Peragaan 80 Kostum Unik di Lippo Village Festival Angkat Budaya Lokal
JawaPos.com – Indonesia adalah negara yang kaya dengan busana adat dan budaya. Dalam ajang Jember Fashion Carnaval (JFC) yang mengusung tema Tribal Grandeur di Lippo Village Festival, sebanyak 80 kostum unik ditampilkan dan dibawakan untuk mengusung keagungan busana Indonesia dan dunia.
Lebih dari 80 kostum unik dibawakan oleh model dewasa dan juga anak-anak dari JFC Kids yang mewakili budaya Indonesia seperi Garuda, Hudog, dan yang lainnya. Mereka juga memperlihatkan kostum dari suku-suku negara lain seperti Aztec dari Meksiko, Karen dari Thailand, dan Viking dari Norwegia.
”JFC sengaja kami hadirkan di Provinsi Banten untuk pertama kalinya untuk mempromosikan festival budaya. JFC sendiri sudah dikenal di dunia melalui prestasinya,” kata Chief Executive Director (CEO) PT. Lippo Karawaci John Riady.
Event Director JFC Intan Ayundavira menjelaskan banyak cara untuk memperkenalkan kostum daerah kepada milenial. JFC selama ini menjadi salah satu karnaval yang telah mendapatkan pengakuan.
“Kami ingin membuat masyarakat lebih mengenal budaya Indonesia dan budaya negara-negara lain yang kami tampilkan dalam kemasan karnaval yang menarik,” tutupnya.
Sumber :
https://radarjember.jawapos.com/2019/11/26/peragaan-80-kostum-unik-di-lippo-village-festival-angkat-budaya-lokal
Monday, November 25, 2019
80 Kostum Unik di Lippo Village Festival
Citilink Hentikan Rute Penerbangan Surabaya-Jember
Jakarta, airmagz.com – Maskapai Citilink menghentikan operasional penerbangan rute Surabaya-Jember-Surabaya yang baru berlangsung sekitar enam bulan dan tidak beroperasi lagi di Bandara Notohadinegoro Kabupaten Jember, Jawa Timur, sejak 14 November 2019 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
“Memang benar hampir sepekan lebih Citilink sudah tidak menerbangi rute Surabaya-Jember, sehingga hanya maskapai Wings Air yang beroperasi di Bandara Notohadinegoro,” kata Kepala UPT Bandara Notohadinegoro Edy Purnomo di Kabupaten Jember, Jumat.
Menurutnya, keputusan penghentian operasional maskapai Citilink tersebut merupakan keputusan manajemen Citilink pusat, sehingga pihak Citilink di Jember sudah menyampaikan surat pemberitahuan pemberhentian operasional penerbangan itu, dilansir dari Antara.
“Sebenarnya okupansi penumpang sudah mulai bagus, namun pihak UPT Bandara Notohadinegoro juga tidak bisa berbuat banyak terkait dengan keputusan manajemen Citilink,” tuturnya.
Sementara Station Manager Citilink Jember Yogi Ardi Asmoko melalui surat pemberitahuan pemberhentian operasional penerbangan yang ditujukan kepada Kepala UPT Bandara Notohadinegoro Jember menyebutkan penghentian operasional Citilink mengacu pada pemberitahuan dari kantor pusat.
Mengenai pemberhentian penerbangan, Yogi menuturkan bahwa operasional penerbangan ATR-72 rute Surabaya-Jember-Surabaya mulai efektif diberhentikan pada 14 November 2019 sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Dalam surat pemberitahuan penghentian operasional di Bandara Notohadinegoro Jember, pihak manajemen Citilink pusat tidak menyebutkan alasan secara detil dihentikan penerbangan rute Surabaya-Jember-Surabaya tersebut.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada UPT Bandara Notohadinegoro atas kerja sama yang baik selama ini, sehingga operasional penerbangan Citilink Indonesia dapat berjalan lancar,” ujarnya.
Kementeriaan Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan secara resmi telah mengeluarkan surat izin rute penerbangan bagi maskapai Citilink Indonesia rute Surabaya-Jember-Surabaya untuk menunjang kebutuhan transportasi udara di Bandara Notohadinegoro Jember sejak 26 April 2019. (IMN/Liputan6.com)
Sumber :
https://www.airmagz.com/52039/citilink-hentikan-rute-penerbangan-surabaya-jember.html
Sunday, November 10, 2019
Bis Perintis ke Pantai Papuma & Payangan
Yuk Piknik Naik Bus Wisata Jember
Dinas Perhubungan Kabupaten Jember memperkenalkan bus perintis yang difungsikan sebagai bus wisata Jember. Mode transportasi massal ini mempunyai rute ke tempat wisata di kota karnaval dunia.
Harganya pun terjangkau, cukup merogoh kocek sejumlah Rp. 12.000 bagi umum dan Rp. 6000 bagi pelajar, kamu pun bisa mengunjungi destinasi wisata seperti Pasir Putih Malika (Papuma), serta payangan.
Lebih lengkapnya, bus ini memiliki trayek Terminal Tawang Alun – Mangli – Ajung – Jenggawah – Ambulu – Sabrang – Papuma – Payangan – PP.
“Perlu kami sampaikan bahwa di Jember sudah ada bis perintis yang bisa melayani bapak-ibu untuk menuju Papuma,” ucap Sekda Jember, Ir. Mirfano dalam sambutan acara Jember Transportation Fiesta yang digelar oleh Dishub setempat sebagai puncak perayaan Hari Perhubungan Nasional, Minggu (14/10/2018) pagi.
Bus wisata Jember
Bus perintis ini merupakan aset DAMRI yang merupakan Perusahaan Otobus BUMN. Untuk bus wisata, pihak DAMRI mengoperasikan sejumlah 4 unit bus setiap harinya.
“Khusus perintis ada 4 unit. Ada 2 waktu keberangkatan setiap harinya yaitu pada jam 06:30 dan 11:30 WIB, masyarakat bisa berangkat dari terminal tawang alun atau langsung nyetop langsung di jalan. Bus wisata ini merupakan program Dishub sini,” terang staf DAMRI Jember, Walis.
Dalam acara Jember Transportation Fiesta, Dishub Jember memberangkatkan 1 unit bus wisata bagi warga Jember tanpa dipungut biaya.
“Kita coba memberangkatkan bus wisata dari sini dan gratis, dan hanya untuk acara ini,” terang Plt. Kadishub Jember, Slamet Sugianto.
Sumber :
https://suaraindonesia-news.com/yuk-piknik-naik-bus-wisata-jember/
Dinas Perhubungan Kabupaten Jember memperkenalkan bus perintis yang difungsikan sebagai bus wisata Jember. Mode transportasi massal ini mempunyai rute ke tempat wisata di kota karnaval dunia.
Harganya pun terjangkau, cukup merogoh kocek sejumlah Rp. 12.000 bagi umum dan Rp. 6000 bagi pelajar, kamu pun bisa mengunjungi destinasi wisata seperti Pasir Putih Malika (Papuma), serta payangan.
Lebih lengkapnya, bus ini memiliki trayek Terminal Tawang Alun – Mangli – Ajung – Jenggawah – Ambulu – Sabrang – Papuma – Payangan – PP.
“Perlu kami sampaikan bahwa di Jember sudah ada bis perintis yang bisa melayani bapak-ibu untuk menuju Papuma,” ucap Sekda Jember, Ir. Mirfano dalam sambutan acara Jember Transportation Fiesta yang digelar oleh Dishub setempat sebagai puncak perayaan Hari Perhubungan Nasional, Minggu (14/10/2018) pagi.
Bus wisata Jember
Bus perintis ini merupakan aset DAMRI yang merupakan Perusahaan Otobus BUMN. Untuk bus wisata, pihak DAMRI mengoperasikan sejumlah 4 unit bus setiap harinya.
“Khusus perintis ada 4 unit. Ada 2 waktu keberangkatan setiap harinya yaitu pada jam 06:30 dan 11:30 WIB, masyarakat bisa berangkat dari terminal tawang alun atau langsung nyetop langsung di jalan. Bus wisata ini merupakan program Dishub sini,” terang staf DAMRI Jember, Walis.
Dalam acara Jember Transportation Fiesta, Dishub Jember memberangkatkan 1 unit bus wisata bagi warga Jember tanpa dipungut biaya.
“Kita coba memberangkatkan bus wisata dari sini dan gratis, dan hanya untuk acara ini,” terang Plt. Kadishub Jember, Slamet Sugianto.
Sumber :
https://suaraindonesia-news.com/yuk-piknik-naik-bus-wisata-jember/
Penggagas Tamasya Bus Kota Jember, Dipuji Bupati Banyuwangi
Sabtu, 21 September 2019 - 09:36
Penggagas wisata tamasya Bus Kota Kabupaten Jember Hasti Utami, mendapatkan pujian dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Apresiasi itu, diungkapkan Anas, saat diskusi wisata yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jember di kantor Bank Indonesia Bali, Sabtu (20/09/2019).
Dalam acara yang dihadiri oleh petinggi Bank Indonesia Bali dan perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Bali itu, Hasti menceritakan, awal mula dirinya berani mengembangkan wisata karena terinspirasi dengan Banyuwangi.
"Terus terang saya terinspirasi dari Banyuwangi, dimana semua lapisan terlibat untuk memajulan sektor pariwisata," akui Hasti.
Dari itulah Hasti mencoba menciptakan hal baru dengan asas pemberdayaan sumberdaya alam dan melibatkan masyarakat sekitar secara langsung.
“Kami membangun pariwisata Jember dengan pemberdayaan masyarakat. Yang kami lakukukan adalah mengedukasi masyarakat lokal destinasi untuk menjadi pelaku event pariwisata yang profesional,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, bahwa konsep pariwisata yang diterapkannya melalui Tamasya Bus Kota dan kegiatan lainnya sudah berjalan beberapa tahun lalu.
"Kami membangun pariwisata Jember dengan pemberdayaan masyarakat. Yang kami lakukukan adalah mengedukasi masyarakat lokal destinasi untuk menjadi pelaku event pariwisata yang profesional,” katanya.
Hasti kembali mempertegas, bahwa agenda pariwisata Tamasya Bus Kota, tidak melibatkan pemerintah daerah secara langsung.
Tapi, Hasti mengaku sudah mencoba melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, terkait agenda wisata untuk memperkenalkan potensi desa di Kabupaten Jember.
Ia berkomitmen dan berupaya menciptakan desa-desa yang menjadi destinasi wisata secara mandiri, meskipun harus dengan swadaya.
Namun, anehnya, kata Hesti, ada saja pihak yang mengklaim bahwa kegiatan pariwisata inovasi Hasti diakui oleh pihak lain.
“Semua kami bikin konsepnya. Tapi setiap saya melangkah sedikit, ada foto orang lain di sana. Kalau terus-terusan kayak begini, saya capek,” keluhnya dihadapan peserta diskusi.
Kendati demikian, Hasti banyak mendapat tawaran dari beberapa daerah lain untuk mengembangkan pariwisata di Kabupaten Jember.
Namun ia mengaku menolak karena ingin mengembangkan wisata di Jember lebih terlebih dulu. “Satu bulan terakhir saya akui sudah mulai lelah,” katanya.
Menanggapi pejelasan Hasti, Anas justru memuji kreativitasnya yang telah berjuang memperkenalkan pariwisata Kabupaten Jember dengan kemasan unik.
“Hebat menurut saya di Jember ada orang volunteer seperti Mbak Hasti ini. Tepuk tangan untuk Mbak Hasti dan teman-teman,” ucap Anas disambut tepuk tengan.
Anas meminta Hasti untuk tetap ikhlas dan tetap berjuang sekalipun tidak mendapat pengakuan.
“Jadikan itu amal ibadah. (Perbuatan baik) sebiji timun akan bermakna kebaikan. Setiap kebaikan pasti akan melahirkan kebaikan,” lugasnya.
Diakhir komentarnya, Anas juga sempat bercerita singkat terkait beratnya tantangan perjuangannya di Kabupaten Banyuwangi saat dulu masih merintis.
“Dulu, Banyuwangi dari kota yang enggak banget menjadi keren banget. Jangan-jangan bisa jadi tukang-tukang santet menggunakan ilmu pelet agar orang-orang datang ke Banyuwangi. Sekarang, Banyuwangi sudah menjadi tempat wisata favorit wisatawan,” pungkas Anas sambil tersenyum.
Sumber :
https://www.suaraindonesia.co.id/read/9972/20190921/093614/penggagas-tamasya-bus-kota-jember-dipuji-bupati-banyuwangi#!-_-
Penggagas wisata tamasya Bus Kota Kabupaten Jember Hasti Utami, mendapatkan pujian dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Apresiasi itu, diungkapkan Anas, saat diskusi wisata yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jember di kantor Bank Indonesia Bali, Sabtu (20/09/2019).
Dalam acara yang dihadiri oleh petinggi Bank Indonesia Bali dan perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Bali itu, Hasti menceritakan, awal mula dirinya berani mengembangkan wisata karena terinspirasi dengan Banyuwangi.
"Terus terang saya terinspirasi dari Banyuwangi, dimana semua lapisan terlibat untuk memajulan sektor pariwisata," akui Hasti.
Dari itulah Hasti mencoba menciptakan hal baru dengan asas pemberdayaan sumberdaya alam dan melibatkan masyarakat sekitar secara langsung.
“Kami membangun pariwisata Jember dengan pemberdayaan masyarakat. Yang kami lakukukan adalah mengedukasi masyarakat lokal destinasi untuk menjadi pelaku event pariwisata yang profesional,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, bahwa konsep pariwisata yang diterapkannya melalui Tamasya Bus Kota dan kegiatan lainnya sudah berjalan beberapa tahun lalu.
"Kami membangun pariwisata Jember dengan pemberdayaan masyarakat. Yang kami lakukukan adalah mengedukasi masyarakat lokal destinasi untuk menjadi pelaku event pariwisata yang profesional,” katanya.
Hasti kembali mempertegas, bahwa agenda pariwisata Tamasya Bus Kota, tidak melibatkan pemerintah daerah secara langsung.
Tapi, Hasti mengaku sudah mencoba melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, terkait agenda wisata untuk memperkenalkan potensi desa di Kabupaten Jember.
Ia berkomitmen dan berupaya menciptakan desa-desa yang menjadi destinasi wisata secara mandiri, meskipun harus dengan swadaya.
Namun, anehnya, kata Hesti, ada saja pihak yang mengklaim bahwa kegiatan pariwisata inovasi Hasti diakui oleh pihak lain.
“Semua kami bikin konsepnya. Tapi setiap saya melangkah sedikit, ada foto orang lain di sana. Kalau terus-terusan kayak begini, saya capek,” keluhnya dihadapan peserta diskusi.
Kendati demikian, Hasti banyak mendapat tawaran dari beberapa daerah lain untuk mengembangkan pariwisata di Kabupaten Jember.
Namun ia mengaku menolak karena ingin mengembangkan wisata di Jember lebih terlebih dulu. “Satu bulan terakhir saya akui sudah mulai lelah,” katanya.
Menanggapi pejelasan Hasti, Anas justru memuji kreativitasnya yang telah berjuang memperkenalkan pariwisata Kabupaten Jember dengan kemasan unik.
“Hebat menurut saya di Jember ada orang volunteer seperti Mbak Hasti ini. Tepuk tangan untuk Mbak Hasti dan teman-teman,” ucap Anas disambut tepuk tengan.
Anas meminta Hasti untuk tetap ikhlas dan tetap berjuang sekalipun tidak mendapat pengakuan.
“Jadikan itu amal ibadah. (Perbuatan baik) sebiji timun akan bermakna kebaikan. Setiap kebaikan pasti akan melahirkan kebaikan,” lugasnya.
Diakhir komentarnya, Anas juga sempat bercerita singkat terkait beratnya tantangan perjuangannya di Kabupaten Banyuwangi saat dulu masih merintis.
“Dulu, Banyuwangi dari kota yang enggak banget menjadi keren banget. Jangan-jangan bisa jadi tukang-tukang santet menggunakan ilmu pelet agar orang-orang datang ke Banyuwangi. Sekarang, Banyuwangi sudah menjadi tempat wisata favorit wisatawan,” pungkas Anas sambil tersenyum.
Sumber :
https://www.suaraindonesia.co.id/read/9972/20190921/093614/penggagas-tamasya-bus-kota-jember-dipuji-bupati-banyuwangi#!-_-
Keliling Pantai Bersama Tamasya Bus Kota Jember
Minggu, 2 Desember 2018 08:45
Berwisata menikmati Kabupaten Jember dari atas bus kota? Sensasi ini bisa anda temukan dengan Tamasya Bus Kota (TBK) Jember. Wisatawan bisa berkeliling sambil menikmati suasana Jember dari dalam bus kota.
Tentunya tidak hanya dari dalam bus kota saja, saat tiba di lokasi tujuan, wisatawan diajak menikmati keindahan alam Jember, juga kuliber, dan kehidupan warganya. TBK diluncurkan setahun lalu, tepatnya 25 November 2017. Satu tahun berlalu, TBK telah mengantarkan lebih dari 10 ribu wisatawan ke aneka rute TBK.
Rute wisata yang ditawarkan TBK adalah Payangan-Watu Ulo, Puger, Sunset Dinner, durian, Jember Heritage Walking Tour, Jember Islamic Track, juga Petualangan Lin Kuning.
Untuk rute Payangan-Watu Ulo, Sunset Dinner, Puger, dan rute durian, wisatawan akan diangkut memakai bus kota milik Damri dalam kawasan Jember Kota.
Surya.co.id mengikuti rute TBK saat melayani rute Jember-Payangan, pada 25 November 2018 lalu. Ketika itu, TBK sekaligus meluncurkan program TBK Ramah Lansia.
Mengikuti rute Jember Kota-Payangan berarti harus siap bangun pagi. Karena pukul 06.00 WIB, wisatawan harus sudah siap dan berkumpul di titik pertemuan. Titik pertemuan berdasarkan kesepakatan para wisatawan.
Sekitar pukul 07.00 WIB, bus kota sudah berangkat. Para tour leader TBK siap menemani para wisatawan.
Bus tidak melaju kencang selayaknya bus umum. Membutuhkan waktu sekitar satu jam dari Jember Kota sampai ke Payangan.
Selama di perjalanan, wisatawan dibebaskan untuk saling menghibur diri dengan bernyanyi atau saling bercerita. Sopir bus Damri yang handal siap sedia mengantarkan wisatawan.
Pantai Payangan
Dermaga Pantai Payangan Jember
Dermaga Pantai Payangan Jember (surya/sri wahyunik)
Titik turun wisatawan untuk rute Payangan adalah Payangan Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu, Jember. Wisatawan diajak berwisata ke tempat pengasapan ikan dan pemindangan ikan.
Wisatawan bisa melihat langsung proses pengasapan ikan yang dilakukan oleh ibu-ibu Payangan. Wisatawan juga bisa membeli ikan segar yang masih hangat usai diasapi.
Jika wisatawan dari kalangan usia produktif, maka wisatawan diajak berjalan kaki menuju lokasi pengasapan ikan dan pemindangan.
Namun karena berbarengan dengan TBK Ramah Lansia maka wisatawan diberi fasilitas naik kereta kelinci ke lokasi pengasapan ikan dan dilanjutkan dengan ke dermaga Payangan.
"Kita tidak bisa ke pemindangan ikan karena sedang tidak musim ikan. Kalau lagi musim ikan, pasti lengkap diajak ke lokasi pemindangan dan pengasapan ikan," kata Hasti Utami, pendiri TBK.
Salah satu pengasap ikan adalah Ny Manise (50). Perempuan dua anak itu sudah 30an tahun menjadi pengasap ikan. Setiap hari dia mengasapi ikan di rumahnya, dan menjualnya ke pasar desa dan pasar kecamatan.
"Semenjak ada wisatawan, saya mengasapi di pinggir jalan ini supaya wisatawan bisa melihat langsung. Kehadiran wisatawan juga menambah penghasilan saya," kata Manise.
Satu kali rombongan datang, seperti rombongan TBK itu, Manise bisa mendapatkan tambahan pemasukan antara Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Ikan asapnya juga selalu laris manis diborong wisatawan.
"Yang paling laris adalah ikan pari. Ikan asap kami juga segar karena memang berrasal dari ikan segar yang baru mendarat dari laut. Saya mengasapinya juga dengan bonggol jagung supaya lebih harum," imbuhnya.
Setelah memborong ikan asap di ibu-ibu Payangan, wisatawan diajak ke dermaga Payangan oleh guide rute Payangan, Haryadi.
Haryadi menceritakan kisah tentang asal usul Payangan dan Watu Ulo. Haryadi juga mengisahkan tentang kehidupan nelayan, seperti perahu, aneka alat tangkap yang dipakai, juga kapan waktu nelayan pergi dan datang melaut.
Dari dermaga Payangan, wisatawan diajak menikmati Pantai Payangan. Di pantai itu, wisatawan disuguhi keindahan pantai selatan, karang, dan bukit-bukit pemecah ombak alami di kawasan tersebut.
Pantai Tengah
Menikmati makan dan suasana Pantai Tengah Jember
Menikmati makan dan suasana Pantai Tengah Jember (surya/sri wahyunik)
Setelah puas bermain air, wisatawan diangkut kembali memakai bus kota, kali ini menuju Pantai Tengah.
Pantai Tengah berada di antara Pantai Payangan dan Pantai Watu Ulo.
Wisatawan menikmati makan siang di pantai tersebut. Kedai makan Cak Sukri sudah menyiapkan aneka olahan hasil laut, seperti lobster, sate gurita, sup rumput laut, juga ikan bakar.
Wisatawan bisa makan sambil menikmati ombak laut selatan. Tidak ada pembatas pemandangan itu. Makan di Pantai Tengah seakan makan di tepi Pantai Jimbaran Bali.
"Di tempat ini pula, rute Sunset Dinner. Wisatawan berangkat siang dari kota, dan menikmati sunset dan makan di tempat ini. Pemandangan matahari tenggelamnya sangat indah," terang Hasti Utami, pendiri TBK.
Hasti menuturkan, TBK merupakan kegiatan social tourism di Jember. TBK melakukan tiga hal sekaligus yakni pariwisata, edukasi, dan pemberdayaan.
"Kami mengenalkan pariwisata Jember yang sangat luar biasa jika dikemas baik. Juga edukasi kepada masyarakat, dan warga pelaku wisata, juga pemberdayaan kepada warga yang kami kunjungi," terang Hasti.
Dan khusus satu tahun usia TBK, kata Hasti, TBK menghadiahkan TBK Ramah Lansia kepada senior citizens atau Lansia. Para Lansia bisa ikut berpiknik di tengah usia Lansia mereka.
"Karena kami menghadirkan wisata yang ramah bagi Lansia. Ini juga bentuk penghormatan kepada senior citizens yang berjasa kepada kami anak-anak mereka," pungkas Hasti.
Sumber :
https://www.prosalinaradio.com/2017/12/11/anak-anak-muda-penggagas-tamasya-bus-kota-kebanjiran-wisatawan/
https://surabaya.tribunnews.com/2018/12/02/keliling-pantai-bersama-tamasya-bus-kota-jember?page=all.
Berwisata menikmati Kabupaten Jember dari atas bus kota? Sensasi ini bisa anda temukan dengan Tamasya Bus Kota (TBK) Jember. Wisatawan bisa berkeliling sambil menikmati suasana Jember dari dalam bus kota.
Tentunya tidak hanya dari dalam bus kota saja, saat tiba di lokasi tujuan, wisatawan diajak menikmati keindahan alam Jember, juga kuliber, dan kehidupan warganya. TBK diluncurkan setahun lalu, tepatnya 25 November 2017. Satu tahun berlalu, TBK telah mengantarkan lebih dari 10 ribu wisatawan ke aneka rute TBK.
Rute wisata yang ditawarkan TBK adalah Payangan-Watu Ulo, Puger, Sunset Dinner, durian, Jember Heritage Walking Tour, Jember Islamic Track, juga Petualangan Lin Kuning.
Untuk rute Payangan-Watu Ulo, Sunset Dinner, Puger, dan rute durian, wisatawan akan diangkut memakai bus kota milik Damri dalam kawasan Jember Kota.
Surya.co.id mengikuti rute TBK saat melayani rute Jember-Payangan, pada 25 November 2018 lalu. Ketika itu, TBK sekaligus meluncurkan program TBK Ramah Lansia.
Mengikuti rute Jember Kota-Payangan berarti harus siap bangun pagi. Karena pukul 06.00 WIB, wisatawan harus sudah siap dan berkumpul di titik pertemuan. Titik pertemuan berdasarkan kesepakatan para wisatawan.
Sekitar pukul 07.00 WIB, bus kota sudah berangkat. Para tour leader TBK siap menemani para wisatawan.
Bus tidak melaju kencang selayaknya bus umum. Membutuhkan waktu sekitar satu jam dari Jember Kota sampai ke Payangan.
Selama di perjalanan, wisatawan dibebaskan untuk saling menghibur diri dengan bernyanyi atau saling bercerita. Sopir bus Damri yang handal siap sedia mengantarkan wisatawan.
Pantai Payangan
Dermaga Pantai Payangan Jember
Dermaga Pantai Payangan Jember (surya/sri wahyunik)
Titik turun wisatawan untuk rute Payangan adalah Payangan Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu, Jember. Wisatawan diajak berwisata ke tempat pengasapan ikan dan pemindangan ikan.
Wisatawan bisa melihat langsung proses pengasapan ikan yang dilakukan oleh ibu-ibu Payangan. Wisatawan juga bisa membeli ikan segar yang masih hangat usai diasapi.
Jika wisatawan dari kalangan usia produktif, maka wisatawan diajak berjalan kaki menuju lokasi pengasapan ikan dan pemindangan.
Namun karena berbarengan dengan TBK Ramah Lansia maka wisatawan diberi fasilitas naik kereta kelinci ke lokasi pengasapan ikan dan dilanjutkan dengan ke dermaga Payangan.
"Kita tidak bisa ke pemindangan ikan karena sedang tidak musim ikan. Kalau lagi musim ikan, pasti lengkap diajak ke lokasi pemindangan dan pengasapan ikan," kata Hasti Utami, pendiri TBK.
Salah satu pengasap ikan adalah Ny Manise (50). Perempuan dua anak itu sudah 30an tahun menjadi pengasap ikan. Setiap hari dia mengasapi ikan di rumahnya, dan menjualnya ke pasar desa dan pasar kecamatan.
"Semenjak ada wisatawan, saya mengasapi di pinggir jalan ini supaya wisatawan bisa melihat langsung. Kehadiran wisatawan juga menambah penghasilan saya," kata Manise.
Satu kali rombongan datang, seperti rombongan TBK itu, Manise bisa mendapatkan tambahan pemasukan antara Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Ikan asapnya juga selalu laris manis diborong wisatawan.
"Yang paling laris adalah ikan pari. Ikan asap kami juga segar karena memang berrasal dari ikan segar yang baru mendarat dari laut. Saya mengasapinya juga dengan bonggol jagung supaya lebih harum," imbuhnya.
Setelah memborong ikan asap di ibu-ibu Payangan, wisatawan diajak ke dermaga Payangan oleh guide rute Payangan, Haryadi.
Haryadi menceritakan kisah tentang asal usul Payangan dan Watu Ulo. Haryadi juga mengisahkan tentang kehidupan nelayan, seperti perahu, aneka alat tangkap yang dipakai, juga kapan waktu nelayan pergi dan datang melaut.
Dari dermaga Payangan, wisatawan diajak menikmati Pantai Payangan. Di pantai itu, wisatawan disuguhi keindahan pantai selatan, karang, dan bukit-bukit pemecah ombak alami di kawasan tersebut.
Pantai Tengah
Menikmati makan dan suasana Pantai Tengah Jember
Menikmati makan dan suasana Pantai Tengah Jember (surya/sri wahyunik)
Setelah puas bermain air, wisatawan diangkut kembali memakai bus kota, kali ini menuju Pantai Tengah.
Pantai Tengah berada di antara Pantai Payangan dan Pantai Watu Ulo.
Wisatawan menikmati makan siang di pantai tersebut. Kedai makan Cak Sukri sudah menyiapkan aneka olahan hasil laut, seperti lobster, sate gurita, sup rumput laut, juga ikan bakar.
Wisatawan bisa makan sambil menikmati ombak laut selatan. Tidak ada pembatas pemandangan itu. Makan di Pantai Tengah seakan makan di tepi Pantai Jimbaran Bali.
"Di tempat ini pula, rute Sunset Dinner. Wisatawan berangkat siang dari kota, dan menikmati sunset dan makan di tempat ini. Pemandangan matahari tenggelamnya sangat indah," terang Hasti Utami, pendiri TBK.
Hasti menuturkan, TBK merupakan kegiatan social tourism di Jember. TBK melakukan tiga hal sekaligus yakni pariwisata, edukasi, dan pemberdayaan.
"Kami mengenalkan pariwisata Jember yang sangat luar biasa jika dikemas baik. Juga edukasi kepada masyarakat, dan warga pelaku wisata, juga pemberdayaan kepada warga yang kami kunjungi," terang Hasti.
Dan khusus satu tahun usia TBK, kata Hasti, TBK menghadiahkan TBK Ramah Lansia kepada senior citizens atau Lansia. Para Lansia bisa ikut berpiknik di tengah usia Lansia mereka.
"Karena kami menghadirkan wisata yang ramah bagi Lansia. Ini juga bentuk penghormatan kepada senior citizens yang berjasa kepada kami anak-anak mereka," pungkas Hasti.
Sumber :
https://www.prosalinaradio.com/2017/12/11/anak-anak-muda-penggagas-tamasya-bus-kota-kebanjiran-wisatawan/
https://surabaya.tribunnews.com/2018/12/02/keliling-pantai-bersama-tamasya-bus-kota-jember?page=all.
Monday, October 7, 2019
Asrama Haji di Jember
Senin 07 Oktober 2019, 14:17 WIB
Bupati Jember Faida Resmikan Pembangunan Asrama Haji Senilai Rp 220 Miliar
Bupati Jember Faida meresmikan pembangunan Asrama Haji di Desa/Kecamatan Ajung, Senin (7/10/2019). Pembangunan asrama haji ini menelan biaya kurang lebih Rp 220 miliar.
Gedung megah itu rencananya akan berdiri dengan 7 lantai. Asrama haji ini akan dilengkapi dengan miniatur ka'bah dan tempat untuk berlarian Sai Safa-Marwa, sebagai tempat untuk menasik dan tempat jemaah haji berkumpul, sebelum nantinya berangkat ke Surabaya dan lanjut ke Tanah Suci Mekkah.
Untuk proses pembangunan akan dilakukan secara beberapa tahap. Untuk tahap awal, akan selesai pada Desember 2019 mendatang.
"Kita hari ini selamatan (tasyakuran, red) peletakan batu pertama Pembangunan Asrama Haji Jember, (saat ini) tahap pertama yang akan dilakukan untuk 3 bulan pertama, dengan anggaran dari APBD Jember sebesar Rp 17.5 miliar dari pondasi hingga struktur tahap pertama," ujar Bupati Jember Faida usai melakukan simbolis peletakan baru pertama sebagai tanda dilakukan pembangunan gedung megah tersebut.
Pembangunan tahap pertama itu, direncanakan selesai Desember 2019 mendatang. "Kemudian pada Januari 2020, dilanjutkan tahap kedua dengan anggaran Rp 132 miliar. Itu untuk bangunan sampai lantai ketujuh. Kemudian nanti di perubahan anggaran (APBD) 2019 (Disiapkan anggaran) sekitar Rp 70 miliar, untuk interior, agar Asrama Haji ini bias juga berfungsi sebagai hotel transito, wisma atlet, wisma diklat, wisma daerah, dan memberikan manfaat maksimal," jelasnya.
Untuk tahap pertama juga akan disiapkan 440 tempat tidur yang berada di dalam 135 kamar. "Cukup untuk 1 kloter itu," ujarnya.
Pembangunan asrama haji ini, kata Faida, sesuai dengan komitmennya bersama dengan Presiden Jokowi, yang dulu pernah berkunjung ke Jember. "Untuk pembangunan asrAma haji menjadi tanggung jawab daerah, sementara untuk perpanjangan runway (Bandara Notohadinegoro), menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Untuk awal, selametan ini, bersama dengan 300 orang pekerja yang akan mengerjakan proyek ini," ujarnya.
Untuk akses jalan, maupun keamanan di lingkungan Asrama Haji ini, lanjut bupati wanita pertama di Jember itu, pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan jajaran Polres Jember dan juga Kodim 0824 setempat.
"Untuk akses jalan, kita lengkapkan (komunikasi) dengan Polsek yang masih menjadi sub sector, dan Koramil yang masih menjadi Pos Ramil. Untuk nantinya kami harap bias berkembang, karena di sini nanti akan menjadi pusat keramaian dan pusat olahraga. Bahkan juga menjadi destinasi religi," ujarnya.
Faida menjelaskan, untuk target penyelesaian pembangunan asrama haji yang dilakukan secara bertahap itu, nantinya ditargetkan selesai dalam kurun waktu satu tahun. "Saya berharap 2021 bisa beroperasi dengan baik. Sehingga masyarakat perlu menyiapkan diri untuk kebutuhan jemaah haji, KBIH-KBIH mempersiapkan diri, karena kebutuhan untuk mendukung Jemaah haji dari catering, UMKM, kebutuhan Jemaah (lainnya) alat perlengkapan ibadah, oleh-oleh souvenir, saya berharap jadi pendongkrak ekonomi umat," ungkapnya.
Sumber :
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4736685/bupati-jember-faida-resmikan-pembangunan-asrama-haji-senilai-rp-220-miliar?single=1
Pemkab Jember Mulai Bangun Asrama Haji, Di Sini Lokasinya
Senin, 7 Oktober 2019 13:35
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memulai pembangunan asrama haji Jember. Pembangunan itu dimulai dari peletakan batu pertama (ground breaking), Senin (7/10/2019). Asrama haji Jember dibangun di Kecamatan Ajung, Jember, di sisi barat daya Jember Sport Garden (JSG).
Peletakan batu pertama itu ditandai dengan seremoni pembukaan, yang diakhiri makan bersama antara bupati, sejumlah pejabat di Kabupaten Jember, serta 300 orang tukang.
"Mohon doa restunya untuk kelancaran pembangunan asrama haji ini. Peletakan batu pertama ini untuk pembangunan tahap pertama yang dibangun akhir tahun 2019," ujar Bupati Jember Faida.
Faida mengatakan, pembangunan asrama itu akan berlangsung dalam tiga tahap yakni pertama, kedua, dan ketiga.
Tahap pertama dibangun akhir tahun 2019 memakai anggaran sebesar Rp 17,5 miliar.
Tahap kedua dibangun memakai APBD 2020, dan tahap ketiga memakai dana Perubahan APBD 2020.
"Total anggaran mencapai Rp 220 miliar memakai dana APBD Jember," ujar Faida.
Dia menuturkan, asrama haji Kabupaten Jember bakal memiliki multifungsi dan manfaat yang cukup besar bagi masyarakat Jember maupun daerah atau kabupaten di sekitarnya.
Asrama itu disebut akan memiliki fasilitas setingkat hotel berbintang tiga, dengan 7 lantai dan luas kurang lebih 1,54 ha dengan jumlah kamar sebanyak 184 ruangan dan 440 tempat tidur.
Asrama haji direncanakan bukan hanya untuk penginapan sementara bagi calon jamaah haji sebelum berangkat menunaikan ibadah haji, melainkan dapat dimanfaatkan untuk wisma atlet, pendidikan, latihan manasik, pelatihan dan juga area training center.
Selain itu, fasilitas yang dibangun akan menyerupai asrama haji yang mirip dengan yang ada di tanah suci, sehingga akan memudahkan bagi pelatihan manasik haji.
Dengan perencanaan pembangunan 3 tahap, yakni tahap pertama adalah konstruksi bangunan bawah (pondasi) hingga sebagian konstruksi bangunan atas yang usai pada 2019 ini.
Tahap kedua adalah tahap penyelesaian konstruksi bangunan atas dan arsitektural asrama haji yang bakal diselesaikan pada tahun 2020.
Untuk tahap tiga atau yang terakhir adalah pembangunan interior, gardening, dan finishing yang akan didukung dengan anggaran tahun 2020.
Pembangunan itu diharapkan selesai secara keseluruhan pada tahun 2021.
"Kenapa Pemkab Jember membangunan asrama haji, karena berdasarkan data yang kami miliki, setiap tahun sekitar 2.000 orang Jember berhaji," imbuh Faida.
Data dari Kementerian Agama Kabupaten Jember mencatat Jemaah haji pada tahun 2018 sebanyak 1.981 orang dan pada 2019 meningkat menjadi 2.004 orang.
Dengan adanya asrama haji di Kabupaten Jember ini, calon jamaah haji tidak perlu lagi berangkat ke Surabaya lagi.
Asrama haji itu nantinya sebagai sarana penunjang Bandara Notohadinegoro sebagai embarkasi haji antara.
Realisasi asrama haji ini juga sebagai perwujudan dari 22 janji Bupati dan Wakil Bupati.
Sumber :
https://surabaya.tribunnews.com/2019/10/07/pemkab-jember-mulai-bangun-asrama-haji-di-sini-lokasinya?page=all.
Sumber foto :
https://www.youtube.com/watch?v=9TQVCL_k6bI
Bupati Jember Faida Resmikan Pembangunan Asrama Haji Senilai Rp 220 Miliar
Bupati Jember Faida meresmikan pembangunan Asrama Haji di Desa/Kecamatan Ajung, Senin (7/10/2019). Pembangunan asrama haji ini menelan biaya kurang lebih Rp 220 miliar.
Gedung megah itu rencananya akan berdiri dengan 7 lantai. Asrama haji ini akan dilengkapi dengan miniatur ka'bah dan tempat untuk berlarian Sai Safa-Marwa, sebagai tempat untuk menasik dan tempat jemaah haji berkumpul, sebelum nantinya berangkat ke Surabaya dan lanjut ke Tanah Suci Mekkah.
Untuk proses pembangunan akan dilakukan secara beberapa tahap. Untuk tahap awal, akan selesai pada Desember 2019 mendatang.
"Kita hari ini selamatan (tasyakuran, red) peletakan batu pertama Pembangunan Asrama Haji Jember, (saat ini) tahap pertama yang akan dilakukan untuk 3 bulan pertama, dengan anggaran dari APBD Jember sebesar Rp 17.5 miliar dari pondasi hingga struktur tahap pertama," ujar Bupati Jember Faida usai melakukan simbolis peletakan baru pertama sebagai tanda dilakukan pembangunan gedung megah tersebut.
Pembangunan tahap pertama itu, direncanakan selesai Desember 2019 mendatang. "Kemudian pada Januari 2020, dilanjutkan tahap kedua dengan anggaran Rp 132 miliar. Itu untuk bangunan sampai lantai ketujuh. Kemudian nanti di perubahan anggaran (APBD) 2019 (Disiapkan anggaran) sekitar Rp 70 miliar, untuk interior, agar Asrama Haji ini bias juga berfungsi sebagai hotel transito, wisma atlet, wisma diklat, wisma daerah, dan memberikan manfaat maksimal," jelasnya.
Untuk tahap pertama juga akan disiapkan 440 tempat tidur yang berada di dalam 135 kamar. "Cukup untuk 1 kloter itu," ujarnya.
Pembangunan asrama haji ini, kata Faida, sesuai dengan komitmennya bersama dengan Presiden Jokowi, yang dulu pernah berkunjung ke Jember. "Untuk pembangunan asrAma haji menjadi tanggung jawab daerah, sementara untuk perpanjangan runway (Bandara Notohadinegoro), menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Untuk awal, selametan ini, bersama dengan 300 orang pekerja yang akan mengerjakan proyek ini," ujarnya.
Untuk akses jalan, maupun keamanan di lingkungan Asrama Haji ini, lanjut bupati wanita pertama di Jember itu, pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan jajaran Polres Jember dan juga Kodim 0824 setempat.
"Untuk akses jalan, kita lengkapkan (komunikasi) dengan Polsek yang masih menjadi sub sector, dan Koramil yang masih menjadi Pos Ramil. Untuk nantinya kami harap bias berkembang, karena di sini nanti akan menjadi pusat keramaian dan pusat olahraga. Bahkan juga menjadi destinasi religi," ujarnya.
Faida menjelaskan, untuk target penyelesaian pembangunan asrama haji yang dilakukan secara bertahap itu, nantinya ditargetkan selesai dalam kurun waktu satu tahun. "Saya berharap 2021 bisa beroperasi dengan baik. Sehingga masyarakat perlu menyiapkan diri untuk kebutuhan jemaah haji, KBIH-KBIH mempersiapkan diri, karena kebutuhan untuk mendukung Jemaah haji dari catering, UMKM, kebutuhan Jemaah (lainnya) alat perlengkapan ibadah, oleh-oleh souvenir, saya berharap jadi pendongkrak ekonomi umat," ungkapnya.
Sumber :
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4736685/bupati-jember-faida-resmikan-pembangunan-asrama-haji-senilai-rp-220-miliar?single=1
Pemkab Jember Mulai Bangun Asrama Haji, Di Sini Lokasinya
Senin, 7 Oktober 2019 13:35
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memulai pembangunan asrama haji Jember. Pembangunan itu dimulai dari peletakan batu pertama (ground breaking), Senin (7/10/2019). Asrama haji Jember dibangun di Kecamatan Ajung, Jember, di sisi barat daya Jember Sport Garden (JSG).
Peletakan batu pertama itu ditandai dengan seremoni pembukaan, yang diakhiri makan bersama antara bupati, sejumlah pejabat di Kabupaten Jember, serta 300 orang tukang.
"Mohon doa restunya untuk kelancaran pembangunan asrama haji ini. Peletakan batu pertama ini untuk pembangunan tahap pertama yang dibangun akhir tahun 2019," ujar Bupati Jember Faida.
Faida mengatakan, pembangunan asrama itu akan berlangsung dalam tiga tahap yakni pertama, kedua, dan ketiga.
Tahap pertama dibangun akhir tahun 2019 memakai anggaran sebesar Rp 17,5 miliar.
Tahap kedua dibangun memakai APBD 2020, dan tahap ketiga memakai dana Perubahan APBD 2020.
"Total anggaran mencapai Rp 220 miliar memakai dana APBD Jember," ujar Faida.
Dia menuturkan, asrama haji Kabupaten Jember bakal memiliki multifungsi dan manfaat yang cukup besar bagi masyarakat Jember maupun daerah atau kabupaten di sekitarnya.
Asrama itu disebut akan memiliki fasilitas setingkat hotel berbintang tiga, dengan 7 lantai dan luas kurang lebih 1,54 ha dengan jumlah kamar sebanyak 184 ruangan dan 440 tempat tidur.
Asrama haji direncanakan bukan hanya untuk penginapan sementara bagi calon jamaah haji sebelum berangkat menunaikan ibadah haji, melainkan dapat dimanfaatkan untuk wisma atlet, pendidikan, latihan manasik, pelatihan dan juga area training center.
Selain itu, fasilitas yang dibangun akan menyerupai asrama haji yang mirip dengan yang ada di tanah suci, sehingga akan memudahkan bagi pelatihan manasik haji.
Dengan perencanaan pembangunan 3 tahap, yakni tahap pertama adalah konstruksi bangunan bawah (pondasi) hingga sebagian konstruksi bangunan atas yang usai pada 2019 ini.
Tahap kedua adalah tahap penyelesaian konstruksi bangunan atas dan arsitektural asrama haji yang bakal diselesaikan pada tahun 2020.
Untuk tahap tiga atau yang terakhir adalah pembangunan interior, gardening, dan finishing yang akan didukung dengan anggaran tahun 2020.
Pembangunan itu diharapkan selesai secara keseluruhan pada tahun 2021.
"Kenapa Pemkab Jember membangunan asrama haji, karena berdasarkan data yang kami miliki, setiap tahun sekitar 2.000 orang Jember berhaji," imbuh Faida.
Data dari Kementerian Agama Kabupaten Jember mencatat Jemaah haji pada tahun 2018 sebanyak 1.981 orang dan pada 2019 meningkat menjadi 2.004 orang.
Dengan adanya asrama haji di Kabupaten Jember ini, calon jamaah haji tidak perlu lagi berangkat ke Surabaya lagi.
Asrama haji itu nantinya sebagai sarana penunjang Bandara Notohadinegoro sebagai embarkasi haji antara.
Realisasi asrama haji ini juga sebagai perwujudan dari 22 janji Bupati dan Wakil Bupati.
Sumber :
https://surabaya.tribunnews.com/2019/10/07/pemkab-jember-mulai-bangun-asrama-haji-di-sini-lokasinya?page=all.
Sumber foto :
https://www.youtube.com/watch?v=9TQVCL_k6bI
Jalan Tol Probowangi
Target Selesai 2025, Pemprov Jatim Kebut Pengadaan Lahan Jalan Tol Probowangi
Kamis, 5 September 2019 08:32
Pemprov Jawa Timur bertekad untuk mempercepat pembangunan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) Seksi II. Harapannya jalan bebas hambatan tersebut selesai sesuai target nasional, yakni tahun 2025.
"Jalan tol Probowangi ini kan disambung dari Tol Trans Jawa yang merupakan program nasional yang dituangkan dalam Perpres. Program nasional ini harus selesai pada tahun 2025," kata Kabag Pemerintahan Pemprov Jatim, Dwi Mardiana, usai memberikan sosialisasi tentang rencana pembangunan Jalan Tol Trans Jawa, di Kantor Kecamatan Panarukan, Rabu (4/9) petang.
Karena itu, rencana pembangunan Jalan Tol Probowangi ini menjadi perhatian khusus dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dari tiga seksi yang direncanakan, pembebasan lahan baru selesai di jalur yang melintasi Kabupaten Probolinggo.
"Pengadaan lahan yang belum dilakukan adalah yang di Situbondo untuk seksi II dan Banyuwangi untuk seksi III," jelasnya.
Saat ini, rencana pembangunan seksi II di Situbondo, Jawa Timur, baru memasuki tahap konsultasi publik berupa sosialisasi. Karena itulah, Pemprov Jatim sejak awal September ini terus melakukan sosialisasi dengan mengundang ratusan warga pemilik lahan secara bergiliran di beberapa titik.
"Uji publik ini merupakan proses pengadaan tanah untuk proyek jalan tol Probowangi. Ditargetkan, pengadaan tanah di Situbondo ini harus rampung bulan ini," ujar Dwi.
Pembangunan jalan tol Probowangi di Situbondo akan memiliki panjang 110 km. Untuk itu dibutuhkan lahan seluas 1.072 hektar yang tersebar di 46 desa di 14 kecamatan.
"Lahan itu 56 persen milik masyarakat dengan rincian, 41 persen merupakan lahan produktif, 15 persen pemukiman. Sedangkan 32 persen merupakan kawasan perhutani dan selebihnya milik instansi," papar Dwi.
Merujuk pada ketentuan dalam UU nomor 02 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, lanjut Dwi, pemberian ganti rugi bagi warga yang tanahnya terdampak, tidak hanya akan memperhatikan aspek fisik semata, tapi juga aspek non fisik.
"Memang tidak pakai istilah ganti untung, tetap ganti rugi. Tetapi gantinya akan menguntungkan secara adil dan memakmurkan masyarakat. Karena itu, penggantinya tidak cuma uang, tetapi bisa tanah, rumah atau lainnya. Tergantung nanti dari tim penilai," ungkapnya.
Proses penilaian secara fisik dan non-fisik nantinya akan dilakukan oleh tim dari Konsultan Jasa Penilai Publik (KJPP), setelah musyawarah rampung. Dwi memastikan, proses pembebasan lahan untuk proyek jalan tol Probowangi akan berjalan terbuka. Karena pembelinya pemerintah, maka tidak ada potongan apapun dalam proses jual beli, termasuk tidak ada potongan maupun pajak jual beli.
"Semua kebutuhan dalam rangka transaksi, seperti foto kopi, materai dan lainnya, menjadi tanggung jawab panitia. Untuk pembayarannya nanti akan langsung ke rekening masing-masing pemilik tanah," tandas Dwi.
Sumber :
https://www.merdeka.com/peristiwa/target-selesai-2025-pemprov-jatim-kebut-pengadaan-lahan-jalan-tol-probowangi.html
Rabu, 04 Sep 2019 18:00 WIB
Lahan Proyek Tol Probolinggo-Banyuwangi 1.000 Ha, Sebagian Sawah
Proyek pembangunan jalan tol Probolinggo - Banyuwangi (Probowangi) seksi II di Situbondo masuk tahap konsultasi publik, Rabu (4/9/2019). Ratusan warga di Kecamatan Panarukan dikumpulkan di kantor Kecamatan setempat mengikuti sosialisasi proyek jalan tol Trans Jawa tersebut.
Para warga itu merupakan pemilik lahan yang akan digunakan untuk proyek pembangunan jalan tol Probowangi Seksi II.
"Ini proses pengadaan tanah untuk proyek jalan tol Probowangi. Yang sudah selesai pengadaan tanahnya itu sampai Probolinggo. Situbondo dan Banyuwangi belum selesai. Situbondo masuk Seksi II dan Banyuwangi Seksi III," kata Kabag Pemerintahan Pemprov Jatim, Dwi Mardiana, di lokasi acara.
Dalam sosialisasi itu disampaikan pembangunan jalan tol Probowangi Seksi II di Situbondo akan memiliki panjang 110 Km, dengan lebar sekitar 60 meter. Untuk kepentingan itu, dibutuhkan lahan seluas 1.072 hektare (Ha). Lahan itu tersebar di 46 Desa dalam 14 Kecamatan di Situbondo. Dari lahan yang dibutuhkan proyek jalan tol ini, tanah masyarakat sekitar 56%, Perhutani 32%, instansi 2%, dan lainnya.
"Dari kebutuhan tersebut, masuk tanah sawah sekitar 439,5 hektar atau 41%, pemukiman 15%, selebihnya masuk kawasan Perhutani dan pemerintah," beber Agus Winarno, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementrian Pekerjaan Umum Dinas Bina Marga.
Semula pintu jalan tol di sepanjang Situbondo ini direncanakan hanya ada dua. Namun, sambung Agus, karena usulan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat, pintu tol di Situbondo ditambah menjadi 4. Masing-masing, di Kecamatan Besuki, di Desa Pasir Putih Kecamatan Bungatan, Kecamatan Panji, dan di Desa Curah Kalak, Kecamatan Jangkar.
"Pengadaan tanah ini akan disesuaikan dengan UU nomor 02 tahun 2012. Prinsipnya, hak-hak masyarakat harus terpenuhi. Baik yang di atas maupun bawah tanah itu ada nilainya," papar Agus.
Karena itu, jika ada tim yang akan melakukan identifikasi dan inventarisasi pemilik tanah hendaknya bersikap kooperatif. Hasil identifikasi dan inventarisasi itu kemudian akan diumumkan secara terbuka di Balai Desa masing-masing. Sehingga, jika ada ketidaksesuaian pemilik lahan bisa langsung komplain.
"Kami juga akan membuka Posko di masing-masing Balai Desa. Sehingga, jika ada yang kurang jelas warga bisa langsung bertanya," papar Agus Winarno.
Pemerintah juga menjamin pengadaan tanah untuk proyek jalan tol ini akan berjalan terbuka. Keterbukaan itu sekaligus menjawab jaminan transparansi yang sering diragukan masyarakat. Menurut Agus, sesuai peraturan karena pembelinya adalah pemerintah, maka tidak ada potongan apapun dalam ganti rugi tersebut.
"Potongan dan pajak jual beli nol atau tidak ada, karena dibeli pemerintah. Kecuali yang pajak tanahnya sempat nunggak. Semua kebutuhan, baik foto kopi atau materai dan sebagainya, semuanya juga tanggung jawab panitia. Pembayarannya nanti akan langsung ke rekening," ujar Agus Winarno.
Sementara Dwi Mardiana menambahkan, sosialisasi dan konsultasi publik di Situbondo sudah dilakukan sejak Senin (2/9) lalu. Diharapkan sosialasi sudah selesai dalam bulan ini. Sehingga Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, bisa segera mengeluarkan keputusan ijin penetapan lokasi (penlok). Jika ijin penlok sudah terbit, maka tahapan pengadaan tanah bisa dilakukan.
"Sosialisasi ini untuk menjelaskan kepada warga bahwa tanahnya akan digunakan pembangunan jalan tol. Selain itu, agar warga juga mengetahui secara transparan mulai dari persiapan sampai pelaksanaan," tandasnya.
Sebagian pemilik lahan sempat mempertanyakan patokan harga ganti rugi yang disiapkan pemerintah. Salah seorang warga, Abdul Muis mewanti-wanti, agar patokan harga ganti rugi itu tidak hanya didasarkan pada penilaian saja. Tetapi juga harus didasarkan pada 'rasa-rasa' si pemilik lahan. Apalagi lahan pertanian, yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran ekonomi masyarakat.
"Tentu ini akan sangat berdampak pada perekonomian kami. Selama ini hasil lahan itu juga menjadi penunjang pendidikan dan masa depan anak-anak kami. Karena itu, kami meminta agar pemerintah juga mengendepankan 'rasa-rasa' dalam menentukan harga ganti rugi nanti," tukas pria asal Desa Sumberkolak itu.
Dwi Mardiana menjelaskan, harga ganti rugi untuk pembebasan lahan itu akan disesuaikan dengan UU nomor 02 tahun 2012. Sehingga meski istilahnya tetap ganti rugi, namun penggantinya cukup menguntungkan, adil, dan layak untuk kemakmuran masyarakat.
"Namun, soal harga itu bukan kewenangan kami. Nanti akan ada tim tersendiri, yakni dari Konsultan Jasa Penilai Publik (KJPP). Jadi akan dinilai, baik secara fisik maupun non fisik. Ganti rugi juga tidak hanya berupa uang, bisa juga berbentuk rumah atau lainnya, yang itu juga atas penilaian dari tim KJPP," papar wanita berjilbab itu
Sumber :
https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4693590/lahan-proyek-tol-probolinggo-banyuwangi-1000-ha-sebagian-sawah
Kamis, 5 September 2019 08:32
Pemprov Jawa Timur bertekad untuk mempercepat pembangunan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) Seksi II. Harapannya jalan bebas hambatan tersebut selesai sesuai target nasional, yakni tahun 2025.
"Jalan tol Probowangi ini kan disambung dari Tol Trans Jawa yang merupakan program nasional yang dituangkan dalam Perpres. Program nasional ini harus selesai pada tahun 2025," kata Kabag Pemerintahan Pemprov Jatim, Dwi Mardiana, usai memberikan sosialisasi tentang rencana pembangunan Jalan Tol Trans Jawa, di Kantor Kecamatan Panarukan, Rabu (4/9) petang.
Karena itu, rencana pembangunan Jalan Tol Probowangi ini menjadi perhatian khusus dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dari tiga seksi yang direncanakan, pembebasan lahan baru selesai di jalur yang melintasi Kabupaten Probolinggo.
"Pengadaan lahan yang belum dilakukan adalah yang di Situbondo untuk seksi II dan Banyuwangi untuk seksi III," jelasnya.
Saat ini, rencana pembangunan seksi II di Situbondo, Jawa Timur, baru memasuki tahap konsultasi publik berupa sosialisasi. Karena itulah, Pemprov Jatim sejak awal September ini terus melakukan sosialisasi dengan mengundang ratusan warga pemilik lahan secara bergiliran di beberapa titik.
"Uji publik ini merupakan proses pengadaan tanah untuk proyek jalan tol Probowangi. Ditargetkan, pengadaan tanah di Situbondo ini harus rampung bulan ini," ujar Dwi.
Pembangunan jalan tol Probowangi di Situbondo akan memiliki panjang 110 km. Untuk itu dibutuhkan lahan seluas 1.072 hektar yang tersebar di 46 desa di 14 kecamatan.
"Lahan itu 56 persen milik masyarakat dengan rincian, 41 persen merupakan lahan produktif, 15 persen pemukiman. Sedangkan 32 persen merupakan kawasan perhutani dan selebihnya milik instansi," papar Dwi.
Merujuk pada ketentuan dalam UU nomor 02 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, lanjut Dwi, pemberian ganti rugi bagi warga yang tanahnya terdampak, tidak hanya akan memperhatikan aspek fisik semata, tapi juga aspek non fisik.
"Memang tidak pakai istilah ganti untung, tetap ganti rugi. Tetapi gantinya akan menguntungkan secara adil dan memakmurkan masyarakat. Karena itu, penggantinya tidak cuma uang, tetapi bisa tanah, rumah atau lainnya. Tergantung nanti dari tim penilai," ungkapnya.
Proses penilaian secara fisik dan non-fisik nantinya akan dilakukan oleh tim dari Konsultan Jasa Penilai Publik (KJPP), setelah musyawarah rampung. Dwi memastikan, proses pembebasan lahan untuk proyek jalan tol Probowangi akan berjalan terbuka. Karena pembelinya pemerintah, maka tidak ada potongan apapun dalam proses jual beli, termasuk tidak ada potongan maupun pajak jual beli.
"Semua kebutuhan dalam rangka transaksi, seperti foto kopi, materai dan lainnya, menjadi tanggung jawab panitia. Untuk pembayarannya nanti akan langsung ke rekening masing-masing pemilik tanah," tandas Dwi.
Sumber :
https://www.merdeka.com/peristiwa/target-selesai-2025-pemprov-jatim-kebut-pengadaan-lahan-jalan-tol-probowangi.html
Rabu, 04 Sep 2019 18:00 WIB
Lahan Proyek Tol Probolinggo-Banyuwangi 1.000 Ha, Sebagian Sawah
Proyek pembangunan jalan tol Probolinggo - Banyuwangi (Probowangi) seksi II di Situbondo masuk tahap konsultasi publik, Rabu (4/9/2019). Ratusan warga di Kecamatan Panarukan dikumpulkan di kantor Kecamatan setempat mengikuti sosialisasi proyek jalan tol Trans Jawa tersebut.
Para warga itu merupakan pemilik lahan yang akan digunakan untuk proyek pembangunan jalan tol Probowangi Seksi II.
"Ini proses pengadaan tanah untuk proyek jalan tol Probowangi. Yang sudah selesai pengadaan tanahnya itu sampai Probolinggo. Situbondo dan Banyuwangi belum selesai. Situbondo masuk Seksi II dan Banyuwangi Seksi III," kata Kabag Pemerintahan Pemprov Jatim, Dwi Mardiana, di lokasi acara.
Dalam sosialisasi itu disampaikan pembangunan jalan tol Probowangi Seksi II di Situbondo akan memiliki panjang 110 Km, dengan lebar sekitar 60 meter. Untuk kepentingan itu, dibutuhkan lahan seluas 1.072 hektare (Ha). Lahan itu tersebar di 46 Desa dalam 14 Kecamatan di Situbondo. Dari lahan yang dibutuhkan proyek jalan tol ini, tanah masyarakat sekitar 56%, Perhutani 32%, instansi 2%, dan lainnya.
"Dari kebutuhan tersebut, masuk tanah sawah sekitar 439,5 hektar atau 41%, pemukiman 15%, selebihnya masuk kawasan Perhutani dan pemerintah," beber Agus Winarno, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementrian Pekerjaan Umum Dinas Bina Marga.
Semula pintu jalan tol di sepanjang Situbondo ini direncanakan hanya ada dua. Namun, sambung Agus, karena usulan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat, pintu tol di Situbondo ditambah menjadi 4. Masing-masing, di Kecamatan Besuki, di Desa Pasir Putih Kecamatan Bungatan, Kecamatan Panji, dan di Desa Curah Kalak, Kecamatan Jangkar.
"Pengadaan tanah ini akan disesuaikan dengan UU nomor 02 tahun 2012. Prinsipnya, hak-hak masyarakat harus terpenuhi. Baik yang di atas maupun bawah tanah itu ada nilainya," papar Agus.
Karena itu, jika ada tim yang akan melakukan identifikasi dan inventarisasi pemilik tanah hendaknya bersikap kooperatif. Hasil identifikasi dan inventarisasi itu kemudian akan diumumkan secara terbuka di Balai Desa masing-masing. Sehingga, jika ada ketidaksesuaian pemilik lahan bisa langsung komplain.
"Kami juga akan membuka Posko di masing-masing Balai Desa. Sehingga, jika ada yang kurang jelas warga bisa langsung bertanya," papar Agus Winarno.
Pemerintah juga menjamin pengadaan tanah untuk proyek jalan tol ini akan berjalan terbuka. Keterbukaan itu sekaligus menjawab jaminan transparansi yang sering diragukan masyarakat. Menurut Agus, sesuai peraturan karena pembelinya adalah pemerintah, maka tidak ada potongan apapun dalam ganti rugi tersebut.
"Potongan dan pajak jual beli nol atau tidak ada, karena dibeli pemerintah. Kecuali yang pajak tanahnya sempat nunggak. Semua kebutuhan, baik foto kopi atau materai dan sebagainya, semuanya juga tanggung jawab panitia. Pembayarannya nanti akan langsung ke rekening," ujar Agus Winarno.
Sementara Dwi Mardiana menambahkan, sosialisasi dan konsultasi publik di Situbondo sudah dilakukan sejak Senin (2/9) lalu. Diharapkan sosialasi sudah selesai dalam bulan ini. Sehingga Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, bisa segera mengeluarkan keputusan ijin penetapan lokasi (penlok). Jika ijin penlok sudah terbit, maka tahapan pengadaan tanah bisa dilakukan.
"Sosialisasi ini untuk menjelaskan kepada warga bahwa tanahnya akan digunakan pembangunan jalan tol. Selain itu, agar warga juga mengetahui secara transparan mulai dari persiapan sampai pelaksanaan," tandasnya.
Sebagian pemilik lahan sempat mempertanyakan patokan harga ganti rugi yang disiapkan pemerintah. Salah seorang warga, Abdul Muis mewanti-wanti, agar patokan harga ganti rugi itu tidak hanya didasarkan pada penilaian saja. Tetapi juga harus didasarkan pada 'rasa-rasa' si pemilik lahan. Apalagi lahan pertanian, yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran ekonomi masyarakat.
"Tentu ini akan sangat berdampak pada perekonomian kami. Selama ini hasil lahan itu juga menjadi penunjang pendidikan dan masa depan anak-anak kami. Karena itu, kami meminta agar pemerintah juga mengendepankan 'rasa-rasa' dalam menentukan harga ganti rugi nanti," tukas pria asal Desa Sumberkolak itu.
Dwi Mardiana menjelaskan, harga ganti rugi untuk pembebasan lahan itu akan disesuaikan dengan UU nomor 02 tahun 2012. Sehingga meski istilahnya tetap ganti rugi, namun penggantinya cukup menguntungkan, adil, dan layak untuk kemakmuran masyarakat.
"Namun, soal harga itu bukan kewenangan kami. Nanti akan ada tim tersendiri, yakni dari Konsultan Jasa Penilai Publik (KJPP). Jadi akan dinilai, baik secara fisik maupun non fisik. Ganti rugi juga tidak hanya berupa uang, bisa juga berbentuk rumah atau lainnya, yang itu juga atas penilaian dari tim KJPP," papar wanita berjilbab itu
Sumber :
https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4693590/lahan-proyek-tol-probolinggo-banyuwangi-1000-ha-sebagian-sawah
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Mengenal Garis Keturunan Ivar Jenner, Neneknya Berasal dari Jember Gelandang berdarah Belanda, Ivar Jenner, menjadi salah satu nama pemain y...
-
Kopi Asal Jember Didorong Agar Mendunia Kondisi geografis Kabupaten Jember, Jawa Timur berada di antara pegunungan Hyang Argopuro dan Raung ...
-
DPC PKB Jember Minta Pemkab Segera Tangkap Potensi Lokal Soal Kopi dan Kakao 21 Desember 2021, 15:03 WIB Pemerintah Kabupaten Jember saat in...
-
Sosok Megawati Hangestri, Pemain Voli Asal Jember yang Namanya Bersinar di Korea Selatan 07/11/2023, 09:00 WIB Nama Megawati Hangestri Perti...
-
Antrean kendaraan di SPBU 54.681.11 Kebonsari pagi ini mencapai sekitar 400 meter. Warga mengantre sejak Subuh, bahkan malam sebelumnya. Ter...






