Saturday, March 23, 2013

Anang Hermansyah


Lahir 18 Maret 1969, Jember, Jawa Timur, Indonesia
Pekerjaan : Penyanyi, pencipta lagu, produser rekaman, produser film, pengusaha
Instrumen : Vokal, gitar
Tahun aktif : 1989–sekarang
Situs web : www.ananghermansyah.com

Anang Hermansyah adalah seorang penyanyi dan musisi berkebangsaan Indonesia. Anang yang beragama Islam dan berdarah Madura ini adalah mantan suami dari penyanyi pop tenar, Krisdayanti. Sejak 2007, Anang menjadi salah satu juri untuk acara adu bakat menyanyi, yakni Indonesian Idol

-----------------

Aku lahir dan besar di Kota Jember yang damai dan sederhana. Hidup di kota kecil membuatku terbiasa dengan pola pikir yang lurus-lurus saja. Ditambah pengaruh pendidikan santri dari ayahku, Alm. H. Abdul Choliq Wijaya dan ibuku Dra. Hj. Anissa Choliq, aku pun tumbuh menjadi anak dengan bekal agama yang cukup.

Aku terlahir pada 18 Maret 1969, sebagai anak kedua dari 3 bersaudara. Meski kami tinggal di tengah kota, aku akrab dengan segala permainan kampung, seperti bermain di sungai dan gunung. Maklum saja, waktu itu Jember tak sebesar kota lain.

Bapakku adalah seorang anggota legislatif merangkap pengusaha lokal di Jember. Beliau menjalani tugas sebagai wakil rakyat sambil mengelola toko yang menjual pakaian, sepatu, dan busana muslim. Di sela kesibukannya, Bapak mendidik kami bertiga dengan kedisiplinan yang tinggi.

Terlepas dari itu, Bapak sangat mementingkan pendidikan agama bagi anak-anaknya. Kebetulan, dari garis keturunan Bapak dan Ibu memang kental dengan dunia santri. Kalau aku tak mau mengaji, Bapak pasti marah.

Bila diingat, sejak kecil aku ini bandel sekali. Aku malas belajar, suka ribut, sering bolos sekolah. Bahkan waktu kelas 5 SD, aku pernah tercebur ke sungai dan hanyut beserta sepeda yang kukendarai. Untungnya aku diselamatkan orang di kampung.

Menginjak kelas 2 SMP, aku mulai diperkenalkan kepada dunia musik oleh kakakku, Moch. Agus Burhansyah yang usianya 4 tahun lebih tua dariku. Kebetulan, saat itu kakakku adalah penyanyi jazz di Jember yang lumayan aktif. Saat latihan maupun manggung, aku sering diajak, meski kerap kali harus pulang larut malam. Entah kenapa, aku senang sekali setiap melihat pertunjukan kakakku.

Saat itu pula, aku mulai tertarik pada dunia menyanyi. Menurutku menyanyi adalah profesi yang sangat menarik. Melihat kegemaranku, orangtuaku sempat menentang. Maklum, orangtuaku selalu ingin pendidikan anak-anaknya selesai.Tapi lagi-lagi, meski ditentang, aku tetap membandel.

Di awal SMA, kebandelanku semakin menjadi. Bisa dibilang, kerjaku cuma menyanyi dan trek-trek-an (balap motor jalanan, Red .) saja. Perlahan, aku mulai tidak peduli dengan pelajaran sekolah, hingga akhirnya di SMA kelas 2 aku dinyatakan tidak naik kelas. Akibat tidak naik kelas itulah, orangtua memindahkanku ke SMA 4 Surabaya.

Aku pun tinggal bersama kakakku yang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Setelah pindah dan ikut kakak, hidupku mulai berubah jadi lebih teratur. Aku pun hidup mengikuti cara hidup kakakku, belajar dan sekolah lebih benar. Hidupku jadi lebih tertib dan tidak nakal.

Meski demikian aku tetap tidak melepaskan dunia musik. Aku tetap aktif nge-band di sekolah. Aku bahkan pernah menjadi penyanyi solo rock terbaik se-Jawa Timur, saat perlombaan band rock se-Jawa-Bali. Aku lulus SMA pada 1989.

Selulus SMA, aku mengikuti SIPENMARU dan memilih jurusan Ekonomi di Universitas Airlangga dan Universitas Jember. Sayangnya, 3 kali mencoba, semuanya gagal. Akhirnya aku memilih mengambil jurusan Ekonomi di Universitas Islam Bandung (Unisba).

Pilihan untuk kuliah di Unisba, bagiku hanyalah formalitas saja. Ya, orang tuaku memang menginginkanku melanjutkan kuliah. Tapi aku sengaja memilih Bandung karena diam-diam, aku memang menyimpan angan-angan untuk bisa ke Jakarta karena alasan kecintaanku terhadap musik.

Selama di Bandung, aku aktif nge-band di kampus. Dan sejak kuliah pula aku mulai mencari penghasilan dari musik dengan menyanyi di cafe. Suatu saat, aku pernah dikenalkan seorang kawan kepada Doel Sumbang. Anang baru serius bermusik dengan bergabung dalam sanggar milik Doel Sumbang. Anang bahkan sempat membuat rekaman bersama Doel Sumbang, meski akhirnya tidak dipublikasikan.

Ini kian membulatkan tekadku ke Jakarta dan bertemu seniman-seniman musik lainnya, seperti Pay (Pay Siburian, anggota SLANK saat itu, Red .).

Setelah lebih intens ke musik, akhirnya kuputuskan untuk berhenti kuliah dan total ke musik. Jadi, aku cuma kuliah sampai semester 5, lalu berhenti untuk merantau ke Jakarta. Meski tak ada kata yang terlontar, aku bisa merasakan kekecewaan Ibu. Ketika itu, Ibu hanya bilang, “Ya sudah, kamu mau apapun, tidak apa-apa. Tapi sekarang kamu harus tetap mengejar cita-cita kamu dan bertanggung jawab sebagai laki-laki.”

Sesampainya di Jakarta , aku sadar, aku sudah tidak pantas lagi meminta uang kepada orangtua. Menurutku, karena keinginanku sudah tidak seusai dengan keinginan Bapak, maka sebagai konsekuensi, aku tidak akan minta uang kepada mereka lagi.

Apapun kulakukan untuk menyambung hidup, asalkan halal. Kala itu, aku sempat menjadi sopir pribadi, menjaga rumah orang, hingga ngamen di jalan. Walau hidup sulit di Jakarta, aku tak pernah menginformasikan apa yang aku jalani kepada orangtua. Aku cuma bilang, aku akan jadi penyanyi. Dan aku janji, baru akan pulang kalau sudah berhasil bikin album.

Malang melintang di ibukota, aku banyak ditolong oleh seorang sahabatku, Dani. Dia lah yang menawarkanku untuk menjaga rumah dan menjadi sopir pribadi. Sejak itu aku pindah ke Blok M dan tinggal di sana selama setahun. Kalau lapar dan tak punya uang, aku mengamen menyanyikan lagu apa aja. Sehari aku bisa dapat Rp 10 ribu, cukup untuk menyambung hidup. Tapi itu cuma insidentil saja. Setelah bertemu macam-macam orang, aku sudah tak ngamen lagi.

Setelah berhasil berkenalan dengan Pay, aku dibawa masuk ke Potlot. Di sana aku diajarkan macam-macam soal musik. Mulai dari bagaimana cara membuat lagu, menyanyi dan cari uang lewat musik. Kuakui, Potlot memberi banyak andil dalam karierku.

Selama 2 tahun hidup di Potlot, kehidupanku sangatlah seru. Aku jadi kreatif, ditunjang dari peralatan yang lengkap. Tempat latihan ada, sekaligus aku bisa berinteraksi dengan seniman musik. Setiap hari kami bisa brainstorming , mengarang lagu, bahkan semua jenis musik ada di sana. Semua musik pun sudah aku coba. Pop, rock hingga Melayu.


Setelah sering berlatih dan mencipta lagu, akhirnya aku bergabung dengan grup Kidnap dan membuat album berjudul Katrin  (1993). Sebelumnya aku juga pernah membuat proyek album bersama Pay. Dengan modal Rp 1 juta dari Dani, sahabatku, aku membuat demo lagu bersama Pay dan mecoba menjual album itu ke mana-mana.


Setelah banyak ditolak hampir seluruh label di Jakarta, akhirnya album itu diterima juga oleh Pak Handi Santoso dari Musica Studio. Menurutku, kala itu Pak Handi hanya kasihan saja. Apalagi di masa itu, jenis lagu yang lagi naik daun adalah Melayu, sedangkan aku membawa lagu pop biasa.

Tapi terbukti, aku salah, dan feeling  Pak Handi memang bagus. Lagu Biarkanlah , dari album solo-ku, meledak di pasaran. Dan sesuai janjiku, setelah album Biarkanlah diluncurkan, aku pulang ke kampung halaman mengunjungi orangtuaku.

Setelah lepas dari Kidnap, Anang memutuskan untuk menempuh jalur solo dan mengeluarkan album, antara lain Biarkanlah, Lepas, Melayang dan Tania. 


Bersama istrinya, Krisdayanti Krisdayanti (22-Agu-96 - 22-Okt-09), Anang mengeluarkan album Cinta, Kasih, Buah Hati dan Makin Aku Cinta. 


Setelah ia bercerai dengan Krisdayanti, ia merilis albumnya Separuh Jiwaku Pergi. 


Ia juga berduet dengan Syahrini dalam lagu Jangan memilih aku. Lagu ini berhasil mencetak sukses besar. Ia lalu juga menyanyikan lagu duet kedua yang berjudul Cinta Terakhir dengan Syahrini.


Tahun 2011 ia mengakhiri duetnya dengan Syahrini dan menggandeng Ashanty sebagai rekan duetnya yang baru. Hubungan mereka berkembang lebih dari sekedar teman duet menjadi sepasang kekasih dan akhirnya menikah. Pasangan Anang dan Ashanty mengeluarkan album yang bertajuk Jodohku dan melahirkan 2 hits Menentukan Hati dan Jodohku

Selain sukses menyanyi, Anang juga menjadi pencipta lagu, aranjer sekaligus produser untuk beberapa penyanyi, termasuk untuk sang istri, Krisdayanti, sambil mengelola Studio Hijau, studio rekaman miliknya. Anang juga sukses menggelar Konser 3 Diva, yang melibatkan istrinya, Krisdayanti, serta Titi DJ dan Ruth Sahanaya.

Tak hanya di dunia seni tarik suara, Anang juga melebarkan sayap di dunia seni peran dengan memproduseri film berjudul "Susahnya Jadi Perawan". Film ini didukung oleh Restu Sinaga, Nova Eliza, Al Fathir Muchtar, Olga Syahputra, Tio Pakusadewo, Julia Perez dan Emmie Lemu.

Anang bersama sejumlah musisi beken, seperti Indra Lesmana, Abdi Negara, dan Triawan Munaf, bergabung untuk mendirikan portal musik. Portal tersebut diberi nama IM:port (Independent Music Portal). IM:port bertujuan memberi kesempatan kepada semua musisi, baru dan senior, untuk 'menjual' karya-karya mereka secara lebih mudah ketimbang melalui prosedur label yang dikatakannya sebagai 'cukup ruwet.'

Anang menikah dengan Krisdayanti pada tanggal 22 Agustus 1996. Dari pernikahan tersebut mereka mempunyai 2 orang anak, Titania Aurelie Nurhermansyah (lahir tahun 1998) biasa dipanggil Aurel atau Loli dan Azriel Akbar Hermansyah (lahir tahun 2000) biasa dipanggil Azriel atau Jiel. Sejak awal pernikahan mereka sering kali dilanda gosip. Meski demikian telah 13 tahun berlalu, akhirnya pasangan ini bercerai secara agama bulan Agustus 2009, kemudian bercerai secara hukum pada November 2009.

Pada tanggal 25 Februari 2012 Anang resmi melamar Ashanty. Akad nikah telah dilangsungkan pada tanggal 12 Mei 2012.

Diskografi

Album solo
Biarkanlah (1992)
Lepas (1994)
Melayang (1996)
Tania (1999)
Jati Diri (2001)
Mata Cinta (2003)
Separuh Jiwaku Pergi (2009)

Album duet
Cinta (1996)
Kasih (1997)
Buah Hati (1998)
Makin Aku Cinta (2001)
Menuju Terang (2002)
Sepuluh Tahun Pertama (2006)
Dilanda Cinta (2009)
Jangan Memilih Aku (2010)
Jodohku (2011)

Filmografi
Baik-Baik Sayang (2011)


Sumber :
wikipedia.com
tabloidnova.com