Thursday, August 1, 2019

Pemerintah Sepakat Jaga JFC sebagai Aset Budaya

Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. menyatakan Pemerintah Kabupaten Jember bersepakat untuk menjaga warisan Dynand Fariz untuk menjadi salah satu aset budaya dan daya tarik wisata Indonesia, khususnya Jember.

Hal ini disampaikan oleh Bupati ketika membuka rangkaian acara Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-18 yang berlangsung di Jalan Sudarman Jember, Rabu, 31 Juli 2019

“Saya Faida, Bupati Jember, berjanji atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Jember, akan terus menjaga dan mendukung JFC untuk terus terselenggara,” kata Bupati.

Bupati menyampaikan, Dynan Fariz memang sudah berpulang. Tetapi, Pemerintah Kabupaten Jember telah berkomunikasi dengan pemerintah provinsi, bahkan Presiden Jokowi, bersepakat menjaga JFC untuk menjadi salah satu aset budaya dan daya tarik wisata bangsa.

Prestasi-prestasi JFC menunjukkan bahwa Jember telah lebih dulu mengawali transformasi struktural. Dunia telah bergeser kepada pergeseran dunia perdagangan, pelayanan jasa, dan industri, “Oleh karenanya, industri kreatif di JFC ini perlu dipertahankan dan kita terus kembangkan,” tandasnya.

Bupati juga menyampaikan bela sungkawa atas berpulangnya Presiden JFC, Dynand Fariz, ke pangkuan illahi. “Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengharumkan nama Jember dimana nasional bahkan internasional,” tutur Bupati.

JFC ke- 18 ini, lanjut Bupati, pertama kali tanpa alm. Dynand. “Namun semangatnya akan kita teruskan,” Bupati.

Ketua Yayasan JFC, Budi Setiawan, dalam kesempatan yang sama mengajak masyarakat Jember untuk menjad tuan rumah yang baik dan bergembira. “Mari kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan tamu untuk menyaksikan pergelaran even JFC,” ujar Budi.

Kegiatan JFC International Event tahun 2019, jelasnya, meliputi Pets Carnival, Kids Artware Carnival, Wonderful Archipelago Indonesia, dan Grand Carnival.


Sumber :
http://www.jemberkab.go.id/pemerintah-sepakat-jaga-jfc-sebagai-aset-budaya/

Sunday, June 30, 2019

Kampung Londo

Kampung Londo, Destinasi Wisata Peninggalan Zaman Belanda di Jember


Bagi Anda yang suka sejarah atau sekadar ingin bersantai, bisa mampir ke Kampung Londo yang ada di Jember. Pada zaman kolonial Belanda, tempat tersebut merupakan perumahan para pekerja pabrik gula.

Kampung Londo berada di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember. Itu merupakan tempat liburan keluarga yang ingin merasakan suasana atau melihat bangunan zaman kolonial. Tempatnya berada di tepi jalur utama jalan raya Jember-Lumajang.

Kampung Londo merupakan konsep wisata yang dikembangkan pemerintah kecamatan setempat bersama masyarakat, yang merupakan bagian dari Jargon Kencong Kota Tua. Destinasi yang cocok untuk wisata keluarga itu berada di lahan milik PG Gunung Sari yang kini dikelola oleh PG Semboro PTPN 11.

Lokasi Kampung Londo merupakan lahan lapang yang dikelilingi pepohonan rindang dan dulu merupakan komplek perumahan bagi para pekerja pabrik gula zaman penjajahan Belanda. Dulu dibangun tahun 1925-1927, kemudian diresmikan satu tahun kemudian.

"Beroperasinya pabrik gula ini tahun 1930. Kemudian digunakan untuk tempat hunian sinder dan pegawainya," kata Penggiat Sejarah Bumi Puger Persada Jember, Setyo Hadi saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (30/6/2019) sore.

Kampung Londo memiliki luas sekitar 4,7 hektare. "Untuk lokasi yang disebut sebagai Kampung Londo ini, sekarang kami kelola lagi bersama pemerintah setempat untuk wisata keluarga yang ingin bersantai merasakan suasana santai di hari libur," imbuhnya.

Menurutnya dengan konsep wisata sejarah, pengunjung atau wisatawan serasa berada di zaman jadul. "Karena jajanannya adalah kue-kue pasar. Bangunan rumah berbentuk zaman dulu dan tidak dirubah bentuknya. Tetap aslinya khas kolonial Belanda. Jadi cocok buat berswafoto dan juga ada fasilitas sepeda ontel untuk berkeliling," ungkapnya.

"Jadi jika ingin merasakan suasana saat bersantai di zaman Belanda, bisa datang ke sini (Kampung Londo). Apalagi sore hari, suasananya semakin dingin dan nyaman," tamabahnya.

Lokasi wisata sejarah Kampung Londo juga menawarkan fasilitas permainan jadul. Seperti gobak sodor, balap karung dan lainnya. Juga ada pelaku UMKM kerajinan lampu dari batang bambu.

"Juga bonsai kelapa unik yang hidup. Jadi tidak hanya hiasan biasa," kata Camat Kencong, Susmiadi.

Destinasi wisata berbau sejarah itu, katanya, juga dikelola secara swadaya bersama masyarakat sekitar. "Sehingga wisata ini ada dari masyarakat dan untuk masyarakat sendiri. Jadi kita berupaya tidak hanya menunggu anggaran, tapi bagaimana caranya kita mengembangkan konsep secara kreatif untuk mendapatkan anggaran itu," katanya.

Susmiadi menyampaikan, segala fasilitas dari Kampung Londo akan dikembangkan. "Nanti akan ada bioskop misbar (gerimis bubar) yang dulu pernah tren, dengan menampilkan video film sejarah dari zaman perjuangan dan juga sejarah Kota Tua Kencong. Menciptakan rasa nasionalis dan cinta tanah air tentunya," ujarnya.

"Selain itu, untuk paket wisatanya kita juga berkoordinasi dengan Tamasya Bus Kota dan Angkot Lin itu. Di Kencong juga kan ada Dira Funtastic Night yang berkonsep modern. Nah Kampung Londo konsep sejarah. Jadi saling mendukung," pungkasnya.


Sumber :
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4606502/kampung-londo-destinasi-wisata-peninggalan-zaman-belanda-di-jember?tag_from=news_newsfeed_8

Sumber foto :
http://www.instapuma.com/kjtvjember

Tuesday, May 14, 2019

Polres Jember Bangun Sirkuit

Tekan Aksi Balap Liar, Polres Jember Bangun Sirkuit


Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo dan Kasatlantas Polres Jember AKP Edwin Nathanael menunjukkan belasan sepeda motor yang dipakai untuk aksi balap liar, Jumat (1/2/2019).

Aksi balap liar sudah sangat meresahkan. Polres Jember pun mengobok-obok aksi balap liar yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Kaliwates, Jember pada Jumat (1/2/2019) dini hari.

Dari operasi tersebut, sedikitnya 20 orang berhasil diamankan serta 15 sepeda motor yang digunakan untuk balapan liar.

“Tadi malam jajaran Satlantas Polres Jember berhasil melakukan razia terhadap aksi balap liar. Ada 20 joki yang kami data dan kami amankan beserta 15 kendaraan yang tidak memenuhi standar juga kami angkut,” ujar Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo yang didampingi Kasatlantas Polres Jember AKP Edwin Nathanael dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Jember, Jumat.

Kusworo menerangkan bahwa aksi balap liar terjadi karena para pembalap memanfaatkan waktu-waktu tertentu. Misal dengan memilih hari yang tidak ada operasi razia dari kepolisian.

"Mereka beranggapan kalau Satlantas Polres Jember hanya merazia balap liar pada malam Sabtu dan Minggu. Karena itu, mereka melakukan aksinya di luar hari tersebut," tuturnya.

Dia mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dispora Kabupaten Jember untuk menyediakan arena khusus untuk balap sepeda motor.

"Saat ini Polres Jember sudah melakukan koordinasi dengan Dispora dan dalam waktu dekat akan dibangun sirkuit balap. Hal ini selain untuk memberikan wadah penghobi balap sepeda motor, juga untuk mengantisipasi adanya aksi balap liar yang membahayakan masyarakat. Tentunya mereka yang akan menggunakan sirkuit ini tetap harus mematuhi peraturan dan syarat ketentuan yang berlaku,” imbuhnya. (*)


Sumber :
https://www.viva.co.id/berita/nasional/1117357-tekan-aksi-balap-liar-polres-jember-bangun-sirkuit

Saturday, March 30, 2019

Ruko di Atas Sungai Jompo Jember

Ruko di Atas Sungai Jompo Jember Akan Digusur


JEMBER, FaktualNews.co – Bangunan rumah dan toko (ruko) di Jalan Sultan Agung, Lingkungan Jompo, Kecamatan Kaliwates yang dibangun di atas sepadan sungai, terancam digusur.

Karena bangunan tersebut dinilai salah, dan secara aturan tidak boleh ada bangunan. Oleh karena itu, Dinas Pengairan Pemprov Jatim akan berkoordinasi dengan Pemkab Jember, untuk mencari solusi terkait bangunan tersebut. Diketahui juga, amblesnya Jalan nasional di wilayah tersebut, diduga akibat bangunan ruko yang ada di sana.

Kepala UPT Pengairan Provinsi Jawa Timur wilayah Jember-Lumajang, Djoko Wahjono menjelaskan, jika dilihat dari posisinya bangunan tersebut, bukan hanya berada di sepadan sungai. “Tetapi bangunan ruko itu menggantung di atas Sungai Jompo. Sesuai aturan, tidak boleh ada bangunan di atasnya,” kata Djoko, Sabtu (30/3/2019).

Dengan kondisi tersebut, diduga menjadi penyebab amblesnya jalan jalur nasional di wilayah itu. “Bangunan ruko itu mengganggu aliran sungai, selain itu, di atasnya bangunan ruko juga sudsh banyak renovasi bertingkat, ada papan reklame besar juga. Jadi rawan itu,” ujarnya.

Menurut Djoko, hingga saat ini, belum pernah ada pengajuan mendirikan bangunan. “Infonya bangunan itu sudah tua. Berdiri sejak tahun 1970 an. Tapi hingga saat ini, belum pernah ada pengajuan izin mendirikan bangunan di atas sungai Jompo. Kepada kami, Dinas Pengairan Provinsi JawaTimur,” katanya.

Lebih jau Joko menyampaikan, pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Pemkab Jember. “Karena ruko itu aset Pemkab, jadi perlu kita duduk bersama membahas persoalan ini,” tandasnya.


Sumber :
https://faktualnews.co/2019/03/30/ruko-di-atas-sungai-jompo-jember-akan-digusur/131843/



Jalan Ambles, Bupati Faida Minta Pertokoan Jompo Dikosongkan

JEMBER, Sabtu (30/3/2019) suaraindonesia-news.com – Pemerintah Kabupaten Jember mengaku telah meminta belasan pemilik toko di pertokoan Jompo untuk mengosongkan tokonya. Hal ini merupakan imbas dari amblas dan retaknya jalan Sultan Agung sepanjang 90 meter di depan pertokoan tersebut.

Bupati Jember Faida menyebut ada 15 toko yang telah diminta dikosongkan. “Dari titik panjang jalan 150 meter, ada 90 meter yang kritis. Dan ada 15 toko di dekatnya. Sejak tiga hari lalu, kami sudah minta mereka kosongkan toko. Kami fasilitasi kendaraan untuk percepatan. Ini merupakan langkah pertama penyelamatan jiwa,” ujar Bupati Faida kepada suaraindonesia-news.com, Jumat (29/3/2019).

Belasan toko itu berada di Pertokoan Jompo itu merupakan  aset Pemkab Jember. Akibat amblas dan retaknya jalan tersebut, sudah ditutup sejak beberapa hari lalu.

Faida menambahkan, sejak beberapa waktu lalu, pihaknya telah mendapatkan pengaduan warga tentang longsornya kawasan sungai di bawah Jalan Sultan Agung itu.

“Kami langsung melakukan penanganan darurat. Meskipun sungai itu wilayahnya Provinsi, kami lakukan langkah darurat memakai dana Pemkab Jember. Kami pasang bronjong sebagai langkah darurat. Karena itu kondisi emergensi dan masyarakat membutuhkan keselamatan,” kata Faida.

Namun hujan deras dan naiknya debit Sungai Jompo akhir pekan lalu membuat bronjong tersebut terbawa air. Debit sungai yang tinggi diduga turut menjadi salah satu faktor kondisi jalan semakin kritis. Jalan di titik tersebut amblas dan retak.

Tidak hanya jalan, bangunan di salah satu studio foto di kompleks pertokoan itu juga retak. Keretakan terlihat cukup lebar dan panjang di tembok lantai dua studi tersebut.

“Sekarang yang dibutuhkan bukan hanya duduk bersama, namun penanganan darurat karena menyangkut keselamatan warga Jember. Semua pihak sudah mengetahui tugasnya masing-masing,” tegas Faida.

Setelah penanganan darurat dilakukan, imbuhnya, bisa dilakukan langkah-langkah penanganan selanjutnya terkait amblas dan retaknya jalan tersebut.

Terkait aset Pemkab itu, Faida menambahkan lagi, pihaknya sudah menginstruksikan supaya pertokoan yang rawan untuk dikosongkan. Sementara analisa dan perbaikan jalan menjadi wewenang Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII, karena status jalan itu merupakan jalan nasional.

Sementara itu dari pantauan suaraindonesia-news.com di Pertokoan Jompo, pelaku usaha yang mengosongkan tempat usahanya tidak hanya studi foto saja, namun ada juga sebuah salon. Salon itu berada di sisi paling timur di deretan pertokoan tersebut. Salon itu berada di atas sempadan sungai, dan bangunanya menjorok di atas sungai.

Sejumlah karyawan salon tersebut mulai mengosongkan isi salon dan toko kecantikan tersebut. “Ya dikosongkan mulai hari ini. Pindah ke sisi barat sana,” kata seorang karyawan toko dan salon tersebut.

Sementara itu, karyawan studi foto yang sudah mulai pindah sejak kemarin, masih terus mengemasi barang dan mencopoti perlengkapan di studio foto tersebut. Studio foto itu terpisah beberapa toko dari salon. Namun karena tembok studio foto itu retak, maka pemilik usaha memutuskan untuk pindah dari tempat tersebut.

Untuk diketahui, ruas Jalan Sultan Agung di depan Pertokoan Jompo turun dan retak. Jalan aspal berstatus jalan nasional itu turun sekitar 10 sentimeter.

Sumber :
https://suaraindonesia-news.com/jalan-ambles-bupati-faida-minta-pertokoan-jompo-dikosongkan/

Sunday, February 10, 2019

Pendopo Ekspres

Launching Layanan Pendopo Ekspres, Upaya Pemkab Jember Distribusikan Ribuan Adminduk

Senin, 11-02-2019 - 11:00 WIB


Menumpuknya ribuan administrasi kependudukan (adminduk) milik warga Jember dan untuk mempercepat pendistribusian ke 31 kecamatan di Jember, Senin (11/2/2019) Bupati dr Hj Faida MMR secara resmi me-launching layanan Pendopo Ekspres.

Acara launching Pendopo Ekspres yang dihadiri jajaran OPD dan ketua Pengadilan Negeri Jember ini bertujuan untuk mengantar 10 ribu adminduk yang sampai saat ini ada di kantor Dispendukcapil dan belum diambil pemiliknya.

“Hari ini kita launching kayanan Pendopo Ekspres. Layanan ini sebenarnya sudah kita lakukan tahun tahun sebelumnya. Namun launching hari ini dibuat lebih resmi, dengan petugas yang berseragam serta armada roda dua yang di branding khusus,” ujar bupati.

Faida menambahkan, layanan Pendopo Ekspres ini juga bagian dari tindak lanjut layanan on the spot yang selama ini sudah dilakukan Dispendukcapil dengan ngantor di desa, “Jadi, layanan Pendopo Ekspres ini lanjutan dari layanan sebelumnya,” tambah bupati.

Menurut Faida, banyak hal mungkin dokumen kependudukan tersebut tidak diambil oleh pemiliknya. Mungkin karena sakit, difabel, pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan mungkin juga undangan pengambilan tidak sampai ke tangan warga saat ada pendistribusian melalui kegiatan ngantor di desa.

"Ini tugas mulia manfaatkan dengan sebaik - baiknya. Kapan lagi kita bisa berbuat baik selagi diberi kesempatan di dunia ini," kata Bupati Faida.

Dia menambahkan, petugas Pendopo Ekspres ini merupakan kepanjangtanganan dari bupati dan wakil bupati Jember kepada masyarakat. Tidak mungkin bupati dan wakil bupati Jember) turun sendiri untuk mendistribilusikan ribuan dokumen kependudukan kepada masyarakat. Untuk itu, maka dirinya menerjunkan puluhan petugas Pendopo Ekspres untuk melakukan pendistribusiannya.

"Sampaikan salam kami kepada warga. Jangan sampai ada yang pungli. Karena kalian semua sudah ada gaji resmi yang anggarannya dari APBD Pemkab Jember," tegas bupati.

Tentu banyak kendala nantinya di lapangan dalam pendistribusiannya. Sebab,  setiap kecamatan atau desa yang ada di Jember medannya berbeda - beda. "Memang itu tugas kalian semua dengan adanya kegiatan melalui Pendopo Ekspress ini," terang Faida.

Bupati menargetkan, pendistribusian sebanyak 9.416 dokumen kependudukan ini akan rampung  dalam waktu 10 hingga 14 hari kerja. "Hati- hati di jalan. Kalian petugas resmi yang fasilitas kendaraannya juga sudah dibranding titel Pemkab Jember,"pungkasnya.


Sumber :
http://m.jatimtimes.com/baca/187758/20190211/110000/launching-layanan-pendopo-ekspres-upaya-pemkab-jember-distribusikan-ribuan-adminduk/

Tuesday, September 25, 2018

Batik Jember di Paris Fashion Week 2018


Ada Batik Jember di Paris Fashion Week 2018

Lia Afif, desainer muslim Indonesia, berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Jember akan memamerkan batik Jember ke kancah internasional melalui peragaan busana di Paris Fashion Week 2018 pada 25 September 2018.

"Kami mengangkat batik Jember yang merupakan bentuk dukungan untuk batik-batik di Jawa Timur go international," kata Lia Afif di sela-sela pemotretan model batik Jember di Pantai Pasir Putih Malikan (Papuma) Jember, Jawa Timur, Sabtu (15/9/2018).

Pada kegiatan "Paris Fashion Week 2018", desainer asal Surabaya itu akan membawa 20 koleksi batik khas Kabupaten Jember karena warisan budaya Indonesia menjadi tema koleksi para desainer Indonesia pada kegiatan parade busana bergengsi tersebut.

"Batik Jember sangat bagus dan menarik, bahkan sebelum pemotretan yang berlangsung di Pantai Papuma, batik-batik tersebut sudah terpajang dan mendapat daya tarik dari peminat batik," tuturnya.

Ia mengatakan pihaknya membawa semangat dari Jember dengan membawa karya batik khas Jember yang menggunakan batik warna alam.

"Motif batik Jember yang berbeda menjadi daya tarik bagi desainer dengan mengangkat motif dari hasil bumi Kabupaten Jember, seperti coklat, kopi, dan tembakau karena setiap daerah harus punya karakter, dan batik Jember berkarakter," katanya.

Dalam momentum itu, lanjut dia, pihaknya ingin menunjukkan koleksi dari Indonesia dengan kain-kain nusantara seperti kain batik yang menggunakan warna dari bahan alam bisa mengikuti ajang peragaan busana di Paris Fashion Week 2018.

"Banyaknya pengalaman dalam kegiatan peragaan busana akan menjadi pelajaran dan evaluasi dalam mengikuti Paris Fashion Week 2018," ujarnya.

Lia Afif ingin menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion batik model muslim dunia dengan mengenalkan batik-batik yang memiliki karakter yang kuat seperti batik Solo, sehingga diharapkan jadi tren pakaian muslim di dunia.

Sementara Dedi Winarno pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Jember menyambut baik rencana desainer Lia Afif yang mempromosikan batik Jember dalam peragaan busana di Paris Fashion Week, sehingga batik Jember bisa go international.

"Digunakan batik Jember dalam peragaan busana di Prancis akan berdampak positif bagi Kabupaten Jember," katanya.


Sumber :
http://senggang.suarasurabaya.net/news/2018/209673-Ada-Batik-Jember-di-Paris-Fashion-Week-2018

Sumber foto :
https://jemberkab.go.id/wp-content/uploads/2018/09/

Sunday, April 22, 2018

Batik Meru Betiri


Ini Dia Yang Baru dari Jember, Batik Meru Betiri

Kabupaten Jember Jember mempunyai batik tulis khas yakni batik Meru Betiri. Batik tulis itu diproduksi oleh ibu-ibu di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember yang merupakan desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).

Perkenalan dan peluncuran batik Meru Betiri dilaksanakan Selasa sore, 20 Maret 2018, di balai Desa Wonoasri. Terdapat 13 motif batik yang semuanya bersumber dari kekayaan hayati TNMB. Semua batik tulis Meru Betiri karya ibu-ibu Desa Wonoasri adalah batik tulis yang menggunakan pewarna alami.

Supmini Wardhani, desainer kelompk itu, mengatakan ada 13 motif batik Meru Betiri yang telah dibuat. Misalnya: motif bunga raflesia, cabe jawa, dan blarak atau daun kelapa. Sementara motif elang Jawa, sisik trenggiling, dan macan tutul mengambil dari fauna yang menghuni TNMB.

“Ada juga motif perpaduan antara flora dengan fauna, yakni tawon raflesia,” ujar Supmini Wardhani Pembentukan kelompok pembatik ini difasilitasi para peneliti Universitas Jember.

Kelompok Kehati Meru Betiri beranggotakan 46 anggota yang telah mendapatkan pelatihan membatik selama 14 hari. Mereka mendapat bimbingan dari Soediono (Sanggar batik Godhong Mbako, Jember).

Semua batik diproses dengan pewarnaan alami tanpa bahan kimia. Untuk mendapatkan warna hitam mereka menggunakan akar dan batang tanaman mangrove. “Lalu warna merah dari daun jati, warna krem dari daun tumbuhan Putri Malu, serta pewarna alami lainnya yang tersedia di lingkungan sekitar kami,” tutur Aris Rudiarso yang bertugas memberikan warna setelah kain batik selesai di canting.

Untuk mendapatkan pewarnaan yang maksimal, selembar kain harus melewati proses pewarnaan minimal enam kali pencelupan. Dan setiap kali proses pewarnaan membutuhkan waktu sekitar 36 jam.

Itu hanya untuk satu warna saja. Jadi prosesnya makin lama jika dalam selembar kain batik ada dua warna atau lebih. “Penggunaan pewarna alami inilah yang membuat batik produksi kami umumnya bernuansa warna pastel, tidak ada warna yang mencolok,” kata Aris Rudiarso lagi.

Solikin, staf di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jember mengatakan batik tulis dengan pewarnaan alami memiliki peluang pasar menjanjikan, terutama di pasar luar negeri. “Batik tulis seperti ini jika sudah masuk butik di Surabaya atau Jakarta harganya minimal Rp 750 ribu hingga 1 juta rupiah,” kata dia.

Ketua Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember, Wachju Subchan mengatakan pemberian pelatihan membatik kepada ibu-ibu di Desa Wonoasri ITU bertujuan memberikan ketrampilan untuk mencari tambahan pemasukan. “Program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan tidak hanya melakukan rehabilitasi hutan saja, tetapi juga memberikan berbagai keterampilan yang berbasis pada potensi desa seperti pembuatan jamu, budidaya semut rang-rang dan batik tulis ini," kata dia.

Sumber :
https://www.msn.com/id-id/travel/other/ini-dia-yang-baru-dari-jember-batik-meru-betiri/ar-BBKxtpI


Perkenalkan: Inilah Batik Tulis Meru Betiri

Para perempuan Desa Wonosari, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur memproduksi 13 motif batik tulis khas Meru Betiri. Desa tersebut merupakan desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri.

Batik tulis ini merupakan bagian dari sub program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan yang diselenggarakan Universitas Jember dengan dukungan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan USAID.

Motif-motif tersebut didesain Kehati Meru Betiri, kelompok pembatik yang pembentukannya difasilitasi para peneliti Universitas Jember.

Kelompok ini beranggotakan 46 anggota dan telah mendapatkan pelatihan membatik selama 14 hari oleh Soediono dari sanggar batik Godhong Mbako, Jember. 

Supmini Wardhani, desainer kelompok mengatakan, 13 motif batik bersumber dari kekayaan flora TNMB, seperti motif bunga raflesia, cabe jawa, dan blarak atau daun kelapa. "Sementara motif elang Jawa, sisik trenggiling, dan macan tutul mengambil dari fauna yang menghuni TNMB, ada juga motif perpaduan antara flora dengan fauna, yakni tawon raflesia," katanya, sebagaimana dilansir Humas dan Protokoler Universitas Jember.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha TNMB Khairunnisa mengatakan, motif batik tersebut mengangkat potensi taman nasional. TNMB berrencana mengembangkan program wana wisata dengan objek flora dan fauna, pantaim hingga air terjun.

"Dengan adanya produk batik khas Meru Betiri, harapan kamipara wisatawan bakal lebih tertarik untuk datang. Apalagi Desa Wonoasri ini adalah gerbang menuju TNMB,"kata Khairunnisa.

Khairunnisa mengusulkan agar para pembatik memperhatikan detail motif flora dan fauna penghuni TNMB. "jadi benar-benar khas dan berbeda dengan batik tulis lainnya," katanya.

sumber :
http://beritajatim.com/gaya_hidup/324240/perkenalkan:_inilah_batik_tulis_meru_betiri.html


Batik Meru Betiri dan Budidaya Semut Rangrang Cita-cita Warga Wonoasri Jember

Inisiatif mulia yang diprakarsai oleh The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Universitas Jember dan Taman Nasional Meru Betiri, patut diberi apresiasi tinggi.

Pelatihan yang diberikan kepada masyarakat melalui produksi Batik Meru Betiri dan Budidaya Semut Rangrang menjadi sebuah representasi untuk mewujudkan cita-cita memberdayakan masyarakat Desa Wonoasri,Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember untuk menjadi lebih lebih baik.

Dikenal sebagai batik baru di Kabupaten Jember, produksi Batik Meru Betiri yang diproduksi sanggar Batik Warna Alam Kehati Meru Betiri ini terus menunjukkan tren perkembangan. Selaras dengan tingginya antusias dari para ibu rumah tangga di Desa Wonoasri.

Sukmini Wardani selaku anggota sanggar sekaligus designer batik Meru Betiri, merasa mengaku sangat bangga dengan pencapaian hasil karya menunjukkan gairah produksi yang tinggi.

"Produksi batik ini sangat membantu finansial ibu-ibu. Paling tidak ada masukan untuk mereka," ujar Sukmini saat ditemui di Rumah Produksi Batik di Jalan Majapahit Gg 8 RT 8 RW 4 Kraton Wonoasri, Jember, (1/4/2018).

Batik Meru Betiri memiliki nilai seni tinggi dan dari segi bahan baku terbuat dari bahan-bahan alami yang ramah lingkungan, maka dari itu batik ini memiliki nilai jual tinggi mulai Rp 150.000 sampai dengan Rp 450.000.

"Tidak pernah menyangka sebelumnya goresan saya bisa terjual. Intinya saling melengkapi, karena goresan saya tidak ada artinya tanpa tangan ibu-ibu dan tim pewarna," katanya riang.

Tak hanya batik Meru Betiri,Budidaya Semut Rangrang atau Angrang menjelma menjadi profesi sampingan yang cukup prospektif secara ekonomi bagi masyarakat Desa Wonoasri, Kabupaten Jember.

Budidaya tersebut menghasilkan kroto sebagai pakan burung berkicau.

Baca: Ditemukan Cacing dalam Produk Ikan Makarel Kaleng, MUI Tak akan Cabut Label Halal

Perawatan dalam budidaya ini relatif mudah dan sederhana. Untuk pakan, cukup dengan memberikan belalang, jangkrik, tulang ayam, ikan dan air gula. Sehingga mudah dibudidayakan.

 Wachju Subchan selaku ketua ICCTF Universitas Jember turut terjun ke lapangan dengan menanyakan perkembangan budidaya semut rangrang kepada peternak (1/4/2018).

Pihaknya juga memberikan evaluasi mengenai perawatan dan memberikan dukungan terhadap warga agar supaya telaten dalam merawat budidaya semut rangrang tersebut.

"Kata kuncinya telaten, harapannya kedepan masyarakat bisa melihat kisah sukses salah satu budidaya dan masyarakat lain mengikuti" terang Wachju.

Hasil dari budidaya semut rangrang ini cukup bernilai, Wachju mengatakan harga per kilogram kroto dihargai
Rp 120.000 di pasaran, dengan panen yang lebih cepat.

Baca: Syifa Adik Ayu Ting Ting Pamer Foto Kondangan Bareng Pacar, Sepatu Sang Kekasih Malah Bikin Ngakak!

"Harga kroto per kilogramnya lebih tinggi dari harga ikan ayam. Panennya pun lebih cepat," kata Wachju saat mengunjungi Desa Wonoasri, Jember.

The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Universitas Jember dan Taman Nasional Meru Betiri terus berinovasi dalam memajukan masyarakat sekitar Taman Nasional sebagai langkah maju memandirikan perekonomian masyarakat.


Sumber :
http://jatim.tribunnews.com/2018/04/02/batik-meru-betiri-dan-budidaya-semut-rangrang-cita-cita-warga-wonoasri-jember?page=all.

Sumber foto :
http://pojokpitu.com/baca.php?idurut=61931&&top=1&ktg=J

Related Posts