Friday, July 11, 2014

Jalan Sudarman, Terpendek di Kota Jember


Dulu saya pernah berpikir, kenapa ya kok di Kota Jember, Jawa Timur nggak ada JL Sudarman No 2? Atau nomor 3, 4, 5, dan seterusnya? Kenapa Jalan Sudarman hanya ada satu yaitu di depan Kantor Pemda, Kabupaten Jember dari ujung ke ujung, yang panjangnya kurang lebih hanya 100 meter itu.

Saat SMP,barulah saya ketahui ternyata jalan tersebut (Jalan Sudarman) diambil dari nama Bupati ketiga Jember era 1943 – 1947. Waktu itu, namanya masih menggunakan ejaan lama, R. Soedarman.

Ketika Belanda melangsungkan Agresi Militer pertama di Indonesia, mereka juga melakukan perombakan terhadap struktur pemerintahan nusantara, khususnya di Jawa bagian timur. Nah, waktu itu Bapak Sudarman tidak mau berkompromi dengan Belanda.

Seolah-olah Pak Darman berkata, sekali merdeka tetap merdeka. Alhasil, pembangkangan ini menyebabkan pihak Belanda gusar. Kemudian pihak Belanda mencopot jabatan Pak Sudarman dan menggantikannya dengan Bupati baru yang dirasa bisa memenuhi kehendak mereka para kolonial Belanda.

Bagaimana nasib Bapak Sudarman? Pada akhirnya beliau dipenjarakan. Saya lupa, dipenjarakan dimana ya beliau? Kalau tidak salah, di sebuah penjara di Sidoarjo (mohon koreksi jika saya salah). Di tahun yang sama, 1947, Bapak Sudarman meninggal dunia, dalam keadaan masih di dalam penjara.

Haripun berlalu. Para pejuang revolusi seperti Dr. Soebandi, Letkol Moch. Sroedji, dan lain-lain di seluruh negeri ini, berhasil mengusir Belanda dan kembali mengibarkan sang saka merah putih dengan jiwa merdeka. Untuk mengenang jasa Bapak Sudarman yang telah berani berkata tidak, nama beliau dijadikan nama jalan di jantung kota kecil Jember.

Itulah sekelumit kisah tentang JL. Sudarman. Bisa dibilang, ini adalah jalan terpendek di Jember. Sebab, sampai hari ini saya masih belum menemukan jalan lain yang lebih pendek dari JL. Sudarman.

Saya tambahi cerita dari salah satu cucunya yang saya kenal di Jakarta, Ibu Ria Azis Basoeki yang menceritakan Eyang Soedarman meninggal sebagai tahanan rumah di Sidoarjo. Sebelum beliau menjadi Bupati Jember, pernah menjadi wedana di Sidoarjo. (Penulis: RZ Hakim, Editor: Asita DK)



sumber : 
http://cintajember.com

Sunday, July 6, 2014

Bandara Notohadinegoro Mendekati Final


Persiapan operasi Bandara Notohadinegoro, Ajung, sudah mendekati final. Selasa (24/6) jajaran Garuda Indonesia melakukan verifikasi akhir ke bandara. Maskapai pelat merah itu menyatakan, Bandara Notohadinegoro sudah siap didarati pesawat. Dengan demikian, waktu pengoperasian bandara tinggal menunggu verifikasi akhir dan penetapan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub.

Jajaran Garuda yang kemarin meninjau bandara adalah Vice President PT Garuda Indonesia Region III (Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) Ari Suryanta, Ahmad Nursyirwan, auditor technical expert Garuda Indonesia, serta sejumlah tim teknis.

Tim Garuda kemarin menguji sejumlah peralatan. Mulai pintu masuk, peralatan telekomunikasi, navigasi, listrik (telnavlis), BMKG, hingga ground handling. Sarana lain yang baru selesai dikerjakan di bandara tersebut juga diuji. Yakni,overlayatau penebalan landasan pacu sepanjang 1.560 meter dan pemagaran berkeliling seluas 120 hektare.

Untuk menjajal kondisi landasan pacu, Ari bersama sejumlah rombongan memacu kendaraan di atas landasan pacu itu dengan kecepatan hingga 150 km/jam. 

Ari menyatakan, walau dipacu hingga 150 km/jam, laju kendaraan cukup stabil. Hal itu berbeda sebelum ada overlay, yakni landasan bergelombang dan membahayakan penerbangan. Di sisi ujung landasan, lanjut dia, ditemukan gelombang. Tetapi, dia menilai, tidak ada masalah. Landasan pacu tersebut siap menjadi tempat landing dan takeoff pesawat.

Meski secara umum Bandara Notohadinegoro sudah siap beroperasi, bukan berarti Garuda sudah bisa terbang besok atau lusa. Sebab, yang melakukan verifikasi akhir baru Garuda Indonesia. 

Jika Kemenhub sudah menyatakan layak, Garuda siap beroperasi. Prinsipnya, dengan kondisi terkini bandara, Garuda siap beroperasi kapan pun diminta. Namun, untuk memberi ruang persiapan yang cukup, Garuda baru menjual tiket penerbangan ke masyarakat mulai 15 Juli 2014. Bila bandara bisa beroperasi sebelum 15 Juli pun, Garuda sudah siap.

Pesawat Garuda Indonesia siap menerbangi rute Jember menuju Surabaya dan sebaliknya mulai 16 Juli 2014 dengan menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 yang berkapasitas hingga 70 penumpang. "Insya Allah Bandara Notohadinegoro akan beroperasi pada 16 Juli 2014 dan mohon doanya kepada seluruh masyarakat Jember agar dapat berjalan baik dan sukses demi kemajuan Kabupaten Jember ke depan," kata Bupati Jember MZA Djalal di Jember, Rabu (2/7).

Untuk tahap awal, lanjut dia, maskapai Garuda Indonesia hanya melayani satu kali penerbangan dalam sehari, baik rute Jember-Surabaya maupun Surabaya-Jember sambil melihat perkembangan minat masyarakat terhadap transportasi udara. "Sambil melihat pasar, kalau antusias pasar cukup bagus maka bisa jadi jadwal penerbangan akan ditambah dua hingga tiga kali sehari, termasuk rencana penambahan rute ke daerah lain seperti Banyuwangi dan Pulau Bali," paparnya.

Berdasarkan nota kerja sama yang telah disepakati bersama antara Garuda dan Pemkab Jember, maskapai berpelat merah tersebut telah sepakat untuk mengoperasikan pesawat jenis ATR 72-600 dengan kapasitas 70 penumpang. "Beroperasinya Bandara Notohadinegoro dapat memangkas waktu jarak tempuh transportasi darat yang selama ini banyak menjadi kendala dan dikeluhkan para investor dalam mengembangkan usahanya di Jember, sehingga saya berharap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat," katanya.

Informasi yang dihimpun di lapangan, rencananya pesawat Garuda yang terbang ke Jember berangkat sekitar pukul 08.30 WIB dari Surabaya dan kembali sesaat setelah tiba di kabupaten yang dikenal sebagai "Kota Tembakau" itu. Garuda menargetkan tempat duduk dapat terisi 70 persen dari jumlah kapasitas 70 tempat duduk seiring dengan menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2014, serta untuk menutupi beban operasional pada tahap awal.

Ruang penjualan tiket di bandara yang berada di Kecamatan Ajung tersebut juga sudah tersedia dan terdapat logo maskapai Garuda Indonesia, serta tercantum tarif Jember-Surabaya sebesar Rp275 ribu dan Surabaya-Jember sebesar Rp 350 ribu dengan lama perjalanan sekitar 30 menit.

Kondisi Bandara Notohadinegoro, Jember sepertinya sudah maksimal. Sebab, meski ATR 72-600 milik Garuda Indonesia belum melakukan pendaratan perdana, Rabu (2/7) Cessna Caravan C-208B milik Susi Air sudah nganyari Bandara Notohadinegoro.

Pesawat dengan kode register PK-VVH itu mengangkut rombongan Mahfud MD, ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang hendak ke Bondowoso. Secara umum, M. Hagelamin, pilot SusiAir yang berkewarganegaraan Kanada, menilai bahwa kondisi Bandara Notohadinegoro sudah sangat bagus. Pesawat tersebut landing sekitar pukul 10.00.

Hagelamin memuji kondisi Bandara Notohadinegoro Jember. Dia mengakui, untuk bandara yang belum beroperasi secara komersial, kondisinya sudah sangat bagus. 
’’The runway, taxiway, apron and terminal not only good. It’s great! (Landasan, penghubung, parkir pesawat, dan terminal tidak hanya bagus. Ini luar biasa),’’ ujarnya sembari mengacungkan jempol kepada wartawan.

Luas bandara itu, menurut Hagelamin, sudah sangat memadai untuk didarati ATR 72-600. ’’It’s enough for ATR (Ini cukup untuk ATR, Red),’’ ujarnya.

Tetapi, dia mengakui, Bandara Notohadinegoro itu belum memadai untuk didarati pesawat jet. ’’For big plane, it’s too short (untuk pesawat besar, landasan ini terlalu pendek, Red),’’ katanya. Dia mengakui, Bandara Notohadinegoro tersebut cukup bagus. Demikian pula halnya dengan pemandangan di sekitar Bandara Notohadinegoro yang sangat alami.

Tidak hanya memuji fisik bandara, Hagelamin memuji sejumlah peralatan di bandara itu. ’’Communication with terminal control and ATC is good (komunikasi dengan terminal dan ATC bagus, Red),’’ ungkapnya. Karena itu, dia mengacungkan jempol untuk bandara yang belum beroperasi, namun sudah memiliki sarana dan prasana yang lengkap tersebut.

Tetapi, Hagelamin menyatakan, sejumlah pekerja dan masyarakat di sekitar area bandara itu agak mengganggu pilot. Meski demikian, pria yang jatuh cinta dengan masakan Indonesia itu, terutama nasi goreng dan rendang, masih bisa memaklumi hal tersebut karena masih dalam tahap perbaikan. Diharapkan tidak ada lagi orang yang berseliweran saat bandara tersebut benar-benar sudah beroperasi.

Cessna itu kemarin meninggalkan bandara sekitar pukul 14.30 dengan membawa rombongan Mahfud MD ke Surabaya. ’’From Surabaya to Jember, only 30 minutes,’’ ungkapnya. Dia kaget saat ada yang mengatakan bahwa dengan jalur darat dibutuhkan waktu lima jam dari Surabaya ke Jember.

Sampai kemarin, sejumlah pekerja masih berusaha menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil. Misalnya, membersihkan rumput dekat landasan dan meratakan tanah yang jauh dari landasan itu. (ram/jum/mas/har/JPNN/c22/any)


Sumber :
http://www.jawapos.com
http://www.republika.co.id
http://www.jpnn.com

Saturday, May 24, 2014

Nasib Tembakau dan Rokok di Jember


PT HM Sampoerna memutuskan untuk menutup dua dari tujuh pabrik Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 4.900 karyawannya. Mulai tanggal 31 Mei 2014, PT HM Sampoerna menutup pabrik SKT di Lumajang dan Jember, Jawa Timur.

Keputusan restrukturisasi dilakukan karena terus menurunnya pangsa pasar SKT skala nasional yang menghantam telak pabrik-pabrik rokok dalam negeri, termasuk pabrik sekelas PT HM Sampoerna.

Masih terdapat 33.500 karyawan Sampoerna di mata rantai operasional SKT Sampoerna, termasuk memastikan nasib yang bekerja pada lima pabrik yang tersisa.

Saat ini terjadi perubahan preferensi perokok dari SKT ke produk sigaret kretek mesin. Tekanan lain juga datang dari berbagai instrumen regulasi dalam negeri, seperti cukai, pajak daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif.

Selain dari dalam negeri, tekanan lain datang dari luar negeri seperti wacana aksesi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan aturan negara lain seperti kemasan polos untuk produk rokok seperti yang telah diterapkan oleh Australia.

Akibatnya, penjualan rokok SKT terus turun secara nasional dalam tiga tahun belakangan, dari 30,4 persen pada tahun 2009 menjadi 23,1 persen pada 2013.
Penurunan volume ini berlanjut hingga kuartal 1 Tahun 2014, yakni sebesar 20-25 persen, yang berdampak langsung pada pabrikan besar seperti Bentoel, Gudang Garam, dan Sampoerna.

Selanjutnya, terhadap nasib ke-4.900 karyawannya yang terkena restrukturisasi, kata Maharani, perusahaan akan memberikan pelatihan kewirausahaan.

Industri rokok kretek tangan diliputi asap hitam. Turunnya minat masyarakat terhadap sigaret kretek tangan (SKT) membuat penjualan ikut merosot. Dampaknya dalam beberapa tahun terakhir, banyak pabrik yang tutup. Tahun ini, hanya tersisa 300 pabrik sigaret kretek tangan (SKT) yang bertahan.

Sebelum Sampoerna, sudah banyak pabrik SKT yang lebih dahulu tutup. Salah satunya adalah Bentoel. Kebanyakan lokasi pabrik yang tutup di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari sekitar 6.000 pabrik SKT di Indonesia, saat ini tinggal sekitar 300 pabrik.

Telah terjadi pergeseran selera konsumen dari rokok kretek konvensional menjadi rokok kretek mild/ filter. Rokok kretek yang panjang, lama habisnya. Sekarang orang itu sibuk, tidak bisa merokok lama. Berbeda yang dengan rokok filter.

Dua tahun terakhir, produksi rokok kretek tangan Sampoerna bisa mencapai 74 miliar batang. Dalam empat bulan pertama tahun ini, produksi Sampoerna hanya 15 miliar batang. Maka, di akhir tahun ini, produksi rokok kretek tangan Sampoerna hanya 45 miliar batang.

Tahun 2013 lalu, penjualan rokok nasional mencapai 346 miliar batang. Kontribusi dari SKT sebesar 26,07% atau sekitar 90,2 miliar batang. Angka ini turun 4,12% dibandingkan penjualan SKT tahun 2012 sebanyak 94,08 miliar batang.

Di tahun kuda kayu ini, omzet nasional industri rokok ditargetkan bisa naik 3% menjadi 356,38 miliar batang. Hasan memperkirakan, pangsa pasar SKT tahun ini bakal naik 3% menjadi 29% dari total produksi rokok. Artinya, sampai akhir tahun, penjualan SKT ditargetkan mencapai 103,35 miliar batang.

Petani tembakau di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengaku khawatir harga tembakau akan jeblok pasca-penutupan pabrik PT Sampoerna di Kabupaten Jember.

Ada kekhawatiran pada saat musim panen nanti bahwa para pengepul tembakau akan memainkan harga.

Terlebih lagi menurut dia, penutupan tersebut bersamaan dengan musim tanam tembakau.

Dari hasil pendataan di lapangan, sudah ada sekitar 17% petani di Jember yang mulai menanam tembakau.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung menilai penutupan dua pabrik sigaret kretek tangan (SKT) PT HM Sampoerna sebagai hal wajar. Pasalnya, pasar SKT di Indonesia sudah tidak ada.

CT menegaskan langkah penutupan bukan merupakan bentuk abai pemerintah terhadap industri. Selama suatu industri masih berpeluang berkembang di tanah air, Menko berjanji akan mendorong laju industri tersebut.

Sebagai langkah konkret, CT akan menemui Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) pekan depan untuk pemetaan masalah dan penentuan solusi. CT mengaku fokus menyelesaikan isu jangka pendek mengingat masa jabatannya terhitung cukup singkat, hanya 5 bulan.

Keputusan PT HM Sampoerna menutup pabrik dan memutus kerja dengan ribuan karyawan tersebut dinilai bisa dimaklumi. Sebab, langkah tersebut didasari modernisasi industri. Kalau mesin lebih efisien, kita tidak bisa salahkan perusahaan.

Sumber :
http://industri.kontan.co.id

Friday, April 11, 2014

Karesidenan Besuki


Karesidenan adalah sebuah pembagian administratif dalam sebuah provinsi di Hindia Belanda dan kemudian Indonesia hingga tahun 1950-an. Sebuah karesidenan (regentschappen) terdiri atas beberapa afdeeling (kabupaten). Tidak di semua provinsi di Indonesia pernah ada karesidenan. Hanya di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Lombok dan Sulawesi saja. Biasanya ini daerah-daerah yang penduduknya banyak.

Kata karesidenan berasal dari Bahasa Belanda Residentie. Sebuah karesidenan dikepalai oleh residen, yang berasal dari Bahasa Belanda Resident. Di atas residen adalah gubernur jenderal, yang memerintah atas nama Raja dan Ratu Belanda.

Semenjak krisis pada tahun 1950-an, sudah tidak ada karesidenan lagi dan yang muncul faktor kekuasaannya adalah kabupaten. Karesidenan kemudian dikenal dengan istilah "Pembantu Gubernur" (istilah ini sekarang tidak digunakan lagi). Namun demikian, sebutan "eks-karesidenan" masih dipakai secara informal.

Sebuah sisa pemakaian karesidenan adalah tanda kendaraan bermotor (pelat nomor). Pembagiannya, terutama di pulau Jawa masih banyak berdasarkan karesidenan.

Eks Karesidenan Besuki, sebuah karesidenan yang meliputi Probolinggo (kota dan kabupaten), Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi.

Sejarah tentang kota besuki kita awali dengan tokoh yang membabat yaitu Raden Bagus Kasim al Wirodipuro al Ki Pate Alos. beliau lahir pada minggu ketiga bulan Rabiul Awal 1162 H / 1741 M di Tanjung Jambul Pamekasan Madura. beliau Adalah putra Raden Abdurahman al Wirobroto. Orang yang pertamakali membabad tanah besuki. Beliau adalah cucu Raden Abdullah Surowikromo yang masih keluarga KRATON MATARAM (Susuhunan Pakubuwono II) Eyang Lelono dan akhirnya menetap di Tanjung Jambul Pamekasan Madura. 

Asal mula tanah besuki, berawal dari hijrahnya Raden Abdurahman al Wirobroto pada 10 Asyuro 1164 H / 1743 M ke desa Demung, dikarenakan daerah Tanjung Jambul Pamekasan terjadi NEMOR KARA ( kemarau panjang ) yang menyengsarakan rakyat. 

Waktu itu Raden Wirobroto memutuskan untuk hijrah ke tanah Jawa mencari tanah baru untuk bercocok tanam, akhirnya Beliau tiba di desa Demung yang dikenal dengan nama NAMBEKOR ( berasal dari kata NAMBEG / berlabuh ) dan membuka hutan disana, sedangkan untuk tempat berteduh dan istirahat Kiai Wirobroto membuat rumah dari ATAQ ( daun kelapa yang dirajut untuk dijadikan atap rumah tepatnya di Bujug Se Pacar ) pada waktu itu oleh Tumenggung Sentong dijadikan Kademangan. Pucuk dicita ulampun tiba, berkat kerja keras tanpa mengenal putus asa hasil panen Raden Wirobroto melimpah ruah. Dengan perasaan senang Raden Wirobroto membawa hasil panennya ke Tanjung Jambul Pamekasan Madura.

Berita tentang hal tersebut didengar oleh Tumenggung Sentong ( desa Demung adalah bagian dari kekuasaan Tumegung Sentong ) dan sang Tumenggung memanggil Raden Wirobroto. Namun Raden Wirobroto tidak mengindahkan perintah tersebut. Hingga terjadilah perseteruan diantaranya keduanya yang kemudian terjadi peperangan. Tercatat Tumenggung Sentong 3 kali menyerang Demung akan tetapi gagal dan akhirnya Tumenggung Sentong takluk pada Raden Bagus Kasim.

Berita tentang orang-orang Madura yang NAMBEG (hijrah/datang untuk merubah nasib/mencari pekerjaan) didesa Demung didengar pula olehTumenggung Banger dan beliau memanggil Raden Wirobroto dengan mengutus Wongso Mitro ke desa Demung dengan perantaraan Wongso Mitro, Raden Wirobroto berhasil diajak menghadap ke Tumenggung Banger. Sesampainya disana Raden Wirobroto disambut dengan baik dan dianugerahi hadiah oleh sang Tumenggung. Dan Raden Wirobroto pun pamit untuk kembali ke Demung.

Singkat cerita Raden Wirobroto sudah tua dan digantikan oleh putranya Raden Bagus Kasim (19 tahun) yang lahir di Desa Tanjung Umbul Pamekasan pada tahun 1734 M dan pada 12 Rabiul Awal 1181 H/1760 M diberi gelar WIRODIPURO (WIRO : Pahlawan, DIPURO : Daerah) oleh Tumenggung Joyo Lelono.

Sewaktu beliau menggantikan ayahnya, Demung semakin ramai dan akhirnya diganti nama menjadi Besuki oleh Tumenggung Banger
Tercatat dalam sejarah kepemimpinan Beliau beberapa kejadian penting antara lain :
1. Beliau diminta bantuan oleh Kompeni Belanda menyerang Sentong dan Sentongpun berhasil dikalahkan.
2.Beliau juga diminta bantuan oleh Belanda bersama - sama Tumenggung Banger dan Tumenggung Pasuruan menyerang Lumajang dan usaha tersebut berhasil.
3.Beliau bersama - sama para pemimpin, Tumenggung daerah Pesisir Timur Jawa ( Semarang Timur ) beserta bala tentara dari Sumenep dan Pamekasan berhasil menaklukkan Blambangan dan Nusa Barong, Dan beberapa kejadian penting lainnya.

Raden Bagus Kasim wafat dan dimakamkan di Besuki pada minggu pertama bulan Rajabiah 1221 H/1800 M dan digantikan oleh putranya yang bernama Raden Bagus Syahirudin juga bergelar WIRODIPURO 2 juga wafat pada minggu pertama bulan Rajabiah 1271 H/1850 M dan dimakamkan di Besuki, tepatnya di Dusun Kauman Barat Besuki Situbondo Jatim. Sampai dengan sekarang wafatnya beliau diperingati tiap tahun oleh masyarakat Besuki yang dipusatkan di Pasarean Asta Pate Alos.

Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://ridwanfirmansyah.blogspot.com

Tapal Kuda


Tapal Kuda, adalah nama sebuah kawasan di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Menurut sejarahnya, daerah Tapal Kuda ini dahulu disebut dengan Blambangan atau dalam budaya Jawa disebut daerah bang wetan (seberang timur), karena kawasan ini tidak pernah menjadi bagian dari kerajaan Mataram, karena tidak dikenal sebelum imigran dari kawasan Mataraman berpindah mengisi kawasan pesisir selatan. Namun kini istilah Blambangan hanya ditujukan untuk wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Banyuwangi.[1]

Kawasan Tapal Kuda terdapat tiga pegunungan besar: Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Pegunungan Iyang (dengan puncak tertingginya Gunung Argopuro), dan Dataran Tinggi Ijen (dengan puncak tertingginya Gunung Raung).

Ciri khas kawasan ini adalah dihuni oleh Suku Madura dan Suku Jawa. Suku Madura bahkan mayoritas di beberapa tempat, khususnya di bagian utara; sebagian besar tidak dapat berbahasa Jawa, meski tinggal di lingkungan Jawa. Kawasan tapal kuda seringkali dianggap sebagai daerah terbelakang di Jawa Timur, karena berdasarkan peta Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Timur, kawasan ini berada pada jajaran yang paling rendah.

Kota-kota besar di kawasan Tapal Kuda adalah Probolinggo, Pasuruan, dan Jember. Jember merupakan kota pendidikan, dimana terdapat perguruan tinggi negeri Universitas Jember.


Tapal kuda merupakan wilayah subkultur di Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang pemberontakan. Penghuni tapal kuda mayoritas adalah etnis Madura. Meski ada minoritas etnis Jawa, namun pengaruh Madura yang sangat kuat menyebabkan karakter budaya di wilayah ini lebih beraroma Madura. Orang-orang tapal kuda juga sangat identik dengan Islam. Lebih spesifik lagi, Nahdatul Ulama.

Pada masa Majapahit, tapal kuda masuk menjadi wilayah Majapahit Timur. Sedangkan pada masa Mataram, tapal kuda disebut Blambangan. Keberanian luar biasa adalah karakter masyarakat tapal kuda. Konon, menurut Pramudya Ananta Toer di Probolinggo, Majapahit pernah direpotkan oleh pemberontakan Minak Djinggo. Selain Majapahit, VOC juga mendapat kesulitan di sini. Untung Suropati, anak Bali yang diasuh Belanda dan akhirnya diburu oleh tuannya sendiri itu memperoleh dukungan yang amat kuat di sini, hingga akhirnya sanggup membangun kerajaan di Pasuruan.

Di Pasuruan, ada cerita rakyat yang populer dengan sebutan ” Sakera ”, pembangkang kompeni di ladang tebu Pasuruan yang kemana-mana membawa Clurit. Banyak pula beredar cerita-cerita tentang pahlawan rakyat : Pangeran Situbondo yang patungnya bisa ditemui di Alas Malang, Panarukan( sekarang Situbondo ) dan Pangeran Tawang Alun di Jember.

Disamping itu potensi wisata yang ada di kawasan ini ternyata juga tidak kalah menarik, bahkan sangat luar biasa jika dikembangkan dengan lebih serius. Antara lain :

Kawasan Taman Nasional Tengger-Semeru (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang)
Taman Nasional Meru Betiri (Jember & Banyuwangi)
Taman Nasional Kawah Ijen (Bondowoso & Banyuwangi)
Taman Nasional Baluran (Situbondo & Banyuwangi)
Prigen, Nongkojajar, Ranu Grati (Pasuruan)
Pantai Bambang, Ranu Pane, Ranu Klakah, Gunung Semeru dll (Lumajang)
Pantai Bentar, Gunung Lamongan, dll (Probolinggo)
Pantai Pasir Putih (Situbondo)
Bukit Arak-Arak, Situs purbakala (diseluruh Bondowoso), Gerbong Maut dll (Bondowoso)
Pantai Watu Ulo-Papuma (Jember)
Taman Nasional Alas Purwo, Pantai Sukomade, Pantai Plengkung, Situs Puputan Bayu, Watu Dodol, Desa Wisata Osing dll (Banyuwangi)

Secara tradisional, kawasan Tapal Kuda merupakan kawasan yang diwarnai nuansa keislaman yang kental. Nahdlatul Ulama mempunyai akar yang sangat kuat diwilayah ini, kendatipun mistisme juga ditemukan utamanya di Banyuwangi. Tahun 1998 wilayah ini pernah diguncang gangguan keamanan dengan isu dukun santet yang menewaskan beberapa puluh jiwa yang terdiri dari warga biasa dan ulama, terutama di Banyuwangi dan mencekam hampir seluruh kawasan Tapal Kuda selama beberapa waktu, dan sampai sekarang siapa dalang dari semua itu masih merupakan tabir gelap yang belum terpecahkan.

Kendatipun berada di pulau Jawa, namun mayoritas penduduk Tapal Kuda adalah masyarakat Madura atau berbahasa Madura. Tapi anehnya mereka banyak yang enggan disebut Madura dan lebih suka disebut sebagai orang pendhalungan atau campuran, dikarenakan nenek moyang mereka yang merupakan pembauran antara etnis Jawa dan Madura.

Sedangkan etnis Jawa sendiri lebih banyak menghuni kawasan selatan Tapal Kuda, utamanya Lumajang, Jember Selatan dan Banyuwangi Selatan. Bahkan uniknya kebanyakan penduduk Tapal Kuda tidak mengerti bahasa Jawa. Sedangkan komunitas lainnya adalah Masyarakat Budaya Osing yang menghuni kawasan tengah Banyuwangi, Masyarakat Tengger di wilayah Bromo, kelompok kecil etnis Bali di wilayah Banyuwangi dan tentunya suku Tionghoa dan Arab yang tersebar dikota-kota utama kawasan itu.

Sedangkan ditinjau dari segi kebudayaan, budaya yang dominan sudah pasti budaya Madura yang akan tetapi memiliki beberapa perbedaan dengan budaya Madura di tanah leluhurnya. Kebudayaan Jawapun terbagi antara budaya Arekan (Jawa Timuran) dan Mataraman yang terpusat dipantai selatan. Sedangkan masyarakat Tengger dan Osing membentuk budayanya sendiri. Namun yang paling populer adalah kebudayaan masyarakat Osing yang sangat berwarna karena pengaruh Jawa-Madura dan Bali yang kuat, dan menjadi ikon khas bagi Jawa Timur, seperti Gandrung Banyuwangi hingga Banyuwangi dijuluki sebagai Kota Gandrung dan banyak seni budaya lokal yang tidak dijumpai didaerah manapun di Jawa. Wayang Topeng berbahasa Madura dan Ludruk berbahasa Madurapun juga populer di Tapal Kuda selain kesenian-kesenian bernafaskan Islam.

Sumber :
http://imatacommunity.wordpress.com
http://id.wikipedia.org

Saturday, March 8, 2014

Souvenir Jember


Desa Tutul di kecamatan Balung, merupakan desa sentra industri kerajinan tangan yang memproduksi bermacam-macam kerajinan, keuletan dan kerja keras menjadikan produk kerajinan tangan desa ini tembus ke pasar Internasional. 

Desa Tutul terletak disisi selatan kota, jarak yang harus ditempuh untuk sampai di Desa ini sekitar 28 km dari pusat kota. 

Letak desa Tutul yang tidak begitu jauh dengan akses yang mundah dijangkau menjadikan kita tidak perlu bingung untuk sampai dan menyaksikan langsung pembuatannya sembari memilih-milih souvenir yang cocok untuk dibawa pulang ke kota asal sebagai oleh-oleh liburan. 

Cukup satu kali menggunakan angkutan umum dari terminal Jember ke Balung Tutul dengan menaiki angkutan jurusan Puger atau Kencong. Backpacker bisa turun di perempatan Patona kecamatan Balung desa Tutul sebagai tujuan pemberhentian. Setelah itu bisa jalan kaki tapi jasa transportasi seperti becak motor maupun becak konvensional juga menarik untuk Backpacker nikmati sembari melihat ibu-ibu meragkai tasbih di teras rumah dan butiran-butiran tasbih yang sedang di jemur untuk proses pengeringan.

Berikut Produck yang dihasilkan oleh desa Tutul :
- Tasbih 
- Sabuk 
- Keris
- Tongkat
- Japamala
- Seni Ukir
- Bomerang
- Paper Bag
- Lampu Kamar
- Gelang, Cincin dan Kalung
- Alat Musik (Jimbe, Terbang, Maracas, Karimba, dll)
- Pralatan Dapur (centong, cobek, ulekan, dll)

Bahan baku dalam pembuatan kerajinan ini beragam, ada yang bahan baku lokal dan ada pula yang didatangangkan dari negara timur tengah seperti Arab dan Mesir. Harga setiap produk beragam tergantung kesulitan serta bahan yang di gunakan. Soal kualitas jangan diragukan lagi produk hasil desa Tutul sudah menembus pasar Internasional jadi sudah terbukti kualitasnya. Namun ada baiknya ketika kita membeli barang diteliti lagi karena kelalaian atau miss yang mengakibatkan barang cacat produksi masuk di golongan good product.

Catatan :
Masyarakat Jember tergolong masyarakat yang ramah jadi jangan sungkan-sungkan atau canggung untuk bertanya jika menghadapi kebingunggan atau salah jalan. 


Sumber :
http://jemberbackpacker.blogspot.com

Monday, January 13, 2014

6 Kecamatan Di Jember Rawan Tsunami

ilustrasi : tsunami di Jepang

Pelatihan Badan Penanggulangan Benacana Daerah atau BPBD Pemkab Jember yang dilaksanakan di Makodim Jember bersama beberapa pemangku wilayah itu berhasil memetakan jalur Tsunami di Kabupaten Jember. 

Sedikitnya ada Enam kecamatan di Kabupaten Jember masuk dalam kawasan rawan terkena bencana tsunami. Keenam kecamatan itu bersebelahan dengan Samudra Indonesia atau yang biasa disebut laut selatan. Keenamnya adalah Tempurejo, Wuluhan, Ambulu, Puger, Gumukmas dan Kencong.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Mahmud Rizal, menjelaskan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar diskusi publik untuk membuat jalur peta evakuasi tsunami di Jember hari rabu kemarin. Hal itu dilakukan karena Jember ini termasuk kawasan yang rawan terkena tsunami. 

Menurut Rizal ada enam kecamatan yang berbatasan langsung dengan laut selatan. Diskusi itu dihadiri oleh Camat dari enam kecamatan itu, juga perangkat desa yang daerahnya berbatasan langsung dengan laut selatan. Skema ini menurut Rizal memang sedang di godok, bagaimana lokasi evakuasi juga teknis evakuasi kalau ada tsunami.

Sebelumnya Kepala BNPB Syamsul Maarif menegaskan, penyelamatan dan evakuasi korban tsunami harus disesuaikan dengan kondisi daerah tersebut. Peta evakuasi harus dibuat, disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Tetapi dalam bencana tsunami itu ada evakuasi pendek, juga evakuasi ke tempat terakhir yang paling aman.(pon/sal)

Sumber :
http://www.jemberpost.com

Related Posts