Friday, April 11, 2014
Karesidenan Besuki
Karesidenan adalah sebuah pembagian administratif dalam sebuah provinsi di Hindia Belanda dan kemudian Indonesia hingga tahun 1950-an. Sebuah karesidenan (regentschappen) terdiri atas beberapa afdeeling (kabupaten). Tidak di semua provinsi di Indonesia pernah ada karesidenan. Hanya di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Lombok dan Sulawesi saja. Biasanya ini daerah-daerah yang penduduknya banyak.
Kata karesidenan berasal dari Bahasa Belanda Residentie. Sebuah karesidenan dikepalai oleh residen, yang berasal dari Bahasa Belanda Resident. Di atas residen adalah gubernur jenderal, yang memerintah atas nama Raja dan Ratu Belanda.
Semenjak krisis pada tahun 1950-an, sudah tidak ada karesidenan lagi dan yang muncul faktor kekuasaannya adalah kabupaten. Karesidenan kemudian dikenal dengan istilah "Pembantu Gubernur" (istilah ini sekarang tidak digunakan lagi). Namun demikian, sebutan "eks-karesidenan" masih dipakai secara informal.
Sebuah sisa pemakaian karesidenan adalah tanda kendaraan bermotor (pelat nomor). Pembagiannya, terutama di pulau Jawa masih banyak berdasarkan karesidenan.
Eks Karesidenan Besuki, sebuah karesidenan yang meliputi Probolinggo (kota dan kabupaten), Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi.
Sejarah tentang kota besuki kita awali dengan tokoh yang membabat yaitu Raden Bagus Kasim al Wirodipuro al Ki Pate Alos. beliau lahir pada minggu ketiga bulan Rabiul Awal 1162 H / 1741 M di Tanjung Jambul Pamekasan Madura. beliau Adalah putra Raden Abdurahman al Wirobroto. Orang yang pertamakali membabad tanah besuki. Beliau adalah cucu Raden Abdullah Surowikromo yang masih keluarga KRATON MATARAM (Susuhunan Pakubuwono II) Eyang Lelono dan akhirnya menetap di Tanjung Jambul Pamekasan Madura.
Asal mula tanah besuki, berawal dari hijrahnya Raden Abdurahman al Wirobroto pada 10 Asyuro 1164 H / 1743 M ke desa Demung, dikarenakan daerah Tanjung Jambul Pamekasan terjadi NEMOR KARA ( kemarau panjang ) yang menyengsarakan rakyat.
Waktu itu Raden Wirobroto memutuskan untuk hijrah ke tanah Jawa mencari tanah baru untuk bercocok tanam, akhirnya Beliau tiba di desa Demung yang dikenal dengan nama NAMBEKOR ( berasal dari kata NAMBEG / berlabuh ) dan membuka hutan disana, sedangkan untuk tempat berteduh dan istirahat Kiai Wirobroto membuat rumah dari ATAQ ( daun kelapa yang dirajut untuk dijadikan atap rumah tepatnya di Bujug Se Pacar ) pada waktu itu oleh Tumenggung Sentong dijadikan Kademangan. Pucuk dicita ulampun tiba, berkat kerja keras tanpa mengenal putus asa hasil panen Raden Wirobroto melimpah ruah. Dengan perasaan senang Raden Wirobroto membawa hasil panennya ke Tanjung Jambul Pamekasan Madura.
Berita tentang hal tersebut didengar oleh Tumenggung Sentong ( desa Demung adalah bagian dari kekuasaan Tumegung Sentong ) dan sang Tumenggung memanggil Raden Wirobroto. Namun Raden Wirobroto tidak mengindahkan perintah tersebut. Hingga terjadilah perseteruan diantaranya keduanya yang kemudian terjadi peperangan. Tercatat Tumenggung Sentong 3 kali menyerang Demung akan tetapi gagal dan akhirnya Tumenggung Sentong takluk pada Raden Bagus Kasim.
Berita tentang orang-orang Madura yang NAMBEG (hijrah/datang untuk merubah nasib/mencari pekerjaan) didesa Demung didengar pula olehTumenggung Banger dan beliau memanggil Raden Wirobroto dengan mengutus Wongso Mitro ke desa Demung dengan perantaraan Wongso Mitro, Raden Wirobroto berhasil diajak menghadap ke Tumenggung Banger. Sesampainya disana Raden Wirobroto disambut dengan baik dan dianugerahi hadiah oleh sang Tumenggung. Dan Raden Wirobroto pun pamit untuk kembali ke Demung.
Singkat cerita Raden Wirobroto sudah tua dan digantikan oleh putranya Raden Bagus Kasim (19 tahun) yang lahir di Desa Tanjung Umbul Pamekasan pada tahun 1734 M dan pada 12 Rabiul Awal 1181 H/1760 M diberi gelar WIRODIPURO (WIRO : Pahlawan, DIPURO : Daerah) oleh Tumenggung Joyo Lelono.
Sewaktu beliau menggantikan ayahnya, Demung semakin ramai dan akhirnya diganti nama menjadi Besuki oleh Tumenggung Banger
Tercatat dalam sejarah kepemimpinan Beliau beberapa kejadian penting antara lain :
1. Beliau diminta bantuan oleh Kompeni Belanda menyerang Sentong dan Sentongpun berhasil dikalahkan.
2.Beliau juga diminta bantuan oleh Belanda bersama - sama Tumenggung Banger dan Tumenggung Pasuruan menyerang Lumajang dan usaha tersebut berhasil.
3.Beliau bersama - sama para pemimpin, Tumenggung daerah Pesisir Timur Jawa ( Semarang Timur ) beserta bala tentara dari Sumenep dan Pamekasan berhasil menaklukkan Blambangan dan Nusa Barong, Dan beberapa kejadian penting lainnya.
Raden Bagus Kasim wafat dan dimakamkan di Besuki pada minggu pertama bulan Rajabiah 1221 H/1800 M dan digantikan oleh putranya yang bernama Raden Bagus Syahirudin juga bergelar WIRODIPURO 2 juga wafat pada minggu pertama bulan Rajabiah 1271 H/1850 M dan dimakamkan di Besuki, tepatnya di Dusun Kauman Barat Besuki Situbondo Jatim. Sampai dengan sekarang wafatnya beliau diperingati tiap tahun oleh masyarakat Besuki yang dipusatkan di Pasarean Asta Pate Alos.
Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://ridwanfirmansyah.blogspot.com
Tapal Kuda
Tapal Kuda, adalah nama sebuah kawasan di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Menurut sejarahnya, daerah Tapal Kuda ini dahulu disebut dengan Blambangan atau dalam budaya Jawa disebut daerah bang wetan (seberang timur), karena kawasan ini tidak pernah menjadi bagian dari kerajaan Mataram, karena tidak dikenal sebelum imigran dari kawasan Mataraman berpindah mengisi kawasan pesisir selatan. Namun kini istilah Blambangan hanya ditujukan untuk wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Banyuwangi.[1]
Kawasan Tapal Kuda terdapat tiga pegunungan besar: Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Pegunungan Iyang (dengan puncak tertingginya Gunung Argopuro), dan Dataran Tinggi Ijen (dengan puncak tertingginya Gunung Raung).
Ciri khas kawasan ini adalah dihuni oleh Suku Madura dan Suku Jawa. Suku Madura bahkan mayoritas di beberapa tempat, khususnya di bagian utara; sebagian besar tidak dapat berbahasa Jawa, meski tinggal di lingkungan Jawa. Kawasan tapal kuda seringkali dianggap sebagai daerah terbelakang di Jawa Timur, karena berdasarkan peta Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Timur, kawasan ini berada pada jajaran yang paling rendah.
Kota-kota besar di kawasan Tapal Kuda adalah Probolinggo, Pasuruan, dan Jember. Jember merupakan kota pendidikan, dimana terdapat perguruan tinggi negeri Universitas Jember.
Tapal kuda merupakan wilayah subkultur di Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang pemberontakan. Penghuni tapal kuda mayoritas adalah etnis Madura. Meski ada minoritas etnis Jawa, namun pengaruh Madura yang sangat kuat menyebabkan karakter budaya di wilayah ini lebih beraroma Madura. Orang-orang tapal kuda juga sangat identik dengan Islam. Lebih spesifik lagi, Nahdatul Ulama.
Pada masa Majapahit, tapal kuda masuk menjadi wilayah Majapahit Timur. Sedangkan pada masa Mataram, tapal kuda disebut Blambangan. Keberanian luar biasa adalah karakter masyarakat tapal kuda. Konon, menurut Pramudya Ananta Toer di Probolinggo, Majapahit pernah direpotkan oleh pemberontakan Minak Djinggo. Selain Majapahit, VOC juga mendapat kesulitan di sini. Untung Suropati, anak Bali yang diasuh Belanda dan akhirnya diburu oleh tuannya sendiri itu memperoleh dukungan yang amat kuat di sini, hingga akhirnya sanggup membangun kerajaan di Pasuruan.
Di Pasuruan, ada cerita rakyat yang populer dengan sebutan ” Sakera ”, pembangkang kompeni di ladang tebu Pasuruan yang kemana-mana membawa Clurit. Banyak pula beredar cerita-cerita tentang pahlawan rakyat : Pangeran Situbondo yang patungnya bisa ditemui di Alas Malang, Panarukan( sekarang Situbondo ) dan Pangeran Tawang Alun di Jember.
Disamping itu potensi wisata yang ada di kawasan ini ternyata juga tidak kalah menarik, bahkan sangat luar biasa jika dikembangkan dengan lebih serius. Antara lain :
Kawasan Taman Nasional Tengger-Semeru (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang)
Taman Nasional Meru Betiri (Jember & Banyuwangi)
Taman Nasional Kawah Ijen (Bondowoso & Banyuwangi)
Taman Nasional Baluran (Situbondo & Banyuwangi)
Prigen, Nongkojajar, Ranu Grati (Pasuruan)
Pantai Bambang, Ranu Pane, Ranu Klakah, Gunung Semeru dll (Lumajang)
Pantai Bentar, Gunung Lamongan, dll (Probolinggo)
Pantai Pasir Putih (Situbondo)
Bukit Arak-Arak, Situs purbakala (diseluruh Bondowoso), Gerbong Maut dll (Bondowoso)
Pantai Watu Ulo-Papuma (Jember)
Taman Nasional Alas Purwo, Pantai Sukomade, Pantai Plengkung, Situs Puputan Bayu, Watu Dodol, Desa Wisata Osing dll (Banyuwangi)
Secara tradisional, kawasan Tapal Kuda merupakan kawasan yang diwarnai nuansa keislaman yang kental. Nahdlatul Ulama mempunyai akar yang sangat kuat diwilayah ini, kendatipun mistisme juga ditemukan utamanya di Banyuwangi. Tahun 1998 wilayah ini pernah diguncang gangguan keamanan dengan isu dukun santet yang menewaskan beberapa puluh jiwa yang terdiri dari warga biasa dan ulama, terutama di Banyuwangi dan mencekam hampir seluruh kawasan Tapal Kuda selama beberapa waktu, dan sampai sekarang siapa dalang dari semua itu masih merupakan tabir gelap yang belum terpecahkan.
Kendatipun berada di pulau Jawa, namun mayoritas penduduk Tapal Kuda adalah masyarakat Madura atau berbahasa Madura. Tapi anehnya mereka banyak yang enggan disebut Madura dan lebih suka disebut sebagai orang pendhalungan atau campuran, dikarenakan nenek moyang mereka yang merupakan pembauran antara etnis Jawa dan Madura.
Sedangkan etnis Jawa sendiri lebih banyak menghuni kawasan selatan Tapal Kuda, utamanya Lumajang, Jember Selatan dan Banyuwangi Selatan. Bahkan uniknya kebanyakan penduduk Tapal Kuda tidak mengerti bahasa Jawa. Sedangkan komunitas lainnya adalah Masyarakat Budaya Osing yang menghuni kawasan tengah Banyuwangi, Masyarakat Tengger di wilayah Bromo, kelompok kecil etnis Bali di wilayah Banyuwangi dan tentunya suku Tionghoa dan Arab yang tersebar dikota-kota utama kawasan itu.
Sedangkan ditinjau dari segi kebudayaan, budaya yang dominan sudah pasti budaya Madura yang akan tetapi memiliki beberapa perbedaan dengan budaya Madura di tanah leluhurnya. Kebudayaan Jawapun terbagi antara budaya Arekan (Jawa Timuran) dan Mataraman yang terpusat dipantai selatan. Sedangkan masyarakat Tengger dan Osing membentuk budayanya sendiri. Namun yang paling populer adalah kebudayaan masyarakat Osing yang sangat berwarna karena pengaruh Jawa-Madura dan Bali yang kuat, dan menjadi ikon khas bagi Jawa Timur, seperti Gandrung Banyuwangi hingga Banyuwangi dijuluki sebagai Kota Gandrung dan banyak seni budaya lokal yang tidak dijumpai didaerah manapun di Jawa. Wayang Topeng berbahasa Madura dan Ludruk berbahasa Madurapun juga populer di Tapal Kuda selain kesenian-kesenian bernafaskan Islam.
Sumber :
http://imatacommunity.wordpress.com
http://id.wikipedia.org
Saturday, March 8, 2014
Souvenir Jember
Desa Tutul di kecamatan Balung, merupakan desa sentra industri kerajinan tangan yang memproduksi bermacam-macam kerajinan, keuletan dan kerja keras menjadikan produk kerajinan tangan desa ini tembus ke pasar Internasional.
Desa Tutul terletak disisi selatan kota, jarak yang harus ditempuh untuk sampai di Desa ini sekitar 28 km dari pusat kota.
Letak desa Tutul yang tidak begitu jauh dengan akses yang mundah dijangkau menjadikan kita tidak perlu bingung untuk sampai dan menyaksikan langsung pembuatannya sembari memilih-milih souvenir yang cocok untuk dibawa pulang ke kota asal sebagai oleh-oleh liburan.
Cukup satu kali menggunakan angkutan umum dari terminal Jember ke Balung Tutul dengan menaiki angkutan jurusan Puger atau Kencong. Backpacker bisa turun di perempatan Patona kecamatan Balung desa Tutul sebagai tujuan pemberhentian. Setelah itu bisa jalan kaki tapi jasa transportasi seperti becak motor maupun becak konvensional juga menarik untuk Backpacker nikmati sembari melihat ibu-ibu meragkai tasbih di teras rumah dan butiran-butiran tasbih yang sedang di jemur untuk proses pengeringan.
Berikut Produck yang dihasilkan oleh desa Tutul :
- Tasbih
- Sabuk
- Keris
- Tongkat
- Japamala
- Seni Ukir
- Bomerang
- Paper Bag
- Lampu Kamar
- Gelang, Cincin dan Kalung
- Alat Musik (Jimbe, Terbang, Maracas, Karimba, dll)
- Pralatan Dapur (centong, cobek, ulekan, dll)
Bahan baku dalam pembuatan kerajinan ini beragam, ada yang bahan baku lokal dan ada pula yang didatangangkan dari negara timur tengah seperti Arab dan Mesir. Harga setiap produk beragam tergantung kesulitan serta bahan yang di gunakan. Soal kualitas jangan diragukan lagi produk hasil desa Tutul sudah menembus pasar Internasional jadi sudah terbukti kualitasnya. Namun ada baiknya ketika kita membeli barang diteliti lagi karena kelalaian atau miss yang mengakibatkan barang cacat produksi masuk di golongan good product.
Catatan :
Masyarakat Jember tergolong masyarakat yang ramah jadi jangan sungkan-sungkan atau canggung untuk bertanya jika menghadapi kebingunggan atau salah jalan.
Sumber :
http://jemberbackpacker.blogspot.com
Monday, January 13, 2014
6 Kecamatan Di Jember Rawan Tsunami
ilustrasi : tsunami di Jepang
Pelatihan Badan Penanggulangan Benacana Daerah atau BPBD Pemkab Jember yang dilaksanakan di Makodim Jember bersama beberapa pemangku wilayah itu berhasil memetakan jalur Tsunami di Kabupaten Jember.
Sedikitnya ada Enam kecamatan di Kabupaten Jember masuk dalam kawasan rawan terkena bencana tsunami. Keenam kecamatan itu bersebelahan dengan Samudra Indonesia atau yang biasa disebut laut selatan. Keenamnya adalah Tempurejo, Wuluhan, Ambulu, Puger, Gumukmas dan Kencong.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Mahmud Rizal, menjelaskan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar diskusi publik untuk membuat jalur peta evakuasi tsunami di Jember hari rabu kemarin. Hal itu dilakukan karena Jember ini termasuk kawasan yang rawan terkena tsunami.
Menurut Rizal ada enam kecamatan yang berbatasan langsung dengan laut selatan. Diskusi itu dihadiri oleh Camat dari enam kecamatan itu, juga perangkat desa yang daerahnya berbatasan langsung dengan laut selatan. Skema ini menurut Rizal memang sedang di godok, bagaimana lokasi evakuasi juga teknis evakuasi kalau ada tsunami.
Sebelumnya Kepala BNPB Syamsul Maarif menegaskan, penyelamatan dan evakuasi korban tsunami harus disesuaikan dengan kondisi daerah tersebut. Peta evakuasi harus dibuat, disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Tetapi dalam bencana tsunami itu ada evakuasi pendek, juga evakuasi ke tempat terakhir yang paling aman.(pon/sal)
Sumber :
http://www.jemberpost.com
Tuesday, December 31, 2013
Bunga Egoistis
Bunga Dwi Ratnawati adalah perempuan asli desa Sumberagung, kecamatan Sumberbaru, Jember. Dia mulai ngetop di Jerman sebagai penyanyi bareng suaminya Marco Kunert yang asli dari Jerman.
Bunga kecil mengawali sekolah di SDN 1 Sumberagung, lalu melanjutkan sekolah di SMP Muhamadiyah 5 Sumberagung. Setelah itu melanjutkan sekolah di SMA Muhamadiyah 3 Jember.
Setelah lulus pada tahun 1999, Bunga melanjutkan kuliah di Fisip D-3 jurusan Perpajakan, Universitas Jember. Bunga sempat bekerja di kantor Bea Cukai di Bali. Saat di Bali inilah Bunga berkenalan dengan Marco Kunert, yang kemudian menikah dengannya.
Setelah menikah, Bunga mengikuti suami ke Jerman. Selain ikut mengurusi bisnis properti, Bunga mengembangkan bakatnya sebagai penyanyi sekaligus pengarang lagu dengan bantuan Stefan Gabler, musisi asli Jerman.
Lagu pertama dari Bunga adalah " Only one night " (versi inggris) dan " Satu malam " (versi Indonesia) yang terbit di tahun 2013.
@bunga_music
Sumber :
koran Jawa Pos
http://musique.streaming-video-gratuit.fr
http://bungagermany.buzznet.com
http://bungagermany.wordpress.com
Monday, December 16, 2013
Bayu Gatra
Bayu Gatra Sanggiawan (lahir 12 November 1991; umur 22 tahun) adalah pemain sepak bola asal Indonesia. Pada saat ini ia bermain untuk tim Persisam Putra Samarinda di Liga Super Indonesia. Ia juga bermain untuk tim Persisam Putra Samarinda U-21, dimana ia berada di tim cadangan dengan menghasilkan 4 gol selama dua musim.
Pemain bernomor punggung 23 ini memiliki kecepatan dalam dribbling dan sering membuka peluang untuk pemain pemain lainnya di Persisam Samarinda untuk mencetak gol ke lawan lawannya, dia adalah salah satu jebolan Persisam U-21 dan Tim Kalimantan Timur di PON XVIII 2012 di Riau.
Nama lengkap Bayu Gatra Sanggiawan
Tanggal lahir 12 November 1991 (umur 22)
Tempat lahir Jember, Indonesia
Tinggi 1.60 m (5 ft 3 in)
Posisi bermain Penyerang, Pemain sayap
Bayu Gatra adalah pesepakbola Indonesia yang tampil memukau bersama Persisam Putra Samarinda. Bayu dikenal sebagai pesepakbola dengan skill dan kecepatana diatas rata-rata.
Di gelaran Indonesia Super League musim 2012/13, Bayu mencetak 4 gol bagi Perisam Putra Samarinda. Pemilik nama lengkap Bayu Gatra Sanggiawan ini, lahir di Jember, pada 12 November 1991. Ingin mengetahui lebih jauh mengenai sosok pesepakbola mungil ini? Langsung saja kita simak profil singkat dari Bayu Gatra.
Nama Lengkap : Bayu Gatra Sanggiawan
Nama Panggilan : Bayu Gatra
Tempat/Tanggal lahir : Jember/12 November 1991
Umur : 21 tahun
Kebangsaan : Indonesia
Tinggi : 160 cm
Posisi bermain : Sayap, Gelandang
Klub saat ini : Persisam Putra Samarinda
No Punggung : 23
Nama Bayu Gatra saat ini menjadi bahan perbincangan, itu semua tak lepas dari permainan impresifnya bersama Persisam Putra Samarinda di sepanjang musim. Karena penampilan konsistennya di level Klub, Bayu Gatra kerap dipanggil untuk membela Timnas Indonesia. Baru-baru ini, dirinya tergabung dalam Skuad Timnas U-23, di ajang ISG (Islamic Solidarity Games) 2013.
Seperti yang kita ketahui, di ajang tersebut, Timnas Indonesia U-23 hanya meraih Perak setelah kalah 2-1 atas Timnas Maroko di partai puncak.
Bayu Gatra juga sempat bermain untuk PSSI U-17 yang akan dikirim ke Uruguay. Namun dirinya batal berangkat Uruguay, karena faktor usia dan cedera lutut yang di deritanya.
Bayu Gatra pernah tergabung dalam skuad PON Kaltim, dan sukses mempersembahkan Juara PON XVIII 2012, yang berlangsung di Riau. Memang pemain berpostur 160cm ini, memilik talenta yang luar biasa. Dalama ajang pra musim, Bayu Gatra berhasil membawa Persisam menjadi runner-up Inter Island Cup, setelah kalah adu penalti melawan Sriwijaya FC partai puncak.
Perlu kita ketahui, sebelum bermain untuk Persisam Putra Samarinda, Bayu Gatra pernah membela Persid Jember di tahun 2005 hingga 2007, kemudian hijrah ke Persekabpas Pasuruan pada tahun 2007 hingga 2010.
Nah, di tahun 2010 lah dirinya menjadi bagian dari Persisam Samarinda. Sebelum bermain bersama tim senior, Bayu Gatra sempat menghabiskan waktu 1 tahun bermain untuk Persisam U-21.
Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://aswshare.blogspot.com
http://sbobetindonesia.net
Saturday, November 23, 2013
Universitas Jember
Berasal dari gagasan dr. R. Achmad dengan R. Th. Soengedi dan R. M. Soerachman menjadi cikal bakal Universitas Jember dengan mendirikan perguruan tinggi di Jember.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut pada tanggal 1 April 1957, ketiganya membentuk panitia yang diberi nama Panitia Triumviraat dengan komposisi Ketua dr. R. Achmad; Penulis R. Th. Soengedi, dan Bendahara R. M. Soerachman.
Selanjutnya Panitia Triumviraat ini pada tanggal 5 Oktober 1957 membentuk yayasan dengan nama Yayasan Universitas Tawang Alun (disahkan dengan Akta Notaris tanggal 8 Maret 1958 Nomor 13 di Jember). Yayasan Universitas Tawang Alun inilah yang kemudian mendirikan universitas swasta di Jember dengan nama Universitas Tawang Alun yang kemudian disingkat UNITA. Dalam perjalanannya, ketiga tokoh tersebut mendapatkan dukungan penuh Bupati Jember saat itu, R. Soedjarwo.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP No. 151 Tahun 1964 tanggal 9 Nopember 1964, tentang didirikannya Universitas Negeri di Jember. Usaha tanpa kenal lelah sejak tahun 1957 itu akhirnya berhasil menjadi kenyataan, Universitas Negeri Djember berdiri !
Pada awal berdirinya pada tahun 1964, Universitas Negeri Djember yang disingkat UNED, memiliki lima fakultas, terdiri dari Fakultas Hukum di Jember, dengan cabangnya di Banyuwangi, Fakultas Sosial dan Politik dan Fakultas Pertanian di Jember, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sastra di Banyuwangi. Dengan rektor pertama dijabat oleh dr. R. Achmad.
Kepemimpinan dr. R. Achmad dilanjutkan oleh Letkol. Soedi Harjohoedojo (1967-1969), Letkol. Soetardjo, SH (1969-1978) dan Kol. Drs. H. R. Warsito (1978-1986). Baru semenjak tahun 1986, rektor Universitas Jember dijabat oleh sivitas akademika-nya sendiri, yakni oleh Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa (1986-1995), Prof. Dr. Kabul Santoso, MS (1995-2003), Dr. Ir. T. Sutikto, MSc (2003-2011) dan Drs. Moh. Hasan, Msc Ph.D (2012 sampai sekarang).
Didirikan 4 November 1957
Jenis Perguruan tinggi negeri
Rektor Dr. Ir. Tarsicius Sutikto, M.Sc.
Lokasi Jember, Indonesia
Status: Negeri
Alamat : Jl. Kalimantan II/24, Kampus Bumi Tegal Boto, Jember 68121, Jawa Timur
Telepon : (0331) 330224, 336870, 337422, 339029
Faks. : (0331) 339029, 337422
Website: www.unej.ac.id
Rektor: Dr.Ir. T. Sutikto, M.Sc
Masa jabatan :2003-2007
Profil
Jenjang pendidikan: D2, D3, S1, Pascasarjana
Jumlah mahasiswa: 17.729 (S1 : 12.472, Diploma: 4652, S2: 605); 2004/2005: 18.179 (S1: 12.859, Diploma: 4.818, S2: 502)
Jumlah lulusan: 2.654 (S1: 1.613, Diploma: 863, S2: 88); 2003/2004: 3.461 (S1: 1.874, Diploma: 1.367, S2: 220)
Jumlah pendaftar, 2003/2004: 21.792
(SPMB: 15.215, PMDK: 2.237, Lokal: 4.340);
2003/2004: 19.735 (SPMB: 14.608, PMDK: 1.937, Lokal: 3.190)
Jumlah mahasiswa diterima, 2003/2004: 4.414 (S1: 2.628, Diploma: 1.619, S2: 167);
2004/2005: 3.966 (SPMB: 1.651, PMDK: 620, Lokal: 1.695)
Jumlah alumni: 41.618; 2004: 45.986
Ikatan alumni: Keluarga Alumni Universitas Jember (KAUJE)
Jumlah dosen tetap: 868 (S1: 314, S2: 484, S3: 70, Profesor: 21); 2004: 909 (S1: 300, S2: 525, S3: 84, Profesor: 19)
Luas kampus: 940.839 m2
Universitas Jember (Unej) tengah menyiapkan empat program studi baru. Keempat program studi baru itu adalah Program Studi Teknik Pertambangan, Teknik Industri Pertanian, Teknik Informatika, dan Teknik Lingkungan.
Tujuan pembukaan empat program studi baru itu, untuk mendukung program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI yang merupakan rujukan pembangunan ekonomi Indonesia.
Lulusan keempat program studi baru itu diharapkan menjadi sumber daya yang kompeten untuk mendukung MP3EI, terutama di Indonesia bagian timur. Sebagai salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur, Unej mengemban tugas dan peran untuk menyediakan sumber daya manusia sesuai koridor ekonomi yang dituju dan potensi daerah.
Sumber :
http://www.tempo.co
http://www.unej.ac.id
http://www.kampus-info.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Lokasi kota Jember di timur propinsi Jawa Timur Layout Peta kota Jember Kecamatan dari kota Jember
-
Tato merupakan sebuah grup musik asal Indonesia yang berdomisli di Jember. Grup musik ini dibentuk pada tahun 1996. Anggotanya berjumlah ...
-
Daun Tembakau dan Ragam Tumbuhan Jadi Motif Khas Batik Jember Batik Jember menjadi salah satu kerajinan khas Jawa Timur yang dipamerkan...
-
Dr. Syafiq Riza Hasan Basalamah, Lc., M.A. (lahir 15 Desember 1977) adalah seorang ustadz Salafi, dosen, dan penulis yang berasal dari Jembe...
-
Situs Duplang, Artefak Zaman Megalithikum Di Kabupaten Jember 3 July 2019 Situs Duplang – Indonesia dikenal oleh masyarakat dunia sebagai n...






