Sunday, April 22, 2018

Batik Meru Betiri


Ini Dia Yang Baru dari Jember, Batik Meru Betiri

Kabupaten Jember Jember mempunyai batik tulis khas yakni batik Meru Betiri. Batik tulis itu diproduksi oleh ibu-ibu di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember yang merupakan desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).

Perkenalan dan peluncuran batik Meru Betiri dilaksanakan Selasa sore, 20 Maret 2018, di balai Desa Wonoasri. Terdapat 13 motif batik yang semuanya bersumber dari kekayaan hayati TNMB. Semua batik tulis Meru Betiri karya ibu-ibu Desa Wonoasri adalah batik tulis yang menggunakan pewarna alami.

Supmini Wardhani, desainer kelompk itu, mengatakan ada 13 motif batik Meru Betiri yang telah dibuat. Misalnya: motif bunga raflesia, cabe jawa, dan blarak atau daun kelapa. Sementara motif elang Jawa, sisik trenggiling, dan macan tutul mengambil dari fauna yang menghuni TNMB.

“Ada juga motif perpaduan antara flora dengan fauna, yakni tawon raflesia,” ujar Supmini Wardhani Pembentukan kelompok pembatik ini difasilitasi para peneliti Universitas Jember.

Kelompok Kehati Meru Betiri beranggotakan 46 anggota yang telah mendapatkan pelatihan membatik selama 14 hari. Mereka mendapat bimbingan dari Soediono (Sanggar batik Godhong Mbako, Jember).

Semua batik diproses dengan pewarnaan alami tanpa bahan kimia. Untuk mendapatkan warna hitam mereka menggunakan akar dan batang tanaman mangrove. “Lalu warna merah dari daun jati, warna krem dari daun tumbuhan Putri Malu, serta pewarna alami lainnya yang tersedia di lingkungan sekitar kami,” tutur Aris Rudiarso yang bertugas memberikan warna setelah kain batik selesai di canting.

Untuk mendapatkan pewarnaan yang maksimal, selembar kain harus melewati proses pewarnaan minimal enam kali pencelupan. Dan setiap kali proses pewarnaan membutuhkan waktu sekitar 36 jam.

Itu hanya untuk satu warna saja. Jadi prosesnya makin lama jika dalam selembar kain batik ada dua warna atau lebih. “Penggunaan pewarna alami inilah yang membuat batik produksi kami umumnya bernuansa warna pastel, tidak ada warna yang mencolok,” kata Aris Rudiarso lagi.

Solikin, staf di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jember mengatakan batik tulis dengan pewarnaan alami memiliki peluang pasar menjanjikan, terutama di pasar luar negeri. “Batik tulis seperti ini jika sudah masuk butik di Surabaya atau Jakarta harganya minimal Rp 750 ribu hingga 1 juta rupiah,” kata dia.

Ketua Program Mitigasi Berbasis Lahan Universitas Jember, Wachju Subchan mengatakan pemberian pelatihan membatik kepada ibu-ibu di Desa Wonoasri ITU bertujuan memberikan ketrampilan untuk mencari tambahan pemasukan. “Program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan tidak hanya melakukan rehabilitasi hutan saja, tetapi juga memberikan berbagai keterampilan yang berbasis pada potensi desa seperti pembuatan jamu, budidaya semut rang-rang dan batik tulis ini," kata dia.

Sumber :
https://www.msn.com/id-id/travel/other/ini-dia-yang-baru-dari-jember-batik-meru-betiri/ar-BBKxtpI


Perkenalkan: Inilah Batik Tulis Meru Betiri

Para perempuan Desa Wonosari, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur memproduksi 13 motif batik tulis khas Meru Betiri. Desa tersebut merupakan desa penyangga Taman Nasional Meru Betiri.

Batik tulis ini merupakan bagian dari sub program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan yang diselenggarakan Universitas Jember dengan dukungan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan USAID.

Motif-motif tersebut didesain Kehati Meru Betiri, kelompok pembatik yang pembentukannya difasilitasi para peneliti Universitas Jember.

Kelompok ini beranggotakan 46 anggota dan telah mendapatkan pelatihan membatik selama 14 hari oleh Soediono dari sanggar batik Godhong Mbako, Jember. 

Supmini Wardhani, desainer kelompok mengatakan, 13 motif batik bersumber dari kekayaan flora TNMB, seperti motif bunga raflesia, cabe jawa, dan blarak atau daun kelapa. "Sementara motif elang Jawa, sisik trenggiling, dan macan tutul mengambil dari fauna yang menghuni TNMB, ada juga motif perpaduan antara flora dengan fauna, yakni tawon raflesia," katanya, sebagaimana dilansir Humas dan Protokoler Universitas Jember.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha TNMB Khairunnisa mengatakan, motif batik tersebut mengangkat potensi taman nasional. TNMB berrencana mengembangkan program wana wisata dengan objek flora dan fauna, pantaim hingga air terjun.

"Dengan adanya produk batik khas Meru Betiri, harapan kamipara wisatawan bakal lebih tertarik untuk datang. Apalagi Desa Wonoasri ini adalah gerbang menuju TNMB,"kata Khairunnisa.

Khairunnisa mengusulkan agar para pembatik memperhatikan detail motif flora dan fauna penghuni TNMB. "jadi benar-benar khas dan berbeda dengan batik tulis lainnya," katanya.

sumber :
http://beritajatim.com/gaya_hidup/324240/perkenalkan:_inilah_batik_tulis_meru_betiri.html


Batik Meru Betiri dan Budidaya Semut Rangrang Cita-cita Warga Wonoasri Jember

Inisiatif mulia yang diprakarsai oleh The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Universitas Jember dan Taman Nasional Meru Betiri, patut diberi apresiasi tinggi.

Pelatihan yang diberikan kepada masyarakat melalui produksi Batik Meru Betiri dan Budidaya Semut Rangrang menjadi sebuah representasi untuk mewujudkan cita-cita memberdayakan masyarakat Desa Wonoasri,Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember untuk menjadi lebih lebih baik.

Dikenal sebagai batik baru di Kabupaten Jember, produksi Batik Meru Betiri yang diproduksi sanggar Batik Warna Alam Kehati Meru Betiri ini terus menunjukkan tren perkembangan. Selaras dengan tingginya antusias dari para ibu rumah tangga di Desa Wonoasri.

Sukmini Wardani selaku anggota sanggar sekaligus designer batik Meru Betiri, merasa mengaku sangat bangga dengan pencapaian hasil karya menunjukkan gairah produksi yang tinggi.

"Produksi batik ini sangat membantu finansial ibu-ibu. Paling tidak ada masukan untuk mereka," ujar Sukmini saat ditemui di Rumah Produksi Batik di Jalan Majapahit Gg 8 RT 8 RW 4 Kraton Wonoasri, Jember, (1/4/2018).

Batik Meru Betiri memiliki nilai seni tinggi dan dari segi bahan baku terbuat dari bahan-bahan alami yang ramah lingkungan, maka dari itu batik ini memiliki nilai jual tinggi mulai Rp 150.000 sampai dengan Rp 450.000.

"Tidak pernah menyangka sebelumnya goresan saya bisa terjual. Intinya saling melengkapi, karena goresan saya tidak ada artinya tanpa tangan ibu-ibu dan tim pewarna," katanya riang.

Tak hanya batik Meru Betiri,Budidaya Semut Rangrang atau Angrang menjelma menjadi profesi sampingan yang cukup prospektif secara ekonomi bagi masyarakat Desa Wonoasri, Kabupaten Jember.

Budidaya tersebut menghasilkan kroto sebagai pakan burung berkicau.

Baca: Ditemukan Cacing dalam Produk Ikan Makarel Kaleng, MUI Tak akan Cabut Label Halal

Perawatan dalam budidaya ini relatif mudah dan sederhana. Untuk pakan, cukup dengan memberikan belalang, jangkrik, tulang ayam, ikan dan air gula. Sehingga mudah dibudidayakan.

 Wachju Subchan selaku ketua ICCTF Universitas Jember turut terjun ke lapangan dengan menanyakan perkembangan budidaya semut rangrang kepada peternak (1/4/2018).

Pihaknya juga memberikan evaluasi mengenai perawatan dan memberikan dukungan terhadap warga agar supaya telaten dalam merawat budidaya semut rangrang tersebut.

"Kata kuncinya telaten, harapannya kedepan masyarakat bisa melihat kisah sukses salah satu budidaya dan masyarakat lain mengikuti" terang Wachju.

Hasil dari budidaya semut rangrang ini cukup bernilai, Wachju mengatakan harga per kilogram kroto dihargai
Rp 120.000 di pasaran, dengan panen yang lebih cepat.

Baca: Syifa Adik Ayu Ting Ting Pamer Foto Kondangan Bareng Pacar, Sepatu Sang Kekasih Malah Bikin Ngakak!

"Harga kroto per kilogramnya lebih tinggi dari harga ikan ayam. Panennya pun lebih cepat," kata Wachju saat mengunjungi Desa Wonoasri, Jember.

The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Universitas Jember dan Taman Nasional Meru Betiri terus berinovasi dalam memajukan masyarakat sekitar Taman Nasional sebagai langkah maju memandirikan perekonomian masyarakat.


Sumber :
http://jatim.tribunnews.com/2018/04/02/batik-meru-betiri-dan-budidaya-semut-rangrang-cita-cita-warga-wonoasri-jember?page=all.

Sumber foto :
http://pojokpitu.com/baca.php?idurut=61931&&top=1&ktg=J