Showing posts with label Kesenian. Show all posts
Showing posts with label Kesenian. Show all posts

Saturday, September 23, 2023

Asian Music Games di Jember

Sembilan negara hadir jadi peserta Asian Music Games di Jember 

 Kamis, 21 September 2023 20:10 WIB

Bupati Jember Hendy Siswanto (tengah) bersama Presiden AMBC Sehat Kurniawan Saiman saat konferensi pers di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Kamis (21/9/2023). ANTARA/Zumrotun Solichah

AMG merupakan kompetisi marching band pertama kali yang digelar di tingkat Asia dan kompetisi itu akan digelar setiap dua tahun sekali

Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Presiden Asian Marching Band Confederation (AMBC) Sehat Kurniawan Saiman mengatakan sebanyak sembilan negara dipastikan hadir menjadi peserta Asian Music Games (AMG) perdana yang digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 22-24 September 2023.

"Yang sudah memberikan konfirmasi hadir dalam kompetisi AMG 2023 di Jember sebanyak sembilan negara yakni Filipina, Thailand, Malaysia, Jepang, Taiwan, Cina, Singapura, Vietnam, dan tentunya tuan rumah Indonesia," katanya dalam konferensi pers Asian Music Games di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Kamis.

Menurutnya, AMG merupakan kompetisi marching band pertama kali yang digelar di tingkat Asia dan kompetisi itu akan digelar setiap dua tahun sekali sesuai dengan kesepakatan anggota AMBC yang terdiri dari 18 negara di Asia dan sekitarnya.

"Pemilihan Kabupaten Jember sebagai lokasi Asian Music Games 2023 melalui beberapa kali pertemuan dengan beberapa negara. Jember pengalaman menggelar kegiatan bertaraf internasional dan fasilitasnya memadai," tuturnya.

AMG perdana yang digelar di Jember itu diikuti oleh 35 tim beregu (grup) dan terdapat lima kategori perlombaan dalam AMG 2023, yakni music battle yang akan digelar di Alun-alun Jember, Marching Show Band digelar di GOR PKPSO, Concert Band di GOR PKPSO, Individual di GOR PKPSO, dan International Culture Street Parade dari alun-alun hingga Jalan Gajahmada.

Sementara Bupati Jember Hendy Siswanto mengatakan Pemkab Jember sudah melakukan persiapan jauh-jauh hari untuk kegiatan AMG 2023, bahkan beberapa negara sempat hadir di Jember saat sotf launching kegiatan marching band internasional itu.

"Tentu menjadi kebanggaan bagi warga Jember dengan kegiatan Asian Music Games yang dihadiri beberapa negara Asia karena kompetisi marching band internasional itu baru pertama kali digelar di Asia dan Jember menjadi tuan rumah," katanya.

Dengan adanya kegiatan internasional itu maka efek ganda (multiplier effect) dari segi ekonomi sangat berdampak luar biasa dan terbukti okupansi beberapa hotel di Jember meningkat karena ditempati para delegasi marching band baik dari beberapa negara maupun Indonesia dari luar Jember.

"Tidak hanya itu, para delegasi juga sudah memesan produk UMKM Jember, bahkan sudah siap berkeliling wisata di beberapa titik lokasi yang ditawarkan melalui booklet paket wisata," ujarnya.


Sumber :

https://www.antaranews.com/berita/3737856/sembilan-negara-hadir-jadi-peserta-asian-music-games-di-jember

Thursday, September 9, 2021

Ta-Buta’an

Ta-Buta’an, Tarian Seni Budaya Jember Menjadi Warisan Budaya

5 September 2021 6:20 PM

“Dengan begitu, diharapkan menjadi keunikan khusus yang orang lain atau daerah lain tidak punya. Jadi, harus kita catatkan agar tidak hilang.” DHEBORA KRISNOWATI - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember

Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) berupaya untuk mencatatkan salah satu seni budaya menjadi warisan budaya tak benda. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisparbud) Kabupaten Jember Dhebora Krisnowati seusai menggelar forum group discussion (FGD), belum lama ini.

Menurut dia, pencatatan kesenian ta-buta’an untuk warisan budaya tak benda (WBTB) pantas untuk dilakukan. Tujuannya agar warisan tersebut tetap lestari. “Dengan begitu, diharapkan menjadi keunikan khusus yang orang lain atau daerah lain tidak punya. Jadi, harus kita catatkan agar tidak hilang,” lanjutnya.

Selain itu, dia menerangkan bahwa warisan budaya itu juga bisa menjadi bahan pembelajaran untuk generasi-generasi selanjutnya. Sebab, ada warisan sikap, perilaku, dan tatanan kehidupan yang terkandung dalam tarian itu. Selain itu, banyak filosofi yang terkandung di dalamnya. Baik sebagai ritus atau tindakan maupun sebagai tarian pertunjukkan.

Lebih lanjut, Ketua Jurusan Sejarah FIB Universitas Jember Dr Eko Crys Endrayadi menambahkan bahwa perlu ada upaya atau strategi untuk bisa mencapai pengusulan ta–buta’an menjadi warisan budaya tak benda. “Kita perlu segera melakukan identifikasi terkait bentuk, fungsi, dan makna dari ta-buta’an,” ungkapnya. Tentu saja, perlu proses yang serius untuk bisa menggali sejarah dan budayanya.

Selain itu, harus mengidentifikasi ukuran, sehingga tarian ini betul-betul khas berasal dari Kabupaten Jember, khususnya dari Desa Kamal, Kecamatan Arjasa. “Dengan begitu, bisa kita usulkan menjadi tarian khas masyarakat Jember,” tegasnya.

Sementara itu, pendampingan dari para akademisi nantinya bakal berupa penggalian sisi historis dari tarian tersebut. Selain itu, pihaknya juga bakal bekerja sama dengan pihak DPRD, para praktisi, pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta para seniman ta-buta’an terkait. Tujuannya untuk mengeksplorasi supaya bisa terdedikasi dan bisa segera diusulkan menjadi warisan budaya tak benda.

Lebih lanjut, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jember Nyoman Aribowo menerangkan bahwa pihaknya bakal melakukan pendampingan terkait anggaran setiap program selama proses pengusulan tarian ta-buta’an menjadi warisan budaya tak benda. “Selain itu, kami melakukan controlling dari pihak eksekutif,” paparnya.

Dia menegaskan bahwa dengan mengangkat seni budaya itu menjadi WBTB, bukan semata-mata hanya untuk pencatatan. Namun, juga harus berdampak dan berkelanjutan. “Apalagi, ada keluhan bahwa secara ekonomi mereka kurang,” ujarnya.

Karena itu, dia menyatakan bahwa pemerintah bertugas untuk memfasilitasi agar seni tersebut bisa dikemas supaya mempunyai nilai ekonomi. Baik kepada pelaku seni maupun untuk masyarakat. “Kalau bisa dikemas dengan baik, bisa benar-benar berdampak untuk masyarakat,” pungkasnya. Dia mencontohkan, jika kesenian tersebut digelar, tentu akan menggerakkan roda ekonomi UMKM di sekitar lokasi pertunjukan.


Sumber :

https://radarjember.jawapos.com/budaya/05/09/2021/ta-butaan-tarian-seni-budaya-jember-menjadi-warisan-budaya/2/

Thursday, July 29, 2021

Tari Lahbako

Menyaksikan Tari Lahbako, Bentuk Penghargaan untuk Petani Tembakau Jember

Indonesia memiliki ragam budaya yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Salah satu bentuk keragaman tersebut adalah tari tradisional khas daerah masing-masing yang memiliki corak, karakteristik, dan keunikan yang berbeda-beda.

Salah satu provinsi yang memiliki ragam tari adalah Provinsi Jawa Timur. Misalnya tari remo, tari gandrung, tari topeng guro gudho, dan masih banyak lainnya. Nah, pada kali ini kita akan membahas tari yang yang berasal dari Kabupaten Jember, yaitu tari lahbako. Seperti apa itu tari lahbako?

Pada tahun 1985, Bupati Jember bernama Suryadi Setiawan, mengusulkan untuk menciptakan seni tari yang berasal dari Jember. Tari ini terinspirasi dari kegiatan masyarakat Jember yang mayoritas merupakan petani tembakau. Hal itu dikarenakan Jember merupakan salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia.

Sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap petani tembakau perempuan Jember, tercetuslah tari lahbako. Seperti dikutip dari seringjajan.com, nama Lahbako terdiri atas dua kata, yaitu "lah" dan "bako".

Kata "lah" merupakan potongan dari kata "olah", sedangkan bako merupakan singkatan dari tembakau. Sehingga, lahbako memiliki pengertian pengolahan tembakau.


Pertunjukan Tari Lahbako

Pada pertunjukan tari lahbako, biasanya terdiri dari 4 sampai 8 perempuan yang menari menggambarkan aktivitas di kebun. Pertunjukan awal di mulai dengan gerakan yang menggambarkan perjalanan, dari rumah ke tempat mereka bekerja (kebun tembakau).

Kemudian, dilanjutkan dengan tarian yang menggambarkan sedang memetik daun tembakau serta memasukannya. Lalu, disusul gerakan membawa keranjang ke gudang. Setelah tiba di gudang, para penari seolah-olah menjemur daun tembakau hingga kering.

Setelah proses menjemur, dilanjutkan dengan gerakan menata dan mengemas tembakau. Semua gerakan tersebut penuh makna serta mengandung nilai estetis yang tinggi. Tarian ini diiring oleh musik patrol yang terdiri atas suling, gendang, dan kentongan. Biasanya, musik ini dimainkan oleh tujuh orang laki-laki.


Busana Tari Lahbako

Busana yang digunakan pada Tari Lahbako merupakan busana tradisional yang mencerminkan petani tembakau yang ada di Jember. Pada bagian kepala, dihiasi sanggul memanjang keatas yang disebut sanggul cemol.

Selain itu, diberi pula hiasan 3 bendera yang berbeda warna. Setiap warna memiliki makna dan peran masing-masing petani. Ada yang memanen, menyortir, dan mengemas tembakau.

Terdapat juga anting-anting serta hiasan lainnya yang berbentuk daun tembakau. Sedangkan untuk baju, umumnya menggunakan kebaya. Untuk bawahan pada tari lahbako biasanya menggunakan kain panjang atau sarong serta celemek.


Perkembangan Tari Lahbako

Tari ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jember. Melihat bagaimana aktivitas mereka dalam bertani tembakau di aplikasikan ke dalam sebuah seni tari. Lahbako pada masa sekarang sangatlah terkenal dan menjadi salah satu ikon di Jember.

Hingga saat ini, tarian lahbako masih terus dilestarikan dan dikembangkan. Kawan-kawan GNFI akan menemukannya di sanggar-sanggar tari serta pementasan seni pertunjukan yang berada di daerah kabupaten Jember, Jawa Timur.

Tarian ini sering tampil pada ajang-ajang festival budaya seni tari, dan digunakan sebagai upacara penyambutan tamu-tamu kehormatan. Diharapkan, tari ini bisa terus lestari dan eksis hingga masa yang akan datang.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/07/16/menyaksikan-tari-lahbako-bentuk-penghargaan-untuk-petani-tembakau-jember

Tuesday, June 1, 2021

Tembakau Jember, Sumber Inspirasi Budaya

01 AGUSTUS 2019 18.00 WIB • 2 MENIT

    

Tembakau memang merupakan salah satu anugerah Tuhan kepada Tanah Jawa, khususnya Kota Jember. Bahkan sejak ratusan tahun yang lalu, ketika Portugis mendaratkan kaki mereka ke Bumi Nusantara, mereka telah mengenal Tanah Jawa sebagai penghasil tembakau.

Salah satu wilayah di Jawa (Jawa Timur) yang menjadi tempat perkebunan tembakau sejak masa kolonial adalah Jember. Para pengusaha Belanda berlomba-lomba mendirikan perusahaan tembakau di kota ini, salah satunya adalah Landbouw Maatschapij Oud Djember (LMOD) yang didirikan tahun 1859 oleh controleur George Bernie.

Beberapa tahun berikutnya, nama Landbouw Maatschapij Oud Djember diubah menjadi Oud Djember saja. Kisah panjang tentang historiografi tembakau di Tanah Jawa, khususnya di Jember, akan penulis ulas, pada kesempatan lain.

Kali ini penulis sedikit ingin mengulas tentang dua ikon budaya Jember yang lahir karena terinspirasi dari komoditas tembakau.


Tari Lahbako dan Musik Patrol

Nampaknya, tembakau memang menjadi anugerah Tuhan yang penuh berkah bagi masyarakat Jember. Tembakau tidak hanya sekedar sebagai komoditas utama saja, namun berikutnya menjelma sebagai inspirasi terbentuknya ikon budaya Kota Jember.

Setidaknya ada dua identitas kultural Jember yang lahir dari inspirasi tembakau. Pertama, daun tembakau mengilhami para perajin batik di Jember menjadikannya sebagai motif batik.

Kedua, aktivitas harian petani tembakau mengilhami terciptanya Tari Lahbako. Akronim “Lahbako” terambil dari kata “Lah” dan “Bako” yang artinya adalah mengolah tembakau.

Tari tersebut diciptakan pada tahun 1980-an atas prakarsa Kolonel Suryadi Setiawan, yang menjabat Bupati Jember kala itu, tokoh masyarakat, dan beberapa seniman yang terlibat sebagai inisiator.

Mereka mengundang Bagong Kussudiardja, seorang koreografer dan pelukis Indonesia terkemuka untuk datang ke Jember. Dari situlah akhirnya Tari Lahbako tercipta berdasarkan pengamatan Bagong Kussudiardja dan para inisiator terhadap aktivitas para buruh tembakau mulai dari saat bekerja di ladang, hingga ketika mereka bekerja di gudang.

Tari Lahbako biasa diiringi dengan alat musik kendang, seruling, dan alat musik dari bambu. Perpaduan alat-alat musik itulah yang disebut sebagai musik patrol, yang juga khas Jember.


Batik Jember

Jika ngobrol mengenai batik, tentu tidak lepas dari Jogja, Solo, atau Pekalongan sebagai kota-kota pusat kerajinan batik. Siapa sangka, meskipun tidak sepopuler tiga kota tadi, Jember ternyata memiliki tradisi kerajinan batik dengan motif yang unik dan khas.

Tembakau, kopi, dan coklat, sebagai tanaman komoditas andalan Jember menginspirasi para perajin batik Jember untuk menjadikannya sebagai motif karyanya.

Selain tiga motif itu, pengrajin batik Jember adakalanya juga menggunakan motif gambar buah naga dan burung. Namun di antara motif-motif tersebut, batik bermotif tembakau atau Batik Labako adalah motif yang dominan digunakan sebagai ikon Batik Jember.

Produk kerajinan batik Nusantara yang terkenal umumnya bermotif Keraton, Parang Rusak, Mega Mendung, Kawung, dan lain sebagainya.

Pemilihan tembakau dan tanaman komoditas lainnya sebagai motif, tentu membuat batik Jember keluar dari pakem motif batik pada umumnya.

Di Jember, setidaknya terdapat dua lokasi yang terkenal sebagai sentra kerajinan Batik khas Jember.

Pertama, sentra kerajinan batik yang terletak di Desa Sumberpakem Kecamatan Sumberjambe. Di sini, kerajinan batik telah berlangsung turun-temurun. Motif batik yang dikembangkan di sentra ini adalah batik bermotif tembakau atau Batik Labako.

Kedua, Rumah Batik Rolla yang terletak di Jl. Mawar, Kelurahan Jember Lor Kecamatan Patrang. Sentra batik yang dikelola oleh Iriane Chairani Megahwati ini memproduksi dan mengembang aneka ragam corak dan motif batik khas Jember, serta terobsesi untuk mewujudkan Kampung Batik Jember.

Batik Jember selain tidak luput diperagakan dalam Jember Fashion Carnival (JFC) juga pernah go international dalam peragaan busana di Paris Fashion Week 2018.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/08/01/tembakau-jember-sumber-inspirasi-budaya

Tuesday, September 25, 2018

Batik Jember di Paris Fashion Week 2018


Ada Batik Jember di Paris Fashion Week 2018

Lia Afif, desainer muslim Indonesia, berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Jember akan memamerkan batik Jember ke kancah internasional melalui peragaan busana di Paris Fashion Week 2018 pada 25 September 2018.

"Kami mengangkat batik Jember yang merupakan bentuk dukungan untuk batik-batik di Jawa Timur go international," kata Lia Afif di sela-sela pemotretan model batik Jember di Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma) Jember, Jawa Timur, Sabtu (15/9/2018).

Pada kegiatan "Paris Fashion Week 2018", desainer asal Surabaya itu akan membawa 20 koleksi batik khas Kabupaten Jember karena warisan budaya Indonesia menjadi tema koleksi para desainer Indonesia pada kegiatan parade busana bergengsi tersebut.

"Batik Jember sangat bagus dan menarik, bahkan sebelum pemotretan yang berlangsung di Pantai Papuma, batik-batik tersebut sudah terpajang dan mendapat daya tarik dari peminat batik," tuturnya.

Ia mengatakan pihaknya membawa semangat dari Jember dengan membawa karya batik khas Jember yang menggunakan batik warna alam.

"Motif batik Jember yang berbeda menjadi daya tarik bagi desainer dengan mengangkat motif dari hasil bumi Kabupaten Jember, seperti coklat, kopi, dan tembakau karena setiap daerah harus punya karakter, dan batik Jember berkarakter," katanya.

Dalam momentum itu, lanjut dia, pihaknya ingin menunjukkan koleksi dari Indonesia dengan kain-kain nusantara seperti kain batik yang menggunakan warna dari bahan alam bisa mengikuti ajang peragaan busana di Paris Fashion Week 2018.

"Banyaknya pengalaman dalam kegiatan peragaan busana akan menjadi pelajaran dan evaluasi dalam mengikuti Paris Fashion Week 2018," ujarnya.

Lia Afif ingin menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion batik model muslim dunia dengan mengenalkan batik-batik yang memiliki karakter yang kuat seperti batik Solo, sehingga diharapkan jadi tren pakaian muslim di dunia.

Sementara Dedi Winarno pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Jember menyambut baik rencana desainer Lia Afif yang mempromosikan batik Jember dalam peragaan busana di Paris Fashion Week, sehingga batik Jember bisa go international.

"Digunakan batik Jember dalam peragaan busana di Prancis akan berdampak positif bagi Kabupaten Jember," katanya.


Sumber :
http://senggang.suarasurabaya.net/news/2018/209673-Ada-Batik-Jember-di-Paris-Fashion-Week-2018

Sumber foto :
https://jemberkab.go.id/wp-content/uploads/2018/09/

Sunday, November 5, 2017

Tato Band


Tato merupakan sebuah grup musik asal Indonesia yang berdomisli di Jember. Grup musik ini dibentuk pada tahun 1996. Anggotanya berjumlah 5 orang yaitu Dikdik (vokal), Toto (gitar), Za-q (bass), Edwin (keyboard), dan Lhoz't (drum).

Album pertamanya ialah Satu Senyum Saja dirilis pada tahun 1996. Band ini umumnya bergenre rock. Album 1 Tato (Satu senyum saja) beranggotakan Toto (guitar) Tatang (drummer)Didi (vocal) Wahyu (bas) Otong (kyb) album ke 2 Tato yg Ber tajuk nyanyian kita dng lgu andalan Cintai aku.dng anggota yg masih yg msh tetap Dan pada 2008 Tato meluncurkan album ke 3 yg bertajuk karena sahabat dengan beranggotakan Toto (guitar) lhozt(Drum) zaki (bas). Kyb Dan vocal addtional

Tato demikianlah nama ini dipilih untuk nama band mereka, sekumpulan anak – anak muda dari Jember, Jawa Timur. Yang mencoba keberuntungan untuk menjadi band terkemuka dijajaran musil tanah air pada saat itu.

Terinspirasi pada perjalanan menuju ibukota, disepanjang pantai utara pulau Jawa, banyak sekali supir – supir truck dengan tattoo menghiasi tubuhnya. Mereka beranggapan bahwa tatoo memiliki nilai keabadian. Dan secara filosofis mereka pun ingin mempunyai sebuah band yang abadi, yang akan selalu di kenang, maka dipilihlah nama band mereka dengan nama TATO.

Secara resmi TATO berdiri pada tahun 1994, embrio awalnya di kota Jember, sempat bergabung dengan Anang ( Suami dari KD ) dalam group Morganster. Setelah ditinggal Anang ke jakarta, mereka berevolusi dari JRS ( Jember Rock Section ) dan kemudian menjadi TATO.


Jajaran televisi nasional dan radio – radio di seluruh Nusantara pada saat itu, semuanya memutar lagu yang konon sangat fenomenal, karena dari kalangan anak – anak, remaja, maupun dewasa hafal dengan lagu dari TATO yang berjudul ” Satu Senyum Saja ” yang terjadi pada tahun 1996.

Angka 350.000 copy adalah sangat fantastis bagi band baru apalagi dari daerah, untuk penjualan album pertama. Dan TATO telah membuktikannya.

Tahun berikutnya TATO kembali sukses dengan album keduanya, lagu ” Cintailah Aku ” juga merajai tangga – tangga lagu nasional, bersaing dengan munculnya Dewa 19 yang pada saat itu muncul dengan lagu hits nya ” Kangen “.

Setelah terjadi krisis ekonomi global, dan krisis politik pada tahum 1998, rencana TATO merilis album ketiganya berantakan. Masing – masing personel kembali ke kampung halaman di kota Jember.

Setelah berselang satu decade, kemauan dan motivasi yang sangat tinggi dari segenap personil TATO yang masih bertahan, munculkan upaya untuk mulai kembali berkiprahkembali dijajaran musik nasional.

Dengan bergabungnya tiga personil baru yaitu, Okkie ( vocal ),  Zakie ( bass ), dan Lhoz’t  ( drum ), serta Toto ( gitar ) yang merupakan satu – satunya personil TATO yang masih bertahan. TATO mencoba menawarkan konsep musik yang sedikit berbeda.

Dan pada saat ini dibawah naungan Mi2 Music Production, TATO berganti menjadi TATOO, dan bersiap kembali meluncurkan album ketiga yang bertajuk ” Karena Sahabat “.

” Karena Sahabat “lah TATOO mampu bangkit kembali setelah sekian lama vakum,   ” Karena Sahabat “lah TATOO termotivasi untuk kembali melaju di papan atas jajaran musik Indonesia.
” Karena Sahabat “lah TATOO tetap pada pendirian untuk tetap menjadi yang terbaik.


Sumber :
https://www.facebook.com/notes/komunitas-gitaris-jember/5-musisi-dan-seniman-asal-jember/505771796158405/
http://id.wikipedia.org/wiki/Tato_(grup_musik)
http://infotatoo.wordpress.com/

Sunday, August 14, 2016

Agustusan 2016 di Jember




1. Tuan Rumah Karnaval Se-ASEAN
Jember akan menjadi tuan rumah dalam gelaran karnaval yang bertaraf  internasional dengan tema "2016 Wonderful Archipelago Carnaval Indonesia", dengan di ikuti oleh 10 negara di Asia Tenggara, yang akan digelar pada hari Selasa, 23 Agustus 2016.

Kementerian Pariwisata dengan bidang Ekonomi Kreatif menobatkan kota Jember sebagai Kota Karnaval.



2. MATA NAJWA ON STAGE  (Live Di Jember)

Mata Najwa On Stage akan live di Stadion Jember Sport Garden (JSG) pada hari Sabtu, tanggal 27 Agustus 2016, dengan narasumber Presiden RI, Ir. Joko Widodo, beberapa Menteri, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur serta Seluruh Bupati/Walikota Se -Jawa Timur.




3. Kunjungan Presiden RI Joko Widodo
Presiden Jokowi ke Jember pada hari Sabtu, tanggal 27 Agustus 2016.


4. Jember Fashion Carnival (JFC)

Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-15 yang akan digelar pada 24-28 Agustus 2016. Jember Fashion Carnaval memasuki tahun ke 15 dengan tema utama REVIVAL ( Kebangkitan Indonesia di berbagai bidang ) dengan sub tema Garuda, Hortus, Technocyber, Woods, Paradisaea, Refugees, Ocean, Chandelier, Olympic dan Barong.



Sumber :
http://www.jemberbagus.com/2016/08/jember-duwe-gawe-serangkaian-acara-di.html
http://www.jemberfashioncarnaval.com/main.php

Thursday, July 2, 2015

Agustusan di Jember

Melihat jadwal acara Agustusan jadi kepengen segera mudik pas Lebaran nanti, sayangnya acara belum pas mudik nanti. Ya, setidak-tidaknya meski ga ikut acara bisa lihat di sosial media, sudah cukup lah mengobati.


Jadwal Kegiatan AGUSTUSAN di Jember

25 Juli 2015 19.00
Launching
Alun-alun
JemberArtis:
- Budi Doremi
- Citra Scholastika
- Cita Citata
-Wandra
- Suliana

26 Juli 2015 06.00
Jember 100 Km and Funbike
Start/Finish: Alun-alun Jember
-Kelas 100 Km- Kelas 25 Km

1 – 2 Agustus 2015 07.00
Jember Adventure Trail (JERAT)
Start/Finish :Alun-alun Jember

1 – 2 Agustus 2015
Drag Bike
Jl. Gajah Mada (Depan BCA)
8 Agustus 2015 10.00
Gerak JalanTanggul-Jember Tradisional (TAJEMTRA)
Start : Alun-alun Tanggul
Finish : Alun-alun Jember

15-16 Agustus 2015
Downhill Seri Nasional
Rembangan

15 Agustus 2015
Jambore Motor Besar
Balai Serbaguna GOR Kaliwates

16 Agustus 2015
Jambore Motor Kecil
Balai Serbaguna GOR Kaliwates

23-24 Agustus 2015
Airshow
Watu Ulo dan Papuma
- Paramotor
- Gantole/trike

23-24 Agustus 2015
Jember Beach Game
Watu Ulo
-Tarik Tambang
-Bentik/patil lele
-Festival Layang
-layang hias

24-25 Agustus 2015
WACI :: Wonderful Archipelago Carnival Indonesia
Alun-alun Jember

26-30 Agustus 2015
JFC :: Jember Fashion Carnaval
Alun-alun Jember

24-30 Agustus 2015
Pameran Batu Akik dan Pameran Origami
Alun-alun Jember


Sumber :
https://www.facebook.com/100.KOber/photos/a.256333541093110.65008.250213838371747/1025189514207505/?type=1

Wednesday, January 28, 2015

Kostum The Chronicle of Borobudur

Kostum The Chronicle of Borobudur buatan Presiden Jember Fashion Carnival - Dynand Fariz - Menang di Ajang Miss Universe


TANGIS bahagia Dynand Fariz tak terbendung saat tahu kostum nasional Indonesia menjadi yang terbaik di Miss Universe. Pasalnya, Dynand merupakan sosok di balik kostum tersebut.

Dynand Fariz pertama kali tahu menang ketika dihubungi langsung pihak Yayasan Puteri Indonesia (YPI). Presiden Jember Fashion Carnaval ini mengaku terkejut karenanya.

“Iya, saya masih shock. Baru saja dihubungi pihak Yayasan Puteri Indonesia (YPI), yang memonitor di final Miss Universe, kalau kostum saya menang sebagai Best National Costume,” katanya sambil menangis bahagia kepada Okezone melalui sambungan telefon, Senin (26/1/2015).

Dynand sebelumnya sangat optimistis bisa menang. Kemenangan ini menambah sederet prestasi Dynand yang luar biasa di kancah internasional.

“Ke depannya saya berharap semoga Indonesia bisa ditakuti dalam ajang kostum nasional, dan kita harus menjadi pemimpinnya. Dengan kekayaan pesona alam dan segala macam budaya negara kita, banyak yang bisa diangkat. Seperti keajaiban dunia, Borobudur, yang saya jadikan kostum untuk Elvira memang berkelas di mata dunia,” timpalnya.

Dynand membuat kostum untuk Elvira Devinamira dengan tema “The Chronicle of Borobudur” untuk ajang Miss Universe. Sesuai temanya, kostum tersebut memiliki detail Candi Borobodur, yang terbuat dari berbagai material. Secara keseluruhan, kostum tersebut memiliki berat sebesar 20 kilogram.

“Saya juga ingin berterima kasih kepada para pendukung yang telah mem-vote kostum nasional Indonesia sehingga menghantarkan Elvira menjadi pemenang Best National Costume di Miss Universe,” tutup Dynand Fariz dengan bangga.

Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira meraih gelar busana nasional terbaik di ajang kontes kecantikan ratu sejagad, pada 26 Januari 2015 di Florida International University, Doral, Miami, Amerika Serikat.

Ini menjadi prestasi yang bisa mengobati kekecewaaan Elvira yang langkahnya terhenti, setelah tidak masuk 10 besar Miss Universe, melainkan hanya lolos 15 besar.

Bahan kostum tersebut terbuat dari tafeta sutra dan dipadukan dengan motif songket. Dari bahan itu, dibuatlah relief Candi Borobudur serta diberi detail manik-manik dan kristal. (Baca: Puteri Indonesia Pakai Baju 20 Kg di Miss Universe)

Untuk melengkapi penampilan, ada rangka membentuk stupa dengan berat sekitar lima kilogram yang dipasangkan pada bagian punggung. Pengerjaan kostum ini dilakukan Dynan sejak September 2014 dengan melalukan riset selama sebulan.

Busana Borobudur yang dikenakan Elvira ini mengalahkan empat negara lainnya yang sebelumnya terpilih sebagai lima kostum nasional terbaik. Negara yang berhasil dikalahkan Indonesia adalah Argentina, Kanada, Jerman, dan India.

Tahun ini, dua wakil Indonesia meraih best national costume dalam kontes kecantikan internasional. Elfin Pertiwi yang meraih gelar best national costume dalam kontes Miss International 2014 dengan kostum Tale of Siger Crown asal Lampung. Dan Estelita Liana dalam kontes Miss Supranational 2014 dengan kostum Warrior Princess of Borneo.

Pria lulusan ESMOD ini merasa semua kostum yang didesainnya pada ajang kontes kecantikan mempunyai tingkat kerumitan tersendiri. "Tiap kostum ada cerita pembuatannya, jadi tingkat kesulitannya juga berbeda-beda. Yang jelas bikin kostum ini nggak boleh asal-asalan karena kita membawa nama Indonesia," paparnya lagi.

Dengan terpilihnya Indonesia sebagai pemenang kostum nasional terbaik pada ajang Miss Universe 2014, Dynand berharap Indonesia menjadi negara yang paling disegani dari sisi kostum nasional oleh negara lainnya. Hal ini pulalah yang membawa pelajaran berarti untuknya, yakni dalam mendesain kostum tidak boleh sembarangan, selalu mematangkan konsep, memperkaya detail dan menunjukkan penampilan yang kuat.

"Kalau aku pribadi harapannya ke negara, kita punya museum karnaval di Jember. Jadi bisa menyimpan semua kostum-kostum yang pernah menang dalam kontes. Semoga saja bisa menjadi salah satu destinasi wisata terbaru," tutupnya.


Sumber :
http://lifestyle.okezone.com
http://www.tempo.co
http://wolipop.detik.com

Tuesday, November 18, 2014

Jaran Kencak

Hindari Kepunahan, Para Pelaku Seni Gelar Kesenian Jaran Kencak


Jember memiliki seni tradisional yang dikenal sebagai "Jaran Kencak" atau "Kuda Menari". Tarian ini dibawakan saat digelar satu pesta besar.

Kuda Menari adalah sebuah tarian yang unik yang dapat ditemukan di Jember. Saat ini, seni kuda menari tidak hanya digunakan untuk pesta-pesta tetapi juga untuk karnaval dan festival. Dengan kata lain, seni kuda menari telah menjadi obyek wisata di Jember.

Salah satu warisan budaya dan seni di masyarakat Jember adalah jaran kencak (kuda menari). Bagi masyarakat desa Jember bagian selatan mempunyai kegemaran bilamana mempunyai hajat akan menggelar jaran kencak untuk menghibur para tamu yang diundang. Kuda atau jaran kencak (bhs Jawa) yang dipakai bukan sembarang kuda, namun kuda jenis ini adalah kuda yang senang menari dengan mengikuti irama musik tradisional yang ditabuh oleh pengiringnya. Untuk melengkapi keunikan dan lebih menarik maka kudakuda itu dihias sedemikian rupa.

Ciri unik kuda kencak ini adalah pertunjukan atraksi kuda, seperti kuda yang bisa berdiri dan atraksi menarik lainnya. Kuda-kuda ini dihias dengan pernak pernik berwarna menambah kemeriahan acara.

Dalam memperingati hari jadi kota Lumajang ke 758 yang lalu, panitia festival kuda kencak mendatangkan sekitar 200 ekor kuda untuk mengikuti festival.

Acara yang disaksikan ribuan masyarakat Lumajang ini diawali dengan pertunjukan tarian “jaran slining” atau tarian kuda buatan. Puluhan peserta mengenakan akesesoris khusus menari mengikuti irama dari pemusik. Selanjutnya diikuti ratusan peserta festival kuda kencak se- lumajang

Ketua Paguyuban kuda kencak, A’ak Abdullah Kudus mengatakan tujuan digelarnya festival ini untuk membangkitkan seni kuda kencak yang hampir punah di Lumajang karena kesenian ini asli dari lumajang

Dalam kesenian ‘jaran kencak’, kuda-kuda yang sudah terlatih ini sedang menunjukkan tariannya. (huda/wartajember)Dalam kesenian ‘jaran kencak’, kuda-kuda yang sudah terlatih ini sedang menunjukkan tariannya. Jaran kencak atau kuda yang bisa berjoget merupakan sebuah kesenian dan hiburan yang unik, yang berkembang di masyarakat. Seiring perkembangan jaman, kesenian ini sudah hampir punah. Untuk mempertahankan dan membangkitkan kembali minat generasi pada kesenian itu, para pelaku seni Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, kemarin (19/8/13) menggelar seni jaran kencak tersebut.

Puluhan warga, dengan membawa serta buah hati masing-masing berbondong-bondong menyaksikan kesenian unik Jaran Kencak yang digelar di pelataran rumah Mualimin, di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Jember. “Ini merupakan pertunjukan langka. Dulu sering ada. Namun beberapa tahun terakhir, pertunjukan seperti ini jarang kita jumpai,” kata Rido’i, salah seorang warga Sukorejo.

Dijelaskan, dirinya mengajak buah hatinya untuk melihat langsung agar buah hatinya bisa tahu dan kenal dengan kesenian yang sudah turun temurun tersebut. Karena menurutnya, anak jaman sekarang sangat jarang yang tahu dan kenal dengan kesenian tradisional.

“Ayo nari,” perintah sang pemilik kuda mengawali gelaran atraksi kuda-kuda yang bisa berjoget. Berbagai akseksoris yang membuat suasana semakin meriah juga terpasang di tubuh sang kuda. Warga pun semakin larut dalam jogetan kuda-kuda kencak.

Supa’at warga Balung, Jember, salah satu pemilik kuda kencak menjelaskan jika seni jaran kencak merupakan kesenian dari leluhur yang harus dipertahankan. Namun, perkembangan jaman membuat kesenian yang sudah digelutinya sejak kecil ini hampir punah.

Agar terkesan tidak monoton dan penonton menjadi bosan, Supa’at mengubah penampilan kuda dan alur penampilannya menjadi lebih menarik. “Saya beri modifikasi akseksoris seperti pakaian dan tanduk, agar lebih kelihatan menarik dan disenangi,” terangnya.

Selebihnya, Supa’at berharap pada pemerintah agar tergugah hingga memberi perhatian lebih pada komunitas seni, terutama jaran kencak. Dengan begitu, akan memancing minat generasi muda untuk menyukai kesenian tersebut. “Selama ini, saya menilai, perhatian dari pemerintah Jember sangat sedikit dalam bidang seni, terutama pada seni jaran kencak. Kedepan, saya berharap pemerintah lebih perhatian lagi pada kesenian ini,” terang bapak dua anak ini.


Sumber :
http://jembertourism.com
http://wartajember.com
http://www.jtvjember.net
http://www.eastjava.com

Saturday, August 23, 2014

Jember Fashion Carnival 2014

Jika tahun 2013 lalu, saat mudik ke Jember aku masih sempat melihat secara langsung persiapan Jember Fashion Carnival 2013, namun sayangnya untuk tahun ini aku tidak dapat menyaksikan seluruh pergelaran apik dari Jember Fashion Carnival 2014.



Dengan motto "Sebab kebudayaan itu sendiri selalu berawal dari ketiadaan", acara Jember Fashion Carnival 2014 dilangsungkan selama 5 hari, yaitu mulai dari tanggal 20 Agustus 2014 hingga berakhir pada puncaknya tanggal 24 Agustus 2014.

Ajang tahunan yang diprakarsai oleh desainer Dynand Fariz ini diadakan untuk membuat Kota Jember, Jawa Timur, sebagai pusat karnaval dan pusat fashion di Indonesia. 

Dalam keterangan yang dirilis via Twitter, Jember Fashion Carnaval XIII akan mengusung tema TRiANGLE, Dynamic in Harmony dan akan menampilkan 10 (sepuluh) defile dengan berbagai tema yang telah ditentukan oleh penyelenggara JFC. Kesepuluh tema tersebut adalah:

Mahabharata
Borobudur (Archipelago Defile)
Tabora (Sumba Mountain)
Phoenix (Firebird & Fantasy)
Wild Deer (Unique Thorn)
Stalagmite (Unique Nature Ice Phenomenon)
Flying Kite (Colorful Kite Festival)
Apache (Exotic Ethnic Indian Tribe Tents)
Pine Forest (Wonderful Tree Texture)
Chemistry (Atractive Color and Dance Party)


Jember Fashion Carnaval XIII akan diikuti oleh berbagai pelaku industri kreatif, penggemar dunia fashion dan berbagai sekolah mode yang akan turut berpartisipasi dalam pelaksanaan Jember Fashion Carnival. Catwalk yang akan digunakan untuk menampilkan arak-arakan karnaval fashion ini merupakan jalan utama Kota Jember sepanjang 3,6 kilometer.


http://www.jemberfashioncarnaval.com
http://www.internationalcarnivalinstitute.com
https://www.facebook.com/pages/Jember-Fashion-Carnaval
http://www.triptrus.com

Saturday, July 12, 2014

Sahabat Sejati - Opick


Sejak tembang Tombo Ati yang populer di tahun 2004, hingga kini Opick selalu menelurkan album religi setiap tahunnya dan mencetak hit. Jelang ramadan ini, Opick kembali menyajikan  karya-karya emasnya lewat album bertajuk "Sahabat Sejati".

PENYANYI, pencipta lagu, dan bintang film, Opick tidak pernah kehilangan ide menciptakan lagu bertemakan religi. Hampir setiap tahun, karya-karyanya mewarnai bulan suci Ramadan.

Niat tulus itulah yang membuat ia tak mau keluar dari jalur musik religi. Album ini terbilang istimewa. Pemilik nama lengkap Aunur Rofiq Lil Firdaus ini melibatkan putri sulungnya, Ghaniya.

Lirik dalam tembang duet Opick-Ghaniya ini berangkat dari pemikiran sederhana seorang gadis cilik tentang arti sahabat sejati. Opick menyempurnakan karya sang putri, kemudian lahirlah tembang  itu dan menjadi judul album.

Opick pun selalu konsisten menunjukkan kteatifitasnya dalam mengemas aneka genre musik. Dalam album ke - 10 ini Opick menujukkan kematangan musikalitasnya. Proses pembuatan album tersebut, Opick membutuhkan waktu enam bulan.

Opick mengemasnya lebih modern. Karya-karya yang religius dan tertuang dalam lantunan lagunya itu pun tidak hanya untuk sekadar mengajak pendengarnya untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Akan tetapi, warna musik dan lirik lagunya pun bertemakan persahabatan. “Memang ini agak berbeda, ini agak modern, ini bisa menjadi warna bukan untuk orang tobat saja, tapi untuk senang-senang bisa, tentang sahabat, cinta semua saya gambarkan lewat liriknya,” kata pria kelahiran Jember, Jawa Timur, 16 Maret 1974 itu.

Namun, disempurnakan olehnya. “Lewat lagu ini kita seperti diingatkan. Oh, ternyata sahabat kita itu bisa jadi ayah, bisa ibu, nenek atau kerabat lainya. Dan lagu ini pun bisa berbicara tentang hubungan orang tua dan anak ataupun lebih luas lagi,” tandas Opick tentang lagu berirama riang itu.

Pemilihan Ghaniya, Putri sulungnya untuk berduet dengannya di album ke 10 ini pun penuh pertimbangan. Selain untuk mengasah bakatnya, Opick merasa putrinya memang sudah siap untuk melanjutkan perjuanganya di belantika musik tanah air.

“Dia (Ghania, Red) sudah lama nyanyi, tapi saya nggak mau langsung terjun sendiri bersolo karir. Dia harus belajar dulu, salah satunya dengan berduet,” katanya. Rupanya pemilihan putrinya sebagai teman duet di album terbarunya tersebut mengisyaratkan bahwa lirik lagunya tidak hanya untuk para dewasa.

Namun, hampir 10 album religinya yang telah dikeluarkanya setiap bulan Ramadan selalu ada satu tembang yang dinyanyikan anak-anak. “Saya punya gambaran, musik cuma pakaian saja, intinya adalah manusianya.

Apa yang disampaikan sebenarnya adalah syairnya. Dan syair itu bukan untuk yang dewasa. Anak-anak pun bisa mencernanya,” jelasnya. 

"Lewat lagu ini kita seperti diingatkan, ternyata bisa saja sahabat kita itu,  ayah, ibu, nenek atau kerabat lainnya. Ini berbicara tentang hubungan orang tua dan anak atau bahkan lebih luas lagi," kata Opick saat peluncuran Album barunya di Supermarket Indomart, di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (27/6).

Opick memang selalu membuat tembang duet, dan lagu-lagu yang diciptakannya sangat familiar dipendengar kanak-kanak. Namun keikutsertaan putrinya bukan semata-mata akan memasung perkembangaan anak-anaknya dengan mengikuti jejaknya. Untuk itulah Opick tetap mengharuskan pendidikan kepada Ghaniya. "Dia (Ghaniya) sekolah kelas 6," katanya.

Sebagai orang tua, ia pun sadar tumbuh kembang serta pendidikan adalah nomor satu yang harus diperoleh setiap anak-anaknya. Meski tanpa disadari, kegiatan sebagai penyanyi yang penuh dengan kegiatan panggung yang hampir tak bisa di prediksi waktunya nantinya akan membuat Ghaniya terlena dan kecapekan.

"kasihan nanti dia nggak punya ruang untuk belajar dan bermain bersama teman-temannya. Karena dunia panggung itu kejam ya. Kasihan dia kalau semua dia ikutin bisa kelenger dia," katanya.

Mengantisipasi itu semua, Opick tak mau menyerahkan manajemen anaknya kepada orang lain.

"Yang pegang manjemen itu istri saya sendiri, jadi dia sekarang tau apa yang menjadi kebutuhan kita. Karena selama ini kehidupan saya kaya bang Toyib jarang dirumah. Akhirnya anak-anak jarang sekolah dan sering kut sama saya. Saya sama Ghaniya itu sangat dekat kemana-mana selalu ikut. Makanya manajemen istri saya yang lebih tahu mengatur jadwalnya," imbuhnya.

Mendapat didikan serta arahan dari orang tuanya, Ghaniya pun sangat Senang. Kedekatan dirinya dengan ayahnya tak membuat dara yang tahun ini masih duduk dibangku Sekolah dasar (SD) itu tetap merasa nyaman berada didekat Opick.

"Senang bisa nyanyi sama ayah," Ghaniya mengungkapkan kalau orang tuanya tak pernah memaksa untuk melakukan keinginannya. seperti halnya berduet dengan Opick.

Tahun ini senandung islami Opick dialunkan lewat album 'Sahabat Sejati'.

Dibuka lewat lagu 'Maha Pemurah', lagu tersebut terdengar klasik di mana warna yang sama disajikan dengan lagu-lagu religi Opick sebelumnya. Memasuki lagu kedua 'Tuhan Beri Kami Cinta' sentuhan lebih berbeda.

Intro awal bernuansa musik gambus seraya membuat para pendengar cukup membuat orang tergoda. Selai itu, suara gitar akustik yang terdengar begitu dominan membuat lagu ini cukup nikmat untuk terus didengarkan.

Selanjutnya, ada track berjudul 'Karenamu' lebih menggali musik penyanyi asal Jember itu lebih dalam. Seperti beberapa lagu yang sukses membuat orang termenung seperti 'Bila Waktu Telah Berakhir' atau judul lainnya seperti coba disajikan di album ini.

'Kembalilah' dipilih menjadi track ke empat, sama hal yang dengan track sebelumnya lagu ini seperti ingin menampilkan kekhasan dari seorang Opick. Kuat dilirik yang penuh makna dan musik mudah dicerna kuping orang awam.

Sempat dipopulerkan dan beredar luar di sekitaran Jawa Tengah hingga Jawa Timur lagu daerah bertema islami 'Lir Ilir' dimasukkan jadi pembeda album ini. Sentuhan dibuat semodern mungkin oleh Opick hingga tak terdengar sebagai lagu lawas.

Nah, memasuki track keenam ada sosok putri Opick, Ghaniya yang sepertinya mencoba melanjutkan tahtanya. Berduet dengan sang ayah, di lagu 'Sahabat Sejati' kedua berkolaborasi dengan merdu dan tak heran lagu ini menjadi jagoan utama album ini.

Kemudian ada 'Sentuh Aku' dan 'Subhanallah - Ingat Ingatlah' mengisi selanjutnya dalam album ini. Lagu terakhir terdengar lebih modern dengan sentuhan biola hingga suling yang mengisi beberapa part dalam lagu ini.

'Ya Muhammad' dan 'Temukan Dirimu' menjadi lagu penutup di album 'Sahabat Sejati'. Lagu terakhir terdengar sedikit sentuhan musik blues yang tetap menjaga kearifan setiap lirik yang disampaikan dalam lagu tersebut.


Berikut daftar lagu di album 'Sahabat Sejati':
1. Maha Pemurah
2. Tuhan Beri Kami Cinta
3. Karenamu
4. Kembalilah
5. Lir Ilir
6. Sahabat Sejati feat Ghaniya
7. Sentuh Aku
8. Subhanallah - Ingat Ingatlah
9. Ya Muhammad
10. Temukan Dirimu


Sumber :
http://www.opicktomboati.com
http://www.indopos.co.id
http://www.harianterbit.com
http://hot.detik.com

Saturday, March 8, 2014

Souvenir Jember


Desa Tutul di kecamatan Balung, merupakan desa sentra industri kerajinan tangan yang memproduksi bermacam-macam kerajinan, keuletan dan kerja keras menjadikan produk kerajinan tangan desa ini tembus ke pasar Internasional. 

Desa Tutul terletak disisi selatan kota, jarak yang harus ditempuh untuk sampai di Desa ini sekitar 28 km dari pusat kota. 

Letak desa Tutul yang tidak begitu jauh dengan akses yang mundah dijangkau menjadikan kita tidak perlu bingung untuk sampai dan menyaksikan langsung pembuatannya sembari memilih-milih souvenir yang cocok untuk dibawa pulang ke kota asal sebagai oleh-oleh liburan. 

Cukup satu kali menggunakan angkutan umum dari terminal Jember ke Balung Tutul dengan menaiki angkutan jurusan Puger atau Kencong. Backpacker bisa turun di perempatan Patona kecamatan Balung desa Tutul sebagai tujuan pemberhentian. Setelah itu bisa jalan kaki tapi jasa transportasi seperti becak motor maupun becak konvensional juga menarik untuk Backpacker nikmati sembari melihat ibu-ibu meragkai tasbih di teras rumah dan butiran-butiran tasbih yang sedang di jemur untuk proses pengeringan.

Berikut Produck yang dihasilkan oleh desa Tutul :
- Tasbih 
- Sabuk 
- Keris
- Tongkat
- Japamala
- Seni Ukir
- Bomerang
- Paper Bag
- Lampu Kamar
- Gelang, Cincin dan Kalung
- Alat Musik (Jimbe, Terbang, Maracas, Karimba, dll)
- Pralatan Dapur (centong, cobek, ulekan, dll)

Bahan baku dalam pembuatan kerajinan ini beragam, ada yang bahan baku lokal dan ada pula yang didatangangkan dari negara timur tengah seperti Arab dan Mesir. Harga setiap produk beragam tergantung kesulitan serta bahan yang di gunakan. Soal kualitas jangan diragukan lagi produk hasil desa Tutul sudah menembus pasar Internasional jadi sudah terbukti kualitasnya. Namun ada baiknya ketika kita membeli barang diteliti lagi karena kelalaian atau miss yang mengakibatkan barang cacat produksi masuk di golongan good product.

Catatan :
Masyarakat Jember tergolong masyarakat yang ramah jadi jangan sungkan-sungkan atau canggung untuk bertanya jika menghadapi kebingunggan atau salah jalan. 


Sumber :
http://jemberbackpacker.blogspot.com

Tuesday, December 31, 2013

Bunga Egoistis


Bunga Dwi Ratnawati adalah perempuan asli desa Sumberagung, kecamatan Sumberbaru, Jember. Dia mulai ngetop di Jerman sebagai penyanyi bareng suaminya Marco Kunert yang asli dari Jerman.

Bunga kecil mengawali sekolah di SDN 1 Sumberagung, lalu melanjutkan sekolah di SMP Muhamadiyah 5 Sumberagung. Setelah itu melanjutkan sekolah di SMA Muhamadiyah 3 Jember.

Setelah lulus pada tahun 1999, Bunga melanjutkan kuliah di Fisip D-3 jurusan Perpajakan, Universitas Jember. Bunga sempat bekerja di kantor Bea Cukai di Bali. Saat di Bali inilah Bunga berkenalan dengan Marco Kunert, yang kemudian menikah dengannya.

Setelah menikah, Bunga mengikuti suami ke Jerman. Selain ikut mengurusi bisnis properti, Bunga mengembangkan bakatnya sebagai penyanyi sekaligus pengarang lagu dengan bantuan Stefan Gabler, musisi asli Jerman.

Lagu pertama dari Bunga adalah " Only one night " (versi inggris) dan " Satu malam " (versi Indonesia) yang terbit di tahun 2013. 

http://www.facebook.com/BungaGermany 
@bunga_music

Sumber :
koran Jawa Pos
http://musique.streaming-video-gratuit.fr
http://bungagermany.buzznet.com
http://bungagermany.wordpress.com

Tuesday, October 1, 2013

Ultah Perdana, Paguyuban Tosanaji Nusabarong, Gelar Pameran Benda Pusaka


25-Feb-13 17:19 WIB  
Reporter : Sunarto

Berbagai koleksi benda bersejarah peninggalan leluhur pada abad ke 11 sampai 16 masehi, seperti pusaka keris dan berbagai bentuk patung seperti leak dipamerkan.(narto/wj.com)Berbagai koleksi benda bersejarah peninggalan leluhur pada abad ke 11 sampai 16 masehi, seperti pusaka keris dan berbagai bentuk patung seperti leak dipamerkan.(narto/wj.com)wartajember.com – Berpegang teguh pada komitmenya, untuk melestarikan berbagai benda pusaka termasuk keris, agar tidak semakin terkikis dengan budaya modern seperti saat ini, puluhan orang dari beberapa paguyuban pecinta dan penggiat benda pusaka peninggalan leluhur dari berbagai kota di Jawa Timur dan Bali, mengelar pameran pusaka keris di Kecamatan Puger, Jember, Minggu, (24/2/2013).

Benda-benda pusaka peninggalan jaman kerajaan seperti massa Kerajaan Mataram, Majapahit, Singosari, Pajajaran, Demak dan benda pusaka lainya dari sejumlah kerajaan dipenjuru tanah air dipamerkan dalam rangkaian acara peringatan ulang tahun pertama Paguyuban Tosanaji Nusabarong Jember.

Paguyuban Tosanaji Nusabarong sendiri merupakan kumpulan atau sekelompok orang pecinta dan penggeliat benda pusaka di Jember. “Paguyupan ini, sengaja dibentuk untuk melestarikan benda-benda pusaka peninggalan para leluhur agar tidak semakin terkikis dengan budaya modern,” kata Slamet Junaedi, ketua Paguyuban Tosanaji Nusobarong Jember disela acara tersebut.

Dikatakan juga, benda-benda pusaka seperti keris, kujang, rencong, badek dan lainnya sudah masuk daftar seni Budaya Indonesia yang diakui Badan Dunia Unesco. “Itu harus dilestarikan karena sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya yang telah menjadi jati diri bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Diharapkan, dengan digelarnya pameran benda pusaka dan patung dari berbagai jaman kerajaan ini, diharapkan dapat memberikan wawasan kepada generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai karya seni budaya warisan nenek moyang serta ikut melestarikannnya agar tidak mudah diklaim oleh negera lain.

Pameran benda pusaka dan patung gelaran Paguyuban Tosanaji Nusobarong Jember ini mendapat aresasi positif dari para pecinta seni. Terbukti, sejumlah paguyupan pecinta dan penggiat benda pusaka dari berbagai kota di Jawa Timur dan Bali, nampak antusian mengikutinya.

Tak hanya datang, mereka turut serta memamerkan koleksi benda bersejarah peninggalan leluhur pada abad ke 11 sampai 16 masehi, seperti pusaka keris dan berbagai bentuk patung leak.

Slamet Junaedi, ketuaPaguyuban Tosanaji Nusobarong Jember juga menjelaskan, acara pameran benda pusaka sekaligus ulang tahun Paguyuban Tosanaji Nusabarong. Pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur terhadap sang pencipta pun mewarnai acara tersebut.

Sumber : http://www.wartajember.com

Saturday, September 28, 2013

Gerak Jalan Tajemtra (Tanggul Jember Tradisional)


Dulu bisa dikatakan hampir setiap kecamatan-kecamatan di Jember mempunyai gerak jalan tradisionalnya sendiri-sendiri. Ada gerak jalan Gubatra (Gumelar - Balung Tradisional). Ada gerak jalan dengan nama unik yaitu Gambangsuling alias Gambirono - Bangsalsari - Sukorejo Keliling. Lalu ada pula gerak jalan yang bernama Watam yang menempuh rute dari pantai wisata Watu Ulo dan berakhir di alun-alun Ambulu. Namun sungguh sayang, gerak jalan tradisional tersebut kini nampaknya telah punah karena jaman.

Gerak jalan yang memiliki kepanjangan Tanggul Jember tradisional ini diadakan sejak tahun 1977. Pesertanya terdiri dari berbagai elemen, mulai dari anak-anak, kaum muda hingga orang tua, mulai dari pelajar hingga pegawai kantoran. Peserta Tajemtra dikategorikan dalam 4 kelompok nomor lomba diantaranya beregu umum putra/putri, beregu pelajar putra/putri, perorangan putra usia 45 tahun keatas dan perorangan putri usia 40 tahun keatas.

Gerak jalan tajemtra atau Tanggul Jember tradisional merupakan even tahunan Kabupaten Jember. Tajemtra berasal dari kata Tanggul dan Jember. Tanggul itu kecamatan yang berada di sisi Barat Jember Kota, kota kecamatan yang ramai dan memiliki alun-alun di pusat kota. Jarak tanggul dan jember berkisar kurang lebih 30 km. Walaupun jaraknya jauh, peserta tetap antusias dalam mengikuti tajemtra.

Tajemtra adalah kegiatan gerak jalan tahunan yang dilaksanakan oleh Pemkab Jember untuk memperingati hari kemerdekaan. Tajemtra selain sudah menjadi budaya di Jember, hadiah yang diberikan oleh panitiapun tidak kecil. Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia Jember, Kamil Gunawan mengatakan bahwa total hadiah yang diperebutkan sebesar 100juta dan piala Mahmudi Cup. Mahmudi adalah nama seorang peserta gerak jalan yang meninggal pada tahun 70an, digunakan nama piala untuk mengenang semangatnya.

Tahun 2013 ini sebanyak 14.715 orang tercatat mengikuti gerak jalan Tanggul Jember Tradisional (Tajemtra), Sabtu (28/9/2013). Gerak jalan tahunan itu dimulai dari Alun-Alun Kecamatan Tanggul dan berakhir di titik nol Jember yakni Alun-Alun Jember.
Jarak yang ditempuh peserta sepanjang 33 kilometer. Acara itu dibuka oleh Bupati Jember MZA Djalal pukul 14.00 WIB.

Gerak jalan itu setiap tahun memang menyedot ribuan peserta. Pesertanya selalu di atas 10 ribu orang. Karena namanya gerak jalan, tidak ada kostum pakem dalam acara itu.
Sebagian besar peserta memilih kostum olahraga seperti kaus dan celana kaus. Namun ada beberapa yang menghias diri se-heboh mungkin.

Ada peserta yang memakai pakaian adat dan membawa ogoh-ogoh, ada juga yang berdandan ala kerbau, ada juga yang bergaya ala punk.

Peserta yang tak kurang dari 15 ribu orang setiap tahunnya ini diberangkatkan secara bergantian mulai jam 13.30 hingga Pukul 17.00 dari alun-alun Tanggul. Biasanya peserta sampai di garis finish mulai dari jam 22.00.

Tajemtra pun memiliki beberapa pos peristirahatan, biasanya Pos peristirahatan ini di gunakan peserta untuk Ishoma. Pos-pos ini terletatak di beberapa kecamatan sepanjang rute perjalanan, ada dua pos utama yang digunakan untuk melakukan pendataan ulang yaitu pos I di Kecamatan Bangsalsari dan pos II di Kecamatan Rambipuji. Selain pos utama, pihak panitia juga menyiapkan 300 pos lainnya.

Jalan propinsi yang menghubungkan Surabaya, Lumajang, Jember, Banyuwangi di tutup total secara bertahap. 


Sumber : 
http://surabaya.tribunnews.com
http://www.essip.us
http://www.jelajahbudaya.com

Friday, September 6, 2013

Pawai Cikar di Watu Ulo


Pengunjung Pantai Watu Ulo Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu mendapat suguhan pawai cikar atau pegon di H+7 Lebaran, Kamis (15/8/2013).

84 Cikar dari Kecamatan Ambulu dan Wuluhan berarakan dari Balai Desa Sumberejo menuju Pantai Watu Ulo. Setiba di pantai Laut Selatan, peserta pawai menggelar tikar kemudian menyantap ketupat bersama seluruh keluarga.

Cikar dipercantik sejumlah ornamen. Ada yang memakai janur, ada juga yang dihias memakai sejumlah payung khas Bali. "Pokoknya dipercantik. Sejak pagi, usai subuh kami sudah bersiap," ujar Slamet, pemilik cikar dari Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu.

“Kali ini pengikutnya berkurang karena persiapannya yang begitu mendadak, membuat sosialisasi kurang,” kata Sutiyono, anggota Paguyuban Cikar Margo Rukun, Sumberejo, Ambulu.

Sumber : http://surabaya.tribunnews.com

Wednesday, August 14, 2013

Jember Fashion Carnaval 2013


Hari Senin, tanggal 12 Agustus 2013, ada kegiatan istimewa. Siang ini mulai pukul 12.00 ada penilaian kostum untuk acara Jember Fashion Carnaval 2013. Bertempat di studio Dynand Faris yang berlokasi di Perumahan Gunung Batu, Jember.

Ini semua demi persiapan yang matang sebelum menggelar JFC International Event 2013, yang akan digelar pada 20-25 Agustus 2013 mendatang. Karena kota Jember, akan menjadi pusat perhatian dunia. 

Dimana nantinya sebanyak 2066 photografer baik dari media elektronik dan cetak, baik lokal maupun internasional akan hadir dan sudah teregistrasi akan datang.





Info lebih lengkap silahkan klik jemberfashioncarnaval.com



Thursday, August 1, 2013

Jadwal Acara Berkunjung Jember 2013

Berikut adalah panduan bagi yang mau mudik dan tidak mau ketinggalan Acara Berkunjung Jember 2013 



Sumber : cintajember.com/ 

Tuesday, July 23, 2013

Patrol, Keceriaan Musik Rakyat

Sumber : http://surabaya.tribunnews.com




Keceriaan musik rakyat. Itulah yang tergambar dalam alunan musik Patrol. Setidaknya itu terlihat dalam setiap penampilan grup musik Patrol yang mengikuti Karnaval Musik Patrol XIII yang digelar UKM Kesenian Universitas Jember, Sabtu (20/7/2013) malam.

Para penabuh Patrol berdandan sesuai kesepakatan dalam grup. Ada yang berdanan ala Madura, Jawa, memakai kostum kaos merah putih, juga ada yang memakai lurik orang Jawa, juga ada yang hanya memakai kaos seragam grup Patrol.

Selain kostum penabuhnya, tengok juga dandanan seperangkat alat musik patrol mereka. Patrol memang hanya terdiri dari sejumlah kentongan kayu aneka ukuran. Masing-masing kentongan mempunyai nama yakni Kenthir, Kenthar, Ting-Tung, Gendang, Remo, juga kentongan yang berfungsi sebagai bas, juga tamborin ditambah Seruling. Inilah beda antara Patrol Jember dan Madura. Kalau Patrol Madura memakai saronen, sementara Jember memakai seruling.

Namun beberapa grup memilih menambah alat musiknya dengan rebana. Kolaborasi yang makin menambah rancak musik patrol yang sudah rancak. Seperangkat alat musik patrol itu biasanya diusung memakai alat untuk bisa ditarik, sambil penabuhnya berjalan kaki. 'Kendaraan' patrol itulah yang dihias sedemikian rupa. Alat musik Patrol milik Putra Cempaka misalnya dicat bergambar bendera Inggris.

Sementara Areka dari Kecamatan Semboro menghias 'kendaraan' patrol mereka memakai janur seperti orang punya hajat kawinan. Sedangkan Zhaller dari Jalan Gajah Mada Kecamatan Kaliwates memilih menghias kendaraan mereka memakai jerami padi yang sudah mengering, ditambah lagi atapnya juga memakai rumbia dan bertiang bambu.

"Pokoknya kami menghias sebagus dan seindah mungkin," ujar Azisanto dari Areka.
Dan ketika mereka beraksi, keceriaan-lah yang mendominasi. Musik rancak patrol mengiringi lagu yang wajib mereka dendangkan dalam karnaval, selain lagu bebas.
Berjoget, bergoyang juga menari, itulah yang dilakukan para penabuh patrol sembari mereka mengolah suara dari kentongan yang terbuat dari kayu nangka itu.

"Itulah cara kelompok ini beregenerasi. Tahun kemarin, yang main yang tua-tua, sekarang dipilih anak-anak, karena mereka sudah mampu," ujar Neli, sang penyanyi Zhaller.

Kepada Surya, Roza mengaku sebagai pecinta Patrol. Ia bersekolah di sebuah SD Negeri di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Tetapi setiap hari Sabut - Minggu, ia pulang ke rumah neneknya di Jalan Gajah Mada dan berlatih bersama grup Zhaller. Sudah setahun terakhir, ia diberi amanat menabuh Kenthir.

"Apa kamu bisa?' tanya Surya.

"Nanti mbak lihat sendiri saja. Saya ini kan pecinta Patrol," ujarnya berdiplomasi sambil tersenyum. Dan memang, Roza tidak kesulitan memadukan alat musiknya bersama alat musik lain di kelompok itu, tentu saja sambil riang gembira berjoget.

Patrol, merupakan musik tradisional yang sudah mengakar di akar rumput. Musik rakyat. Musik yang lebih sering terdengar di bulan Ramadan, ketika menjelang waktu sahur.
Di Jember, musik Patrol cukup dikenal. Sejumlah kelompok musik patrol beberapa kali mengisi acara, seperti ketika ada pejabat datang, atau mengisi acara Agustusan. Sanggar tari Sotalisa, Jember menggunakan musik patrol sebagai pengiring setiap tarian yang ditarikan penari di sanggar tersebut.

Related Posts