak mengerti bahasa Jawa. Sedangkan komunitas lainnya adalah Masyarakat Budaya Osing yang menghuni kawasan tengah Banyuwangi, Masyarakat Tengger di wilayah Bromo, kelompok kecil etnis Bali di wilayah Banyuwangi dan tentunya suku Tionghoa dan Arab yang tersebar dikota-kota utama kawasan itu.

Sedangkan ditinjau dari segi kebudayaan, budaya yang dominan sudah pasti budaya Madura yang akan tetapi memiliki beberapa perbedaan dengan budaya Madura di tanah leluhurnya. Kebudayaan Jawapun terbagi antara budaya Arekan (Jawa Timuran) dan Mataraman yang terpusat dipantai selatan. Sedangkan masyarakat Tengger dan Osing membentuk budayanya sendiri. Namun yang paling populer adalah kebudayaan masyarakat Osing yang sangat berwarna karena pengaruh Jawa-Madura dan Bali yang kuat, dan menjadi ikon khas bagi Jawa Timur, seperti Gandrung Banyuwangi hingga Banyuwangi dijuluki sebagai Kota Gandrung dan banyak seni budaya lokal yang tidak dijumpai didaerah manapun di Jawa. Wayang Topeng berbahasa Madura dan Ludruk berbahasa Madurapun juga populer di Tapal Kuda selain kesenian-kesenian bernafaskan Islam.

Sumber :
http://imatacommunity.wordpress.com
http://id.wikipedia.org

Saturday, September 28, 2013

Gerak Jalan Tajemtra (Tanggul Jember Tradisional)


Dulu bisa dikatakan hampir setiap kecamatan-kecamatan di Jember mempunyai gerak jalan tradisionalnya sendiri-sendiri. Ada gerak jalan Gubatra (Gumelar - Balung Tradisional). Ada gerak jalan dengan nama unik yaitu Gambangsuling alias Gambirono - Bangsalsari - Sukorejo Keliling. Lalu ada pula gerak jalan yang bernama Watam yang menempuh rute dari pantai wisata Watu Ulo dan berakhir di alun-alun Ambulu. Namun sungguh sayang, gerak jalan tradisional tersebut kini nampaknya telah punah karena jaman.

Gerak jalan yang memiliki kepanjangan Tanggul Jember tradisional ini diadakan sejak tahun 1977. Pesertanya terdiri dari berbagai elemen, mulai dari anak-anak, kaum muda hingga orang tua, mulai dari pelajar hingga pegawai kantoran. Peserta Tajemtra dikategorikan dalam 4 kelompok nomor lomba diantaranya beregu umum putra/putri, beregu pelajar putra/putri, perorangan putra usia 45 tahun keatas dan perorangan putri usia 40 tahun keatas.

Gerak jalan tajemtra atau Tanggul Jember tradisional merupakan even tahunan Kabupaten Jember. Tajemtra berasal dari kata Tanggul dan Jember. Tanggul itu kecamatan yang berada di sisi Barat Jember Kota, kota kecamatan yang ramai dan memiliki alun-alun di pusat kota. Jarak tanggul dan jember berkisar kurang lebih 30 km. Walaupun jaraknya jauh, peserta tetap antusias dalam mengikuti tajemtra.

Tajemtra adalah kegiatan gerak jalan tahunan yang dilaksanakan oleh Pemkab Jember untuk memperingati hari kemerdekaan. Tajemtra selain sudah menjadi budaya di Jember, hadiah yang diberikan oleh panitiapun tidak kecil. Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia Jember, Kamil Gunawan mengatakan bahwa total hadiah yang diperebutkan sebesar 100juta dan piala Mahmudi Cup. Mahmudi adalah nama seorang peserta gerak jalan yang meninggal pada tahun 70an, digunakan nama piala untuk mengenang semangatnya.

Tahun 2013 ini sebanyak 14.715 orang tercatat mengikuti gerak jalan Tanggul Jember Tradisional (Tajemtra), Sabtu (28/9/2013). Gerak jalan tahunan itu dimulai dari Alun-Alun Kecamatan Tanggul dan berakhir di titik nol Jember yakni Alun-Alun Jember.
Jarak yang ditempuh peserta sepanjang 33 kilometer. Acara itu dibuka oleh Bupati Jember MZA Djalal pukul 14.00 WIB.

Gerak jalan itu setiap tahun memang menyedot ribuan peserta. Pesertanya selalu di atas 10 ribu orang. Karena namanya gerak jalan, tidak ada kostum pakem dalam acara itu.
Sebagian besar peserta memilih kostum olahraga seperti kaus dan celana kaus. Namun ada beberapa yang menghias diri se-heboh mungkin.

Ada peserta yang memakai pakaian adat dan membawa ogoh-ogoh, ada juga yang berdandan ala kerbau, ada juga yang bergaya ala punk.

Peserta yang tak kurang dari 15 ribu orang setiap tahunnya ini diberangkatkan secara bergantian mulai jam 13.30 hingga Pukul 17.00 dari alun-alun Tanggul. Biasanya peserta sampai di garis finish mulai dari jam 22.00.

Tajemtra pun memiliki beberapa pos peristirahatan, biasanya Pos peristirahatan ini di gunakan peserta untuk Ishoma. Pos-pos ini terletatak di beberapa kecamatan sepanjang rute perjalanan, ada dua pos utama yang digunakan untuk melakukan pendataan ulang yaitu pos I di Kecamatan Bangsalsari dan pos II di Kecamatan Rambipuji. Selain pos utama, pihak panitia juga menyiapkan 300 pos lainnya.

Jalan propinsi yang menghubungkan Surabaya, Lumajang, Jember, Banyuwangi di tutup total secara bertahap. 


Sumber : 
http://surabaya.tribunnews.com
http://www.essip.us
http://www.jelajahbudaya.com

Friday, July 26, 2013

Pembangunan Masjid Jamik Lama Jember Di Masa Hindia Belanda

Masjid Jamik Lama Jember

(Y. Setiyo Hadi). Keterangan tentang Pembangunan Masjid Jamik di Kota Jember di masa Hindia Belanda berasal dari berita surat kabar (koran) Soerabaiasch Handelsblad, Dinsdag-28 April 1936 yang bertajukkan “Djember Nieuwe Moskes”. Selanjutnya adalah terjemahan deri berita koran tersebut berkaitan dengan Pembangunan Masjid Jamik di Kota Jember.

DJEMBER

Masjid Baru

Masjid Utama (Masjid Jamik) Jember, berada sisi barat dari aloon-aloon, sudut jalan utama, menghiasi, dibangun pada tahun 1894, pada masa Patih Djember yang meninggal sebagai Bupati Banyuwangi, Raden Pandji Koesoemonegoro.

Segera setelah datangnya Bupati Djember, R.T. Notohadinegoro, tahun 1928, menyatakan bahwa “keblat”, arah dalam beribadat / shalat, arah ke Mekkah dilihat dari Jember, yang di masjid dianggap salah / tidak tepat (penyimpangannya sekitar 24 derajat).

Setelah kedatangan Bupati muncul pemikiran yang istiqomah tentang pembangunan mesjid baru; bagaimanapun pembangunan ini memerlukan biaya yang besar; kemudian pada tahun 1932 dengan dianggarkan f 30.000., yang dianggap terlalu besar.

Akhir tahun 1935 Bupati menugaskan untuk menyusun anggaran; karena obyek lokasi masjid yang mengalami penyimpangan arah ke Mekkah (kiblat) maka dipertimbangkan sebagai berikut:

1e. kayu yang ada di masjid banyak yang busuk, sehingga pembangunan oleh Direktur Kerja Kabupaten ditolak dan

2e. harga bahan bangunan mulai menurun

Kemudian anggaran yang diajukan f.15.000., berdasarkan analisa ekonomi beberapa anggaran masjid dipangkas.

Dan mulai awal Maret 1936, oleh Patih Djember, sebagai ketua Komisi Masjid (dengan mengikutsertakan Wedono Kota, para penghoeloe dan dua orang pribumi asli), di Kantor Masjid diadakan Koempoelan Para Oelama.

Pertemuan ini memutuskan Pembangunan Masjid Baru berdasarkan ketentuan “kitab” (juga berkaitan dengan permasalahan “keblat”) dengan kantor arsitektor Soegarda di Jember. Ketika pelaksanaan / tender, pelaksanaan pembangunan. Tatkala pelaksanaan, pembangunan berada dalam  control dan pengendalian Komite Masjid dan Direktur Kerja Kabupaten, yang juga disebut Bouwk. Kerja yang berdedikasi.

Masjid lama diratakan dengan tanah: batu pertama diletakkan pada tanggal 22 Maret; gedung baru harus selesai sesuai kontrak dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah tanggal pertama ditandatangani, berkat banyak dukungan dari banyak kalangan, diantaranya dari pihak Landbouw Mij. “Oud-Djember” (LMOD) yang dapat disebutkan di sini – nampaknya pada bulan Agustus masjid baru dapat diresmikan.

Beberapa rincian konstruksi bangunan baru yang harus diketahui: Masjid Baru tinggi 20 Meter (yang lama tingginya 12 meter) dan mempunyai ruang berdoa sepanjang 900 M (yang lama kurang 400 m).

Bersangkutan dengan gaya, gabungan / kombinasi dari yang lama dan model yang baru, yaitu: bagian depann (sisi aloon-aloon) sampai Kantor disebut dengan MOZES-STIJL (Gaya Musa), bagian samping (sisi utara, ruang utama) dalam DUDOK-STIJL (Gaya Dudok). Menara akan berjumlah 4, atau 5.

Masjid Baru, menjadi sebuah permata yang nyata bagi suatu kota, diduga yang pertama di Jawa, yang akan dibangun seperti ini.

Akhirnya, perlu ditekankan pentingnya gerakan, sampai selesainya pojok timur utara dari wilayah masjid, dimana kubah yang besar tempat diletakkannya “bedoek”.

(Penerjemah Y. Setiyo Hadi)

Sumber : http://kencongnews.com/

Masa Lalu Wilayah Kabupaten Jember Pada Abad Ke-18 Masehi

01 Perumahan karyawan Wates Jember 1900 KITLV

(Y. Setiyo Hadi)

“Ruang Gelap”

Periode abad ke-18 M (tahun 1700 sampai 1799 Masehi) dianggap sebagai “ruang gelap” dalam sejarah / masa lalu bagi wilayah yang sekarang disebut Kabupaten Jember. Kabupaten Jember sebagai kota bersamaan dengan didirikannya perkebunan oleh George Birnie pada tahun 1859, demikian pandangan pada umumya.

Periode berdirinya perkebunan tersebut, sebenarnya, merupakan hasil dari “proses sejarah” yang terjadi pada periode sebelumnya, yaitu periode abad ke-18 M (antara tahun 1700 sampai 1799). Bagi sejarawan Jember belum banyak (untuk tidak mengadakan tidak ada sama sekali) yang mendeskripsikan dan menulis periode ini bagi sejarah wilayah Kabupaten Jember.

Hal yang menjadi penghalang, alasan sejarawan untuk tidak untuk tidak mengungkapkan periode “ruang gelap” ini adalah sumber yang terbatas. Kendala utama dalam bahasa, karena “ruang gelap” ini banyak berasal dari sumber-sumber tertulis dalam bahasa Beland. Hal yang penting sekali adalah niat dan kemauan untuk “menerangi ruang gelap” tersebut sehingga menjadi terang dan jelas isi dari ruangan periode antara tahun tahun 1700 – 1799 Masehi (Abad Ke-18 Masehi).



Jember Bagian dari Blambangan Barat = Poeger

Dari catatan J. Hageman Jzc memperlihatkan pembagian wilayah di Jawa Bagian Timur pada tahun 1770 dibagi menjadi 31 regenten (setingkat kabupaten). Bagian Ujung Timur Jawa (Java Oosthoek) sendiri terdapat dua wilayah, yaitu Oost Blambangan (Banjoewangi) / Blambangan Timur dan West Blambangan (Blambangan Barat).

Informasi di atas terdapat dalam catatan J. Hageman JCz dalam artikel “Geschied- En Aardrijkskundig Overzigt van Java Op Het Einde Der Achttiende Eeuw” yang dimuat dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land En Volkenkunde, (Batavia, Lange & Co., 1860) halaman 261 – 334). Keterangan Hageman menjelas West Blambangan atau Blambangan Barat terdiri dari Lamadjang dan Banger (Probolinggo), Djember dan Adirogo, Pradjekan, Sentong, dan Sabrang (hal. 165).

Berdasarkan keterangan C.J. Bosch, bahwa tahun 1757 Regentchap Poeger meliputi wilaah Poeger, Djember, Sentong dan Pradjekan. Keterangan ini diperoleh dari tulisan C.J. Bosch yang berjudul “Aanteekeningen Over De Afdeeling Bondowoso (Residentie Bezoeki)” dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land En Volkenkunde, (Batavia, Lange & Co., 1857), hal 469 – 494.

Selanjut setelah tahun 1757 M akibat skandal politi terjadi kekosongan kekuasan yang mengakibatkan wilayah-wilayah Poeger, Djember, Sentong dan Pradjekan memisahkan diri masing-masing. Kemudian masing-masing wilayah ini menjadi distrik yang terpisah yang dipimpin oleh seorang bekel di masing-masing wilayah tersebut. Dan setiap bekel di Poeger, Djember, Sentong dan Pradjekan membawahi beberapa koewoe (kepala desa).

Keterangan di atas memperlihatkan bahwa nama Djember telah ada pada tahun 1757 Masehi. Sejak kapan dan bagaimana asal usul nama Djember masih diperdebatkan oleh banyak kalangan. (Y. Setiyo Hadi, 26072013)

Sumber : http://kencongnews.com/

Saturday, March 23, 2013

Asal Usul Kota Jember

VERSI SATU
Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi.

Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik.

Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan.

Seiring dengan berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER.

VERSI DUA
Dahulu kala, di tepi pantai selatan Pulau Jawa terdapat kerajaan makmur dan tentram. Rajanya arif dan bijaksana. Segala hasil bumi negerinya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Karena itulah, rakyatnya hidup makmur.Kemakmuran kerajaan itu mengundang decak kagum dari kerajaan-kerajaan lain. Namun, juga mengundang niat jahat sekelompok bajak laut. 

Mereka ingin menaklukan dan menguasai kerajaan itu. Ketika para pengawal kerajaan sedang lengah, kelompok bajak laut menyerang. Menghadapi serbuan mendadak itu, pasukan kerajaan kalang kabut. Raja ikut berjuang langsung untuk mempertahankan kerajaannya. Namun ia lalu gugur dalam serangan itu. Begitu pula dengan putra-putra dan para menterinya.

Para pasukan hanya berhasil menyelamatkan putri Raja yang bernama Putri Jembarsari. Ia lah satu-satunya pewaris kerajaan yang masih selamat. Para pasukan lalu membawa sang putri ke daerah yang aman, jauh dari kerajaan.Kawanan bajak laut bergembira atas kemenangan itu. Kini, kerajaan itu pun dipimpin oleh kepala bajak laut.

Sementara itu, pengawal kerajaan yang membawa lari Putri Jembarsari tiba di tempat tersembunyi. Selama dalam persembunyian, Putri Jembarsari diajarkan berbagai ilmu beladiri. Putri Jembarsari pun dapat dengan mudah menerima berbagai ilmu itu. Kini, Putri Jembarsari tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menguasai berbagai ilmu beladiri. 




Iapun lalu diangkat menjadi pemimpin.Di daerah itu Putri Jembarsari dan pasukannya membuka hutan belantara menjadi sebuah perkampungan yang aman. Lama-kelamaan, banyak orang dari luar daerah berdatangan, lalu bermukim disana. Akhirnya, daerah itu menjadi sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh Putri Jembarsari.

Sementara kerajaan Putri Jembersari semakin besar, tidak demikian halnya dengan kerajaan para bajak laut yang makin terpuruk. Rakyat daerah itu tidak puas dengan pemimpinnya hingga sering terjadi pemberontakan. Dalam pemberontakan yang terakhir, raja bajak laut tewas.Rakyat di kerajaan bajak laut lalu mencari Putri Jembarsari. 

Mereka meminta Putri Jembarsari mengambil alih kembali kerajaan bajak laut dan meneruskan tahta ayahandanya.

Namun, Putri Jembarsari bingung. Ia berpikir,Aku kan sudah memiliki kerajaan sendiri. Kalau aku menjadi Ratu di kerajaan bajak laut, siapa yang akan memimpin kerajaan ini? “Namun, penasihatnya memberi usul. Kata penasihat kerajaan, lebih baik kedua kerajaan itu digabung saja. Pasti rakyat kedua kerajaan tidak akan keberatan. 

Putri Jembarsari lalu memutuskan‚Baiklah. Itu usul yang baik. Aku setuju untuk menggabungkan dua kerajaan ini.Usul itu pun dilaksanakan. Kini, kerajaan yang dipimpin Putri Jembarsari makin luas. Ternyata, masih saja ada yang iri hati dengan kesuksesan Putri Jembarsari. Ketika mengadakan kunjungan keluar kota, Putri Jembarsari dan pasukannya diserang oleh orang yang iri hati.

Karena tidak siap menghadapi serangan mendadak, Putri Jembarsari gugur. Seluruh rakyat berduka. Untuk mengenang jasanya, nama Putri Jembarsari diabadikan menjadi nama kerajaan itu, yaitu Kerajaan Jembarsari. Lama-kelamaan, nama itu berubah menjadi Jember dan tetap abadi sampai sekarang. Jember terletak di Jawa Timur.

VERSI TIGA
Alkisah ada putri raja Brawijaya bernama Endang Ratnawati. Putri ini cantik jelita hingga membuat para pria ingin berlomba melamarnya. Tapi rupanya sang putri selalu menolak lamaran karena masih belum mau berumah tangga. 

Sang putri lalu berniat menyepi. Sang putri keluar masuk hutan hingga berada di suatu daerah terpencil. Saat putri mandi di sungai Jompo datanglah seorang satria yang menggodanya. 

Hingga akhirnya satria menodai sang putri. Sang putri pun sedih. Dan karena larut dengan kesedihannya sang putri akhirnya mengeluh. 'Jember, jember badanku sudah kotor ternoda'. Lalu ia pun bunuh diri di sungai itu. Mayatnya kemudian ditemukan oleh orang dan dicari lah keluarganya. 

Karena tidak ketemu maka dikuburkanlah sang putri di tepi sungai Bedadung. Raja Brawijaya pun mencari-cari putri nya yang tak kunjung pulang. Hingga akhirnya terdengar kabar kalau sang putri sudah dikuburkan di suatu tempat yang akhirnya di kasih nama Jember (gumaman dari sang putri saat mengeluh).

VERSI EMPAT
Dulu Jember adalah sebuah hutan yang lebat dengan pohon yang sangat besar. sebegitu besarnya pohon tersebut, orang dewasa tidak bisa merangkul dan mempertemukan jemari tangan kiri dan kanannya. Butuh lebih dari satu orang untuk merangkul sebatang pohon. 

Selain hutan dan segala isi di dalamnya, yang ada hanya sungai, gundukan tanah, dan lautan rawa. Jika-pun ada tanah yang terhampar, bisa dipastikan tanah tersebut adalah tanah yang becek. Orang-orang menyebut wilayah ini dengan Jembrek. Bisa diartikan becek dan berlumpur. Kondisi tersebut semakin menjadi-jadi manakala turun hujan. 

Jika turunnya hujan sangat deras, wilayah yang terbentang di kaki Pegunungan Hyang dan tak jauh dari Gunung Raung ini juga rawan banjir. Sungai-sungai akan meluapkan air. Kata Bapak, ini namanya banjir maling.

Seiring berlalunya waktu, pengucapan kata Jembrek berubah menjadi Jember. 

Sebuah situs blog yang memuat tulisan (hasil wawancara dari seorang jurnalis Suara Soerabaia bernama Tiong Gwan. Dia berhasil membuat tangkapan sesaat mengenai situasi kota Jember tahun 1920. Berikut adalah cuplikannya. "Bila ada toeroen oedjan ketjil sadja, soedah tjoekoep membikin straat Djember berobah mendjadi laoetan loempoer."


VERSI LIMA
Sekali peristiwa, datang seorang tamu bernama Ki Ageng Kedu yang hendak menghadap Sunan Kudus. tamu tersebut mengendarai sebuah tampah. sesampainya di Kudus Ki Ageng Kedu tidak lah langsung menghadap Sunan Kudus, melainkan memamerkan kesaktianya dengan mengendarai tampah serta berputar - putar diangkasa. 

Seketika dilihatnya oleh Sunan Kudus, maka beliau murka sambil mengatakan, bahwa tamu Ki Ageng Kedu ini menyombongkan kesaktianya. Sesudah di sabda oleh beliau, berkat kesaktian Sunan Kudus, tampah yang ditumpangi Ki Ageng Kedu itupun meluncur ke bawah hingga jatuh ke tanah yang becek (bhs. Jawa : ngecember), sehingga tempat tersebut kemudian dinamakan Jember.


VERSI KEENAM

Kabupaten Jember dibentuk berdasarkan Staatsblad Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, 21 Agustus 1928.



Sumber :
http://letkolmochsroedji.org/story/seputar-jember.html
http://dedyspama.blogspot.com/2011_12_01_archive.html
http://cah-java.blogspot.com/2011/07/legenda-kota-jember.html
http://www.rzhakim.net/2012/07/asal-usul-jember.html
http://sufiroad.blogspot.com/2010/12/sufi-road-sunan-kudus.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Jember

Related Posts