Wednesday, April 14, 2021

Bubah Alfian

Dari Jember Mengejar Amerika

Coba ketik nama Bubah Alfian(31) dalam mesin pencarian Google, hasilnya adalah deretan nama artis-artis papan atas yang menjadi ‘pelanggannya’. Ada Marsha Timothy, Raisa, Anggun, Sophia Latjuba, Nadya Hutagalung, Agnez Mo, dan masih banyak lagi. 

Nama-nama besar yang menjadi milestone Bubah hingga menempatkannya sebagai make up artist (MUA) tanah air paling dicari saat ini. 

Tak hanya deretan nama artis tanah air, kemampuan pria kelahiran 31 Mei 1987  ini untuk ‘bermain’ di kanvas wajah juga membuat ia dipercaya mendandani selebritas internasional, seperti Pia Wurtzbach (Miss Universe 2016) dan Demi-Leigh Nel-Peters (Miss Universe 2017), hingga supermodel internasional Tyra Banks. 

Tapi, siapa sangka, sebelum menjejakkan langkahnya menjadi salah satu MUA ternama Indonesia, Bubah harus menghadapi banyak kerikil dalam hidupnya. Setelah lulus SMA di Jember, sekitar tahun 2006, tante yang membesarkannya, Hanik Nurdiana, yang ia panggil Mama, mendorongnya belajar tata rias rambut kursus Rudi Hadisuwarno di kotanya, ia seperti menemukan bakat terpendam yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. 

Bubah lalu magang di salon kecil di kampung  halamannya demi mengejar pengalaman dan membuka jasa memasang hair extension, yang saat itu sedang nge-trend. 

“Saya dibayar Rp5.000, padahal harga rambutnya saja Rp6.000. Mungkin rugi, tapi pengalaman ini bukan hal yang bisa dibeli dengan uang,” kenangnya.

Sejak tahun 2007, Bubah juga aktif di organisasi Jember Fashion Carnival, tempat ia belajar tentang tata rias wajah, rambut, hingga membuat kostum aneka ragam dalam bentuk yang meriah. 

Setelah cukup pengalaman, Bubah membuka salon kecil di Jember tahun 2009. Sayang, keseriusannya untuk menggeluti bisnis di bidang kecantikan ini menuai komentar pedas dari banyak orang, bahkan keluarganya sendiri.

Bubah mengakui, pria yang bekerja di salon kecantikan masih sering distigma kecewek-cewekan. Masih hangat diingatan Bubah, orang-orang yang memandangnya sebelah mata dan mencibirnya. Namun, cibiran dari keluarga sendiri, terasa lebih menyakitkannya. 

“Terkadang membuat saya menangis,” ungkap anak tunggal dari Ely Nur Amalia ini. 

Tekad besar untuk menjadi seorang MUA profesional membuat Bubah tak mau mengalah pada tatapan sinis orang lain. 

“Saya anggap cibiran atau tawa mereka adalah pecutan motivasi agar saya bisa berkarya lebih baik lagi,” katanya, optimistis. 

Hingga ia akhirnya lebih bersemangat untuk mengembangkan kariernya di luar kota kelahirannya. Ia lalu mencoba peruntungan di battlefield yang lebih luas, pergi ke Jakarta dengan mengikuti kompetisi Gading Beauty Awards 2011. 

“Saat itu, buat modal ke Jakarta saya jual laptop dan dapat uang Rp2,5 juta yang saya pakai untuk ongkos. Mama saat itu sebenarnya tidak setuju dengan rencana saya,” katanya. 

Tak memiliki banyak kenalan di Jakarta, beruntung Bubah mendapat tumpangan tinggal di rumah Adi Mulyadi, seorang desainer kebaya. 

“Kak Adi juga meminjamkan saya alat make-up untuk mengikuti berbagai kompetisi kecantikan di Jakarta,” cerita Bubah. 

Sebutan ‘kerasnya hidup di Jakarta’ benar-benar dirasakan Bubah. Demi menyambung hidup, ia harus kerja ekstra keras. Dalam sehari ia bekerja 20 jam, dengan libur hanya 4 hari selama setahun penuh. Dengan sepeda motor, Bubah menghampiri klien yang akan ia dandani.

Tas-tas make-up besar memenuhi bangku belakang dan depan motornya. 

“Terkadang, jika sedang merias model untuk pemotretan majalah, saya malu. Takut modelnya mencium 'bau matahari'. Karena, ke sana kemari saya naik motor,” kata pria yang di awal kariernya kerap menjadi MUA untuk pemotretan di Femina Group hingga 3 kali sehari.

Mendapatkan kesempatan bekerja di majalah gaya hidup dan rekomendasi dari teman sesama MUA yang sudah lebih senior, mengantarkan Bubah bertemu dengan banyak artis yang kini menjadi pelanggan setianya. Mulai dari model, selebritas papan atas, hingga tawaran make-upuntuk acara internasional seperti America’s Next Top Model musim ke-20 (2013).

“Profesi ini memungkinkan saya bertemu banyak orang hebat dalam pekerjaan saya. Dari sinilah jalan mulai terbuka lebar,” ungkap Bubah, yang bersyukur, setelah menjadi MUA hidupnya berubah membaik, hingga bisa memiliki tempat tinggal di bilangan Kuningan, Jakarta.

Mimpinya besar! Ketika banyak orang menyemangatinya untuk mulai melebarkan sayap, Bubah pun bercita-cita untuk bisa masuk ke panggung internasional. 

“Tahun ini target saya bisa masuk sebuah agensi make-up artist di New York atau Los Angeles. Karena, jika sudah bisa masuk agensi, akan lebih mudah mendapatkan kesempatan mendandani bintang-bintang internasional. Doakan, ya.


Sumber :

https://www.femina.co.id/profile/bubah-alfian-dari-jember-mengejar-amerika

No comments:

Post a Comment

Related Posts